Sekolah Parlemen?

ade-komaruddin

DI saat rakyat sedang dalam kegelisahan akibat didera kemiskinan dan masih melarat Ketua DPR RI Ade Komarudin berbicara lantang rencana busuk tak berperikemanusiaan membangun proyek bernama sekolah parlemen. Kebijakan yang tidak populis dan mendera rasa keadilan rakyat.
Negara ini dibawa kepemimpinan Jokwi-JK membuat kebijakan ekonomi sudah lebih dari 10 jilid. Entah sampai jilid berapa dan sampai kapan Indonesia keluar dari lingkaran beban hutang luar negeri yang sudah melampaui ambang batas. Mungkin Ketua DPR RI Ade Komarudin tidak pernah baca koran, tidak pernah tonton televisi yang menayangkan suasana tak menyenangkan seantero tanah air.
Ade Komarudin dengan pongahnya tanpa beban omong tentang bangunan baru di lingkungan parlemen Senayan yang menelan dana ratusan miliar. Ade Komarudin tidak punya perasaan bahwa omongan dan ucapannya yang disiarkan secara media cetak dan elektronik ditonton rakyat Indonesia yang masih terlilit kemiskinan. Ade Komarudin, sedang tidak paham kondisi infrastruktur di pedalaman pelosok negeri ini yang rusak berat bahkan jalan Negara, jalan propinsi maupun kabupaten berubah bentuk menjadi kubangan.
Menurut hemat saya, kebijakan membangun sekolah parlemen adalah tindakan kejahatan dan tidak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945. Tindakan dan ucapan Ade Komarudin, tidak sesuai bunyi Pancasila ayat lima berbunyi Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Ade Komarudin tidak belajar dari kebijakan pimpinan DPD yang membangun gedung mewah berlantai tiga di semua propinsi yang tidak dapat dimanfaatkan karena dijadikan ruang kosong.
Ade Komarudin tidak paham tugas dan fungsi anggota wakil rakyat. Apakah kehadiran wakil rakyat di Senayan untuk sekolah, apakah wakil rakyat masih bodoh. Dan apakah anggota DPR punya waktu untuk menghadiri sekolah. Apakah Komarudin buta tidak menyaksikan sidang paripurna banyak yang kosong?
Apakah Komarudin buta bahwa Jokowi tak bersedia tandatangan prasasti proyek pembangunan perpustakaan di lingkungan parlemen yang menelan dana capai Rp 900 miliar? Jadi, apakah kebijakan atau wacana membangun sekolah parlemen berperikemanusiaan? Atau Komarudin tidak menonton siaran televisi bahwa sejumlah anggota dewan dari berbagai nfraksi menolak rencana busuk ini?
Lebih konyol lagi Komarudin bilang, sekolah parlemen tidak hanya di bangun di Senayan tetapi akan dibangun di DPRD I dan DPRD II di seluruh Indonesia. Dalihnya, meningkatkan kualitas anggota DPR dan DPRD dimasa yang akan datang. Meningkatkan kualitas para legislator, anggota dewan yang selama ini diharapkan masyarakat berkualitas. Baik fungsi sebagai pembuat UU, penyusun APBN dan fungsi pengawasan?
Ade Komarudin lupa, istilah reses, kunjungan kerja dan studi banding yang sudah menjadi agenda rutin oleh pimpinan dan anggota DPR RI, DPRD I dan DPRD II yang memakan waktu lama, menelan dana yang tak sedikit. Ade Komarudin seharusnya sadar bahwa ucapanmu itu mencederai rasa keadilan rakyat yang masih dililit penderitaan akibat kemiskinan dan kemelaranan yang tak kunjung selesai. Ade Komarudin seharus sadar akan perkataan dan ucapannya salah dan bodoh. Semoga dengan penolakan sejumlah fraksi membangun sekolah parlemen Komarudin  sadar lantas membuat keterangan pers untuk membatalkan sekaligus minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. ♦