Melki Laka Lena: Kepakaran Prof. Wem Djani akan Berperan Penting untuk Pembangunan NTT
EXPONTT.COM, KUPANG – Profesor Dr. Drs. William Djani, M.Si, dikukuhkan sebagai Guru Besar Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.
Prof. William Djani dikukuhkan dalam Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Pengukuhan Guru Besar Undana yang digelar di Grha Cendana Undana Kupang, Rabu, 8 April 2026.
Prof. William Djani dikukuhkan menjadi Guru Besar Kepakaran Reformasi Kebijakan dalam Pembangunan Kesehatan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Undana Kupang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 1579/M/KPT.KP/2026 tentang Kenaikan Jabatan Akademik /Funsgsional Dosen yang menetapkan Lektor Kepala William Djani sejak tanggal menjadi Profesor/Guru Besar dalam ranting/ kepakaran ilmu Reformasi Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
Dalam orasi ilmiahnya, akademisi yang akrab disapa Prof. Wem memaparkan karyanya yang berjudul “Revitalisasi Administrasi Publik dan Reformasi Kebijakan Desentralisasi – Dalam Mewujudkan Good Local Governance”
Dalam kesempatan tersebut, dirinya mengucapkan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Republik Indonesia yang telah mempercayakan dirinya sebagai guru besar dan seluruh civitas Undana Kupang yang selalu mendukung karir akademiknya hingga menuju paripurna.
Selain Prof. William Djani, dikukuhkan juga Prof. Linda Fanggidae dan Prof. Zakarias Seba Ngara sebagai guru besar Undana Kupang. Dengan pengukuhan guru besar kali ini, total Undana telah mencetak sebanyak 79 guru besar.
Rektor Undana Kupang, Prof. Jefry Bale dalam sambutannya, menekankan peran guru besar di tengah arus penggunaan kecerdasan buatan atau artificilan intelegent (AI) yang masif.
Menurutnya peran guru besar tidak bisa digantikan AI. Hal itu karena AI hanya memilki kekuatan algoritma yang berulang, sementara guru besar memilki kecerdasan humanis yang mencalup nurani, empati dan kepekaan yang tak bisa direplika algoritma secanggih apapun.
“Esensi seorang guru besar terletak pada apa yang dalam dunia akademik dikenal sebagai Humanistic Intelegent atau HI, lawan kata yang indah bagi AI,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Jefry Bale menyebut Prof. Wem Djani sebagai pakar yang sangat memahami urat nadi pemerintahan daerah di NTT. Pengabdian Prof. Wem juga telah diakui negara melalui pengalungan Satya Lencana 10 dan 20 tahun.
“Beliau tidak hanya bicara teori di kelas, rekam jejaknya dan keterlibatan dalam menyusun kebijakan dan seleksi pejabat di lingkup Pemprov NTT serta kabupaten/ kota membuktikan ilmu beliau diuji langsung di lapangan,” ujar Prof. Jefry Bale.
Tak hanya itu, pemikiran Prof. Wem Djani juga telag terimplementasi di pemerintahan NTT saat ini lewat MeJa Rakyat atau Melki-Johni Melayani Rakyat.
“Pemikiran Prof. Wem adalah kunci sukses program prioritas seperti ‘MeJa Rakyat’sebagai implementasi birokrasi yang responsif yang menempatkan masyarakat sebagai orientasi dan pusat pelayanan publik,” jelas Prof. Jefry Bale.
Sementara itu, Gubernur NTT, Melki Laka Lena menyebut, kepakaran Prof. Wem di bidang pembangunan kesehatan akan sangat penting untuk memastikan ruang-ruang kesehatan bisa di desain dengan baik.
“Di sini peran Fisip Undana menjadi vital, bukan dari sisi klinis, melainkan dari sisi tata kelola yang perlu dibangun untuk memastikan desain kesehatan kita berjalan dengan baik,” jelasnya.
Menurut Melki Laka Lena pembangunan kesehatan bukan saja dari penambahan jumlah dokter, namun juga memerlukan reformasi kebijakan kesehatan yang radikal berbasis data lokal.
“Kepakaran pembangunan kesehatan akan sangat membantu pemerintah membedah hambatan birokrasi dalam distrubusi jaminan kesehatan dan merancang kebijakan yang preventif dan promotif,” ujarnya.
Dengan bertambahnya guru besar di tiga bidang yang krusial, Melki menyebut Undana telah menegaskan kesiapan secara sisi keilmuan. Untuk itu dirinya berharap kolaborasi antara pemerintah dan dunia akademik bisa terus bersinergi untuk pembangunan NTT yang maju, sehat, cerdas dan berkelanjutan.♦gor








