Randy Badjideh Akan Hadapi Tuntutan Pada 13 Juli 2022

astri dan lael
konferensi pers Polda NTT menampilkan tersangka Randy

EXPONTT.COM – Randy Badjideh, terdakwa dalam kasus pembunuhan terhadap Astri Manafe dan Lael Maccabee akan menjalani sidang lanjutan pada 13 Juli 2022 mendatang.

Sidang beragendakan pembacaan tuntutan Jaksa penuntut umum.

Melansir voxtimor, diperoleh informasi, JPU saat ini tengah merampungkan tuntutan terhadap terdakwa Randy Badjideh.

Baca juga:Polda NTT Kembali Limpahkan Berkas Perkara Ira Ua ke Kejati NTT

Sebelumnya, sidang pada 27 Juni 2022 lalu merupakan sidang terakhir sebelum Rand Badjideh dituntut.

Pada sidang 27 Juni 2022, ahli pidana, Mikael Feka, menjelaskan, kronologi singkat terkait pembunuhan Astri dan Lael bahwa pada 27 Agustus 2021 lalu, terdakwa Randy mengirim pesan (SMS) kepada korban Astri sebagai ajakan untuk bertemu.

“Korban (Astri) pun tidak ingin bertemu dengan terdakwa, namun terdakwa (Randi Badjideh) mengirim pesan lagi dengan alasan pada esok atau 28 Agustus 2021, terdakwa akan berangkat ke Jakarta, sehingga terdakwa hanya ingin bertemu dengan korban untuk melihat anaknya Lael (korban kedua),” terang Mikael Feka dalam sidang di Pengadilan Negeri Kupang.

Baca juga:Harga Avtur Naik, Tarif Tiket Pesawat Antar Wilayah NTT Melambung

Mikael menjelaskan, kronologi singkat ia ketahui Berita Acara Pemeriksaan (BAP) penyidik Polda NTT.

Dia mengatakan, Astri ingin bertemu dengan terdakwa Randy Randi Badjideh dan disepakati pada 28 Agustus 2021 sampai terjadi kasus pembunuhan tersebut.

Menurutnya, awal memberikan keterangan di penyidik Polda NTT, ia memasang pasal 338, 340 KUHP dan UU Perlindungan dan pasal 80 Juncto 36 C Anak pada kasus pembunuhan ini karena korban ini dan anak.

“Jadi esensi dari pasal 338 dan 340 prinsipnya sama yakni menghilangkan nyawa orang lain. Tapi terdapat perbedaan dari kedua pasal ini yakni terletak pada jeda waktu perencanaan antara pelaku Randy dan korban (Astri),” jelas Mikael.

Baca juga:Kabid Hukum dan Politik P4KF Serahkan Berkas Kepada Ketua DPW PKB NTT

Ia menilai jeda waktu tidak dapat dilihat dari cepat atau lamanya perencanaan. Namun pada jedah waktu pertemuan hingga terjadinya pembunuhan.

“Jeda waktu ini tidak dilihat dari cepat atau lamanya perencanaan, tapi saya tekankan bahwa dilihat pada jeda waktu pertemuan hingga tindakan pembunuhan itu,” jelasnya.

Ia menegaskan, jeda waktu tersebut dapat memberikan peluang kepada pelaku untuk melakukan niatnya baik secara positif maupun negatif. Namun, sisi negatif pada jeda waktu itu, pelaku memikirkan beberapa hal.

“Seperti memikirkan dan menetapkan kapan dan waktu yang tepat dan modus operandi bagaimana cara untuk melakukan tindakannya,” kata ahli.