Kecemasan Januari 2021

zona merah kota kupang
covid-19

 

RAKYAT Indonesia, memasuki tahun baru 2021 tidak sukaria tetapi cemas. Cemas karena bencana besar. Selain Covid-19 yang semakin ganas, disusul pula gemba bumi di Sulawesi Barat yang memakan korban jiwa dan bangunan. Di NTT pun demikian, umat kristiani khususnya di Kota Kupang baik Gereja GMIT maupun Keuskupan Agung Kupang kegiatan gereja ditiadakan sampai 29 Januari 2021. Suasana terasa mencekam. Di Januari 2021 ini juga Gubernur dan Wakil Gubernur NTT hasil pemeriksaan, positif virus corona. Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat di isilasi di RSPAD Jakarta dan Wakil Gubernur Joseph Nae Soi, isolasi mandiri di rumah pribadi. Akibat positif, Gubernur dan Wakil Gubernur tidak dapat mengikuti vaksinasi 14 Januari 2021 bersama 18 pejabat di halaman kantor gubernur.
Kegelisahan juga menyelimuti warga Kota Kupang akibat kematian karena virus corona ini terus meningkat. Sampai dengan pertengahan Januari 2021 sudah mencapai 632 orang. Wakil Walikota Kupang harus menggelar jumpa pers dalam beberapa kali dalam sepekan Januari 2021 ini. Dengan suara lantang dank eras, Wakil Walikota minta agar warga Kota Kupang mentaati protocol kesehatan, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.
Warga dilarang berpesta, termasuk pemerintah Kota Kupang, dilarang arisan,antri panjang di berbagai kantor pelayanan penting dan semua sekolah dilarang sekolah tatap muka. Aparat keamanan diinstruksi berjaga setidaknya di semua pintu masuk kota Kupang. Yang tidak patuhi protocol kesehatan di minta pulang. Demi keamanan warga dan tidak bertambahnya pasien Covid-19.
Kematian terus bertambah, akibat manusia tidak disipin. Bisa terpantau di sejumlah tempat termasuk pasar, banyak tidak memakai masker, tidak jaga jarak sehingga berpotensi tertularnya virus corona ini. Kematian masal manusia akibat perbuatan dan mental manusia yang tidak disiplin. Mungkin aparat keamanan, TNI POLRI atau Pol PP harus bertindak tegas seperti di India. Petugas keamanan memukul dan menendang warga yang tidak memakai masker atau sedang berkumpul.
Kita sedang dikuasai Virus Corona. Setiap bersua sesama manusia saling curiga, jangan-jangan yang didepan pembawa virus corona. Maka segerala menjauh dan mengambil jarak satu atau dua meter. Walau sudah diperingati dalam kurun waktu hamper setahun ini, tetapi manusia tetap tidak patuh. Saat antri di super market, maunya berdiri rapat, tidak yang tua atau muda. Padaahal sudah diberi tanda batas jarak. Manusia memang melebih binatang. Siapa bilang manusia itu hebat. ♦