Kabur 6 Tahun, Buronan Kasus Korupsi Pembangunan Dermaga di Alor Ditangkap di Aceh

kejaksaan tinggi ntt
Kajati NTT, Hutama Wisnu / foto: digtara

EXPONTT.COM – Direktur PT Mina Fajar Abadi, Ramlan, yang terjerat kasus korupsi pembangunan Dermaga Bekalang, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditangkap tim tangkap buron (Tabur) Kejaksaan Agung (Kejagung) RI di Aceh, Selasa 15 Maret 2022 lalu.

Ramlan masuk dalam Daftar pencarian orang (DPO) Kejaksaan Negeri (Kejari) Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah kabur sejak 6 tahun lalu.

Saat penangkapan, tim Tabur Kejagung dibantu oleh tim dari Kejati NTT dan Aceh.

Baca juga: Setubuhi Bocah 5 Tahun, Seorang Kakek di Lembata Diamankan Polisi

“Ditangkap sejak kemarin. Dia menjadi buronan sejak tahun 2016 lalu,” ujar Kepala Seksi Penerangan Hukum Kejaksaan Tinggi NTT Abdul Hakim, Kamis 17 Maret 2022.

Abdul menuturkan, kasus yang menjerat Ramlan bermula pada tahun 2014 saat Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal mengalokasikan dana sejumlah Rp 21 miliar untuk pembangunan Dermaga Bakalang, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor.

Dalam siaran persnya pada Kamis 17 Maret 2022, Kajati NTT, Hutama Wisnu menjelaskan, berdasarkan putusan Mahkamah Agung RI Nomor 2182K/Pid.Sus/2016 tanggal 7 Desember 2016, menghukum terpidana Ramlan dengan pidana penjara selama enam tahun, dan denda sebesar Rp 200.000.000, subsidair enam bulan kurungan.

Kajati mengungkapkan, kasus tindak pidana korupsi pembangunan Dermaga Bakalang, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor ini merugikan negara sebesar Rp 4.347.721.446.

Baca juga: Jelang Pilpres Timor Leste, Indonesia Perketat Pengamanan di Perbatasan

“Putusan Mahkamah Agung tersebut lebih berat dari putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Kupang Kelas IA dengan Putusan Nomor 17/Pid.Sus-TPK/2016/PN.Kpg tanggal 8 Juni 2016, yang menghukum terpidana Ramlan dengan pidana penjara satu tahun, dan lima bulan kurungan sesuai dengan dakwaan subsidair melanggar pasal 3 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999, yang telah diubah dengan Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi,” ungkap Hutama Wisnu.

Pada tahun 2014 Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal RI mengalokasikan dana sebesar Rp 21.000.000.000, untuk pembangunan Dermaga Bakalang, Kecamatan Pantar Timur, Kabupaten Alor.

Dalam proses pengerjaan proyek itu, penyidik Kejaksaan Alor menemukan adanya unsur korupsi.

Baca juga: Lerai Perkelahian Pemuda Mabuk, Seorang Ayah di TTS Kena Bacok Anak Sendiri

Jaksa kemudian menahan Ramlan bersama sejumlah orang yang terlibat. Pada 8 Juni 2016, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi telah menjatuhkan pidana penjara selama 1 tahun 5 bulan kurungan penjara.

Terpidana Ramlan selaku kuasa Direktur PT Mina Fajar Abadi didakwa penuntut umum bersama-sama dengan Sugiarto Prayitno, Maprih Unggul Purwanto, Sri Raharjo, Andi Prayana, Noer Soewirta, Adi Nugraha, Berman Banjar Nahor, Sofiah, Slamet Maryoto, telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 4.347.721.446.

Terkait putusan itu, Ramlan lalu mengajukan banding hingga tingkat Mahkamah Agung. Selanjutnya, Ramlan dikeluarkan demi hukum pada 11 Juni 2016, sebelum adanya penetapan penahanan dari Pengadilan Tinggi Kupang diterima oleh Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Alor.

Sehingga pada saat proses upaya hukum, Terpidana Ramlan berada di luar tahanan hingga adanya putusan Mahkamah Agung, Ramlan tetap berada di luar tahanan.

Baca juga: Kota Kupang Terapkan PPKM Level 3, Ini Isi Surat Edaran Wali Kota

Ketika hendak dilakukan eksekusi oleh jaksa eksekutor, terpidana melarikan diri dan ditetapkan dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

“Terkait dengan kerugian keuangan negara yang timbul, telah dipulihkan pada saat penyidikan dan penuntutan di sidang pengadilan,” ujar Hutama Wisnu.

Ia menambahkan, setelah Ramlan ditangkap di Aceh, Kajati NTT langsung memerintahkan Tim Tangkap Buron (Tabur) Kejaksaan Tinggi NTT dan Jaksa Eksekutor, Hery Franklin, untuk melakukan eksekusi di Lapas Aceh.
♦digtara.com

Baca juga: Baru 5 Bulan Bebas Dari Lapas, Pria di Kupang Nekat Curi Sepeda Motor dan Ponsel