Dari WC Gereja Hingga Pastori, Ini Modus Calon Pendeta Cabuli 6 Gadis di Alor

ilustrasi pencabulan
ilustrasi pencabulan

EXPONTT.COM – SAS (35) calon pendeta warga Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang, NTT, yang dilaporkan ke polisi karena aksi bejatnya yang menyetubuhi 6 orang gadis remaja di Kabupaten Alor, NTT, di jerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.

SAS dilaporkan oleh orang tua para korban didampingi Lembaga Rumah Kasih Kupang beserta psikolog dan Ketua Klasis Alor Timur Laut (ATL) dan beberapa pendeta Klasis ATL dan pendeta dari Gereja tempat SAS dulu brtugas di Alor.

Selain enam gadis remaja yang disetubuhi berulang kali oleh SAS, ada juga tiga gadis lain yang sering dikirimi chatingan Whatsapp dengan konten tak senonoh.

Baca juga: Cabuli 6 Anak di Alor, Calon Pendeta Ngaku Khilaf dan Minta Maaf

Kronologi

Awal bulan Mei 2021 tersangka SAS bertugas di sebuah gereja GMIT di Kabupaten Alor sebagai vikaris atau calon pendeta.

Disana tersangka kemudian berkenalan dengan para korban sebagai remaja binaan gereja dan sekolah minggu, dimana tersangka menjadi pembina.

Kemudian, karena ada kedekatan maka tersangka berkomunikasi dengan para korban melalui inbox messenger Facebook dan mengajak bertemu secara bergantian dengan para korban di beberapa tempat.

Dalam pertemuan tersebut tersangka melakukan aksi bejatnya terhadap para korban.

Baca juga:Kesal Dikatai ‘Bodoh’, Seorang Pria di Kupang Nekat Bacok Sopir Gunakan Parang

Dari keenam korban masing-masing disetubuhi lebih dari sekali dan paling banyak enam kali. Usia para korban sendiri masih remaja yakni pada rentang usia 13 hingga 15 tahun.

Aksi bejat tersangka dilakukan pada beberapa tempat yakni, dirumah korban sendiri, konsistori (ruangan persiapan ibadah), pastori tepatnya kamar terlapor serta WC jemaat gereja dan juga di Posyandu Mawar Lakatul.

Sementara itu, modus tersangka berdasarkan keterangan para korban yakni, melakukan tipu muslihat untuk bertemu para korban di tempat kejadian tersebut kemudian berpura-pura menyuruh korban mengambil kunci- kunci di kamar tidur terlapor, membersihkan pastori, mencari uban dan memasak di pastori dan saat itulah pelaku melakukan aksinya terhadap korban.

Baca juga:Soal fee Proyek ABPD II, Marsel Ahang: Tidak ada keterlibatan Istri Bupati Manggarai

Selain itu, pelaku juga mengajak para korban doa di konsistori namun tidak didoakan tetapi disetubuhi.

Pelaku juga menakut-nakuti dengan merekam atau memvideokan saat kejadian tersebut sehingga memudahkannya melakukan aksi lanjutan.

Ada 6 korban pencabulan yang terdata masing-masing, HBM (15) siswi kelas X, NALK (15) siswi kelas IX, EIL (14) siswi kelas IX, SM (14) siswi kelas VIII, SON (14) siswi kwlas IX dan TMK (15) siswi kelas X.

Atas perbuatannya itu, SAS dijerat dengan Pasal 81 ayat 5 juncto 76 D Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Pelaku terancam hukuman pidana mati, seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 10 tahun dan paling lama 20 tahun. SAS kini telah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah ditahan untuk menjalani proses hukum.

Ikuti berita dari ExpoNTT.com di Google News

Baca juga: Kapan dan Dimana Randy Badjideh Dieksekusi?