Karena Bodoh

 

SIAPA bilang manusia itu mahluk istimewa yang bias mengatur dunia ini, bisa menguasai dunia. Saya dalam catatan kali ini, harus tegaskan bahwa manusia itu perilaku, sifat dan wataknya sama dengan binatang. Mengapa, sekiranya, manusia itu cerdas, manusia itu mencintai kesehatan jiwa dan raganya, sekiranya manusia itu mau taat dan disiplin Covid-19 tidak mungkin makan korban yang pada Januari 2021 ini sudah melebihi angka satu juta jiwa. Korban terus bertambah dari hari ke hari, ini karena manusia bebal, egois dan lebih mementingkan diri, mementingkan kesenangan diri dan tidak memikirkan tentang orang lain. Manusia itu sombong dan mementingkan diri.
Kita orang Indonesia seharusnya belajar dari Negara tetangga Timor Leste yang berbatasan dengan NTT. Di negeri ini, sejak awal Maret dan April 2020 sudah menjalani siaga. Semua orang luar diusir, manusia dilarang masuk ke Timor Leste. Setiap pintu masuk dijaga dengan ketat sehingga Negara zero atau nol kematian akibat covid-19 dari 44 kasus. Ini data awal Januari 2021. Kita mesti belajar dari Malaysia, yang hanya seratus lebih korban jiwa akbat Covid-19.
Sekiranya manusia mentaati protocol kesehatan, pasti bisa minimalisir kematian akibat covid-19. Seorang ayah dan keluarga mantan pejabat penting meninggal hanya karena menggelar pesta keluarga. Keluarga, isteri dan anak positif Covid-19. Di Indonesia pejabat penting apa lagi bergelar gubernur seperti gubernur Bali yang adalah kader PDIP viral dimedia karena merayakan pesta ulang tahun, meniup lilin dengan membuka masker. Ini jelas biadab karena seorang pejabat harus menjadi contoh untuk masyarkat.
Pesta ria masih terlihat dimana-mana padahal korban terus berjatuhan. O manusia.
Sekiranya sabar dan bertahan, covid-19 sudah berlalu. Tetapi karena kesombongan manusia, maka covid-19 semakin merajalea. Padahal, imbauan sederhana, tetaplah diam dirumah, pakai masker, cuci tangan dan jagalah jarak selalu. Tetapi manusia lalai, bodoh dan bebal. Kita semakin terancam dan nyawa taruhannya. Kematian kapan saja, bisa karena covid-19, tanah longsor dan banjir serta bencana lain. Entah kapan berakhir, tetapi saya mengharapkan mulai membentengi diri.
Ya, semoga kabarmu baik lantaran kesehatan jiwa, pikiran dan raga yang terawat. Jiwa, pikiran dan raga adalah milik kita satu-satunya yang melekat erat ke mana pun dan bagaimana pun kondisi kita. Karena itu, merawat jiwa, pikiran dan raga agar tetap sehat tidak akan pernah sia-sia. Gangguan pikiran itu dipicu kabar mengenai Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo yang positif Covid-19.
Pikiran saya terganggu lantaran pertanyaan soal kegunaan protokol kesehatan. Mereka yang disiplin menerapkan protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir dan menjaga jarak (3M) terpapar virus, lantas bagaimana?
Gangguan pikiran itu dikonfirmasi dengan kabar serupa terkait status teman kantor yang dianggap paling disiplin menerapkan protokol kesehatan tetapi juga terpapar virus. Teman-teman satu ruangan yang tampak lebih sembrono dalam menerapkan protokol kesehatan tidak terpapar virus dan lewat swab antigen dinyatakan negatif. Gangguan pikiran ini lantas menggoyahkan pikiran soal kegunaan protokol kesehatan.
Namun, gangguan pikiran ini tidak berlangsung lama. Terpaparnya mereka yang disiplin dengan protokol kesehatan tidak menjadi alasan saya mengendorkan disiplin.
Pelajaran lain bagi kesehatan pikiran saya adalah fakta mengenai mereka yang lebih sembrono dengan protokol kesehatan tetapi tidak terpapar. Meskipun tidak terlihat apakah virus menghampiri mereka yang sembrono atau tidak, ada faktor lain selain protokol kesehatan agar tidak terpapar virus. Faktor lain itu adalah imunitas tubuh yang baik. Imunitas yang baik membuat virus tidak mampu menginfeksi tubuh. ♦