September 2026 Genap 47 Tahun Aku Tekuni Profesi Wartawan Dan beberapa Kali “Di Delik Pers Kan” Pejabat dan LSM

Oleh : Wens John Rumung Pa (Jurnalis)

 

EXPONTT.COM – Silahkan kaum jurnalis muda dan masyarakat terutama pejabat simak berita ini sampai selesai
AKU, September 2026 genap 47 tekuni profesi jurnalis atau wartawan. Motto yang aku usung yaitu setia pada panggilan artinya dalam mencari rezeki untuk membiayai kehidupan keluarga, membangun anak-anak sampai sukses semua dari hasil profesiku sebagai jurnalis.
Dengan motto ini, aku bangga karena Tuhan Yang Maha Rahim menuntun aku sampai sekaraang dan yang beritakan tidak buat orang susah. Dalam menjalani profesi meliput berita aku berpedang pada falsafah ” Pena Sama Tajam Berbeda”. Kita memang sama-sama sebagai profesi jurnalis, tetapi dalam menggali berita dan nara sumber saya melakukan dengan cara investigasi.

Dalam mencari berita terkait kepentingan masyarakat umum, saya harus menyamar seperti orang biasa mengenakan celana pendek misalnya dan kaos oblong. Saya juga menggali sumber berita sambil ngobrol dan merekam dalam otakku. Saya bukan seorang sarjana atau menyelesaikan pendidikan tingga bidang jurnalistik, tetapi belajar dan belajar secara otodidak.
Tahun 1979 ketika masuk kota Kupang dan mulai belajar wartawan saat saya masuk SMP Teladan Kupang pimpinan Hermanus Saudale. Sambil sekolah saya juga berprofesi sebagai pembantu untuk PNS bujang yang berdinas di Rumah Sakit W.Z. Yohanes Kupang. Para pegawai yang rata-rata masih bujang dan semua berasal dari Jawa saya menjalankan tugas dengan baik, pagi belanja di pasar Kuanino juga jalan kaki dan langsung masak sesuai resep yang dicatat oleh PNS itu.
Usai masak, banyak waktu ku sehingga saya banyak membaca berita Dua Mingguan DIAN yang diterbitkan Yayasan St. Arnoldus Ende yang ketika salah satu Pemrednya Pastor Dami Mukese, redakturnya Thom Wignyata asal Bali dan Sekretaris Mingguan DIAN Chris Nau orang Bajawa.
Semula aku menulis atas inspirasi berita Pastor Ceslalus SVD. Pastor ini memberitakan tentang aktivitas sebagai pengajar di SMPK Kejara Wangka Riung Ngada Flores NTT. Aktivitas Pater Ceslaus di muat di Mingguan DIAN Ende. Dalam benakku,” O ternayata kegiatan masyarakat termasuk aktivitas membersihkan mata air Mata Le sumber air di samaping pastoran dan gereja di muat di majalah DIAN.
Dari sini aku melihat aktivitas masyarakat di sekitar Fontein sampaidi Kuanino saat berjalan kaki ke sekolah soreh di SMP Teladan, Kondisiku ketika itu antara Juni, Juli, Agustus sampai September 1979 tidak memiliki apa-apa kecuali kaye atau sekarang buku tulis dan bolpoin. Serba dalam kekuarangan. Hasratku ingin segera menulis berita tetapi tidak punya mesih ketik.
Modal nekat dan berani saya mencoba menulis tangan di beberapa lembar kertas. Belanja amplop dan perangko untuk bisa kirim berita ke majalah DIAN. Dalam hati mengharapkan berita yang aku buat walau tulis tangan bisa di akomodir dan dimuat.
Setiap saya temui peristiwa dari keluar dari Asrama para PNS bujangan itu selalu berpikir dan terkadang di bawah alam sadar. Niat menulis terus membara sehingga pada September 1979 setidaknya ada tiga atau empat berita yang aku krim. Suatu hari masih di pertengahan September 1979 ada petugas dari kantor pos dan giro mendatang asrama pegawai RSUD. Mencari diasrama di belakang gedung rumah sakit.
Petugas kantor pos menanyai orang-orang, “Adi sekitar sini ada nama Wens John Rumung kah.” Seorang pegawai memanggilku, dan pegawai kantor pos menyerahkan selembar wesel. Berapa isinya Rp 75. Hati ini senang dan sukacita. Wesel ini segera aku cairkan di Kantor Pos Jalan Palapa.
Uang sebesar itu nilainya sama dengan Rp 750.000 saat ini. Uang ini aku gunakan untuk belanja kebutuhanku di asrma air mancur milik om Baltasar Kodi, Di Asrama ini hanya mahasiswa yang tinggal. Terjadi perubahan, aku selain sayur kantung juga bisa belanja ikan sara. Sementara kawan-kawan lain hanya bisa belanjang kangkung dan beras, Kondisinya seperti itu.

Kartus Pers
Merasa sudah punya pendapatan dari hasil tulisan aku pamit sebagai pembantu tukang masak dan sambil sekolah di SMEA Negeri Pembina Kupang aku aktif mencari berita dan sudah berbekal kartu pers dari Mingguan DIA. Dan berbekal kartu pers aku melapor diri di Kepala Biro Humas Setda NTT bapak Fabi Latubatara. Dan trercatatlah namaku sebagai wartawan dari Majalah DIAN untuk kegiatan meliput kegiatan Gubernur waktu itu Ben Mboi.
Setiap ada kunjungan gubernur ke daerah namaku disertakan selalu, Itu sebabnya aku sering absen tidak sekolah di SMEA Negeri Pembina. Suatu hari Kepala Sekolah ketika Yulius Riwu Kaho memanggil ke ruang kerjanya dan bertanya,” Mengapa Wens kerap absen tidak sekolah,” Aku menjawab jujur, kebetulan saya ikut rombongan gubernur kunjungan kerja ke daerah. Kadang dalam sebulan bisa tujuh atau lima hari absen.
Sementara daftar absen harian selalu hadir,tetapi tidak pernah melihat rupa, Inisebabnya Pak Yulis Riwu Kaho memanggilku dan mencari tahu persoalan yang sebenarnya. Maka sebagai kepala sekolah, saya diperjuangkan untuk mendapat bea siswa bersama teman-teman kurang mampu.
Hati ini merenung sejenak, “Ini semua kebaikan Tuhan Yang Maha Rahim dan doa ayahku Kanisius Rumung mamaku Robeka Tao yang sudah almarhum” Rezeki yang kudapat dobel, dari pendapatan sebagai wartawan DIAN dan bea siswa atau aku tidak pernah berpikir tentang uang sekolah. Para guru semua dan teman-teman sekelas angkatan 1983 tahu bahwa aku selain selain sebagai siswa SMEA Negeri Pembina Kupang tetapi juga sebagai wartawan, sampai tamat dari SMEA Pembina Negeri Kupang 1983.
Peristiwa selanjut, aku full time sebagai jurnalis, tetapi tidak lagi di Majalah DIAN walau terus mengirim berita sambil menjadi wartawan Kupang Pos yang terbit setiap dua minggu dan di cetak di Denpasar milik harian Bali Pos, Saya kembali mendapat kemudahan karena kantor Kupang POs sekalian tempat tinggal di Jalan Gunung Meja Nomor 11 Merdeka Kupang. Pemimpin Redaksi waktu itu Charles Rohi dan para pemimpin Harry Silalahi dan Paul Amalo.
Sebagai wartawan Kupang Pos tetap bertugas meliput aktivitas di Kantor Gubernur.Lagi-lagi Alam Semesta Kerahiman Ilahi menuntun aku dan di alam bawah sadarku. Suatu ketika di tahun 1985 ibu Nafsiah Mboi Ketua PKK menelepon, “Wens hari Senin pagi-pagi ke rumah jabatan sekalian makan pagi dengan Bapak Gubernur. Saya dari Gunung Meja No 11 beriap pagi-pagi sehingga sebelum jam 6.30 sudha di rumah jabatan gubernur.
Aku disambut ramah ajudan gubernur waktu seperti Charles Agoha, David Fonalle. Pagi itu perasaan ku campur aduk.Koq para ajudan kok ramah sekali tidak seperti biasanya. Beberapa menit dipersilahkan masuk dan Bapak Ben Mboi dan ibu Nafsiah sudah di meja makan. Usai santap pagi Bapak Ben Mboi ke kantor dan Ibu Nafsiah masih di meja makan. Aku mengeluarkan notes dan balpoin.
Ibu Nafsiang bilang,” Simpan kembali balpoit dan notesmua, pagi ini bawah ini nota ke RSUD Kupang dan ketemu dokter Cornelis Tallo, kepala laboratoirium, Hasil pemeriksaan dari aku positif terserang kanker darah, Ibu Nasiah sebagai dokter feelingnya sangat tajam melihat muka aku pucat, Aku tidak karena sejak masih di bangku SMEA Negeri Pembina sampai tamat aku sering pusing dan kepala pening dan ternyata HB ku kadang dibawah lima atau enam. Ini gejalah penyakit kanker darah,
Suatu hari Ibu Nafsiah kembali memanggilku untuk ambil Rp 750.000 di Sekretariat Gubernur. Uang ini untuk beli tiket sekalian biaya hidup di ibukota Jakarta. Jadi warga di Jakarta dan ibu Nafsiah Mboi sudah menghubungi Erik Samola sebagai Pemred Majalah Tempo di Jaya Thmarin Jakarta Pusat. Gugup juga ketika naik lif menuju redaksi Majalah Tempo di lantai tiga.
Perasaan ku tidak nyaman di gedung. Tuhan terus menuntunku sehingga bertemu dengan kawan-kawan orang Flores, Aku disarankan ke Jalan Dewi Sartika ketemu Redaktur Pelaksana Majalah Dua Mingguan Mutiara, satu perusahan dengan Harian Sinar Harapan.
Aku merasa nyaman karena para jurnalis dan karyawan di Majalah Mutiara ramah-ramah semuanya. Maka resmilah aku tercatat sebagi wartawan Majalah Mutiara di Jalan Dewi Sartika 136 Cawang Jakarta Timur. Profesiku sebagai jurnalis Jakarta sejak 1985. Di Jakarta aku berpindah-pindah media, pernah juga sebagai wartawan Harian Nusa Tenggara milik angkatan Darat yang terbit di Denpasar dengan Kolonel Kosim sebagai perwakilan Jakarta,
Sebagai wartawan Harian Nusa Tenggara aku ditugaskan sebagai wartawan meliput kegiatan Presiden Soeharto.
Suasana bathinku ketika di Istana juga tidak nyaman, Ketika itu ada Linda Djalil dari Majalah Tempo, Agus Hitopa dari Harian Pelita berkawan baik dari Harian Kompas Ansel da Lopes. Tidak nyaman aku memilih jalan lain, hingga suatu saat wartawan Kompas Rikard Bangun bertamu di rumah kontraku dan kawan di Pasar Genjing Pramuka Jakartan Timur dan bersenagurau. “Pak Wens coba pergi ketemu Damyan Godho di mes Kompas Jakarta Selatan.”
Aku menjawb ya dan bertemu dengan Damyan Godho di mes kompas di Jakarta Selatan.
Damyan menajak aku agar bersedia ke Kupang karena Grup Gramedia akan terbit sebuah hari Pos Kupang. Desember 1979 tak terduga bersuah dengan wartawan senior Valens Goa Doy di pelatan RS SInt Carolus Salemba Jakarta Pusat. Sapa Valens,” Wens, kau bisa tulis ko tidak,” Aku jawab,” Bisa”
Pagi itu di bulan Desember1990 Valens menyuruh saya ke kantor Gramedia di Jalan Palmerah untuk ambil uang dan urus tiket bus ke Kupang, jalan darat dari Jakrta naik bus dari Pulogadung Jakarta Timur, menyeberang ke Bali dan Lombok sampai Labuan Bajo dangan jalan darat ke Ende selanjut ke Kupang dan ke redaksi Harian Pos Kuang di Jalan Jenderal Soeharto di sampil hotel Silvia saat ini 2026.
Ini hanya sekilas perjalan singkat perjalannaku sebagai wartawan dan sejak Desember 1990 menjadi wartawan Harian Pos Kupang sampai 1996 lalu mengembara menerbitkan berbabagi media seperti harian SUrya Timor pimpinan Almarhum Abilio dan hingga saat saya menerbit Mingguan EXPONTT hingga sekarang dengan expontt.com.

Di ” Delik Pers-kan”
Setelah lepas dari Harian Pos Kupang aku diajak Sius Djaminta untuk menebrbitkan Surya Timor berkantor di Kantor Percetakan Negera depan Gereja Katederal Kupang kemudian diajak menerbitkan Harya Surya Timor dan berkantor di Jalan Timor Raya Oespa Kupang.
Ziarah di dunia jurnalistik terus berlanjut menerbitkan Komodo POs di Labuan Bajo oleh kawan-kawan, Bisnis Flores, Alor pos dan Minggua Metro Kupang dan Ngada Pos di Bajawa. Pada akhirnya sejak 2015 menerbit Mingguan EXPONTT sampai menjadi expontt.com sampai kini Maret 2026.
Selama menjadi wartawan aku setia pada panggilan dan taat pada UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 keduali di delikperskan oleh pejabat seperti ketika terbit Mingguan Ngada Pos di Ngada, Berita panas atas kritik tajam soal sewa beli motor lebih dari 200 unit oleh Bupati Ngad ketika Albert Botha sehingga saya di laporkan ke polisi dan berpekara sejak 2002-2005 nyaris di tahan di Rutan Bajawa, tetapi batal ketika saya menelepon Gubernur Piet Tallo dan Kajati ketika Serwora-wora. Kedua pejabat ini yang menelepon Kejari Bajwa Yusuf Teru yang kawan karib saya untuk jangan ditahan kecuali proses di pengadilan.
Sementara di Kupang sejumlah LSM juga mendemo saya terkait berita Mingguan MetroKupang. Beritanya panas karena isi majalah sebagian masalh seks dan perselingkuan. Akibat demo sejumlah aktivis perempuan sampai disidang di Pengadilan Negeri Kupang tetap juga tidak dipenjara karena terbukti tidak bersalah dan tidak terbukti secara hukum.
Dalam mencari berita aku selalu konfirmasi kedua belah pihak dan tidak melanggar kode etik serta delik pers berikut ini.
Delik pers adalah tindak pidana yang dilakukan melalui media massa atau karya jurnalistik yang isinya melanggar hukum, seperti pencemaran nama baik, penyebaran berita bohong, atau konten melanggar kesusilaan. Di Indonesia, delik ini diatur dalam KUHP dan UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers, yang mengutamakan hak jawab dan mekanisme penyelesaian melalui Dewan Pers sebelum menempuh jalur pidana.Contoh Penggunaan/Kasus Delik Pers: Pencemaran Nama Baik: Pemberitaan yang merugikan nama baik individu atau lembaga tanpa bukti yang kuat. Penyebaran Berita Bohong (Hoaks): Berita yang disengaja disebarkan dan menimbulkan keonaran di masyarakat. Penghinaan: Konten yang memuat unsur penghinaan terhadap pemerintah, lembaga negara, atau simbol negara. Pelanggaran Kesusilaan: Publikasi konten yang dinilai pornografi atau melanggar norma kesusilaan umum.Pelanggaran Kode Etik Berat: Produk pers yang tidak melakukan cover both sides dan terbukti sengaja menyesatkan. Sinonim atau Istilah Terkait Delik Pers: Tindak pidana pers. Delik publikasi. Persdelict (istilah hukum Belanda). Kejahatan jurnalistik. Dalam praktik hukum, produk jurnalistik sekeras apa pun sebenarnya dilindungi oleh UU Pers, dan tidak seharusnya langsung dijadikan dasar delik pidana umum tanpa melalui mekanisme Dewan Pers terlebih dahulu. ♦