Srikandi Kesehatan dan Pejuang Kemanusiaan, Inilah Sosok Nafsiah Mboi: Sang Pelopor Penanggulangan HIV/AIDS yang Mengabdi Hingga Usia Senja

EXPONTT.COM – Nama Andi Nafsiah Walinono Mboi adalah simbol ketulusan pengabdian yang melampaui batas usia dan geografi. Beliau mencatatkan sejarah pengabdian yang sangat fundamental: ia menjabat sebagai Menteri Kesehatan Indonesia (2012–2014) serta merupakan peraih penghargaan internasional bergengsi Ramon Magsaysay Award. Lahir di Sengkang, Sulawesi Selatan, pada 14 Juli 1940, dokter spesialis anak lulusan Universitas Indonesia ini dikenal sebagai pejuang hak asasi manusia yang mendedikasikan hidupnya untuk mengangkat derajat kesehatan masyarakat di wilayah tertinggal.
Namun, di balik jabatannya sebagai menteri tertua dalam sejarah Indonesia (menjabat di usia 71 tahun), tersimpan rekam jejak perjuangan yang dimulai dari pelosok Nusantara. Perjalanan hidup Nafsiah Mboi adalah bukti bahwa dedikasi sejati tidak mengenal kata pensiun. Bersama suaminya, Ben Mboi, beliau memulai pengabdian nyata saat suaminya menjabat sebagai Gubernur Nusa Tenggara Timur (1978–1988). Di sana, beliau turun langsung ke desa-desa untuk memerangi kemiskinan dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak, sebuah kerja keras yang diakui dunia internasional sebagai salah satu model pembangunan masyarakat terbaik.

Awal Karier dan Titik Balik di NTT
Karier beliau tidak langsung melejit di ibu kota, melainkan ditempa oleh realitas sosial di lapangan. Sebagai istri gubernur sekaligus dokter, Nafsiah tidak hanya mendampingi secara seremonial, tetapi menjadi penggerak utama program-program kesehatan sosial. Pengalamannya di NTT membawanya menjadi tokoh penting di tingkat global, termasuk dipercaya sebagai ketua Komite Hak-hak Anak untuk PBB. Intelektualitasnya semakin terasah melalui pendidikan di Institute of Tropical Medicine, Belgia, dan program penelitian di Harvard University, Amerika Serikat.

Pendekar Advokasi HIV/AIDS dan Menkes yang Energik
Sumbangsih terbesar Nafsiah bagi kesehatan nasional adalah keberaniannya menyuarakan isu-isu sensitif, terutama penanggulangan HIV/AIDS. Sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, beliau mempelopori Komitmen Sentani 2004 yang menyatukan langkah pemerintah dalam menangani epidemi ini secara manusiawi dan saintifik. Ketika amanah menjadi Menteri Kesehatan datang di usia 71 tahun, beliau membuktikan bahwa energi dan ketajaman berpikirnya tidak luntur, dengan melanjutkan reformasi kesehatan yang inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia.
Nafsiah Mboi berasal dari keluarga intelektual Bugis yang terpandang; ayahnya adalah seorang hakim dan adik kandungnya adalah tokoh lingkungan Erna Witoelar. Beliau adalah teladan nyata bahwa gelar dokter bukan sekadar profesi, melainkan jalan untuk melayani kemanusiaan. Hingga kini, sosoknya tetap menjadi inspirasi sebagai pemimpin yang tegas, cerdas, dan memiliki empati mendalam terhadap hak-hak perempuan serta anak-anak di Indonesia.

Sumber: [Wikipedia Bahasa Indonesia] – “Nafsiah Mboi”