Kasus Marten Konay Cs Tak Kunjung P21, PH Keluarga Roy Bolle Minta Kejari Kota Kupang Obyektif

Kiri: Tim kuasa hukum keluarga almarhum Roy Bolle, John Fernandez Lamury, Kanan: Kasi Intel Kejari Kota Kupang, Rindaya Sitompul / foto: Gorby Rumung

EXPONTT.COM, KUPANG – Kasus penyerangan di depan kampus Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) yang menyebabkan meninggalnya Roy Herman Bolle Amalo (Roy Bolle) yang telah sampai ditingkat penyidikan oleh Kejari Kota Kupang hingga kini berkasnya tak kunjung lengkap (P21).

Kuasa hukum keluarga almarhum Roy Bolle menilai, kinerja Kejari Kota Kupang lambat dalam menangani kasus ini.

Penyidikan kasus dengan tersangka Marten Konay Cs hingga kini tak kunjung lengkap atau P21 meski jaksa telah mengantongi sejumlah keterangan dari para saksi dan juga alat bukti.

Baca juga: Kejari Kota Kupang Dinilai Lambat Dalam Penanganan Kasus Kematian Roy Bolle

Tim kuasa hukum pun menggelar aksi damai jilid VI di depan Kantor Kejari Kota Kupang, Kamis 11 Januari 2024. Pihak keluarga korban mempertanyakan hambatan ataupun alasan berkas perkara kasus ini tak kunjung P21.

Usai beraudiens dengan Kejari Kota Kupang, tim penasehat hukum keluarga almarhum Roy Bolle mengaku pihaknya belum mendapatkan respon positif terkait kasus ini.

Tim kuasa hukum keluarga Roy Bolle, Petrus John Fernandes Lamury, meminta Kejari Kota Kupang untuk obyektif dan tidak terintervensi dalam penanganan kasus dengan tersangka Marten Konay cs.

Baca juga: Minta Berkas Perkara Marten Konay Segera P21, Aliansi Peduli Kemanusiaan Gelar Aksi Jilid VI

Pihaknya berharap kejaksaan untuk tidak melangkahi hal-hal yang menjadi ranah pengadilan.

“Kami harapannya kejaksaan obyektif, penuh keadilan melihat perkara ini, jangan sampai hambatan kecil yang harusnya ranah pengujian di pengadilan itu diuji oleh kejaksaan,” ungkap John.

Dirinya menyayangkan belum lengkapnya atau P21 berkas tersangka Marten Konay Cs. John menjelaskan, sesuai dengan KUHAP, berkas perkara dikatakan lengkap apabila sudah terdapat dua alat bukti sah.

Baca juga: Naik Level, Gunung Lewotobi Laki-Laki Berstatus Awas, Masyarakat Diminta Lakukan Ini

“Dua alat bukti ini sudah diuji di pra peradilan dan sudah ada putusannya kalau bukti-bukti ini sudah sesuai. Apalagi yang dibutuhkan kejakasaan untuk menetapkan P21 dalam kasus ini?,” tegasnya.

John menambahkan, Kejari Kota Kupang menginginkan voice note yang berisi perintah dari Marten Konay terhadap pelaku penyerangan saat kejadian sebagai alat bukti tambahan.

Namun, menurut sejumlah sumber, voice note yang dimaksud telah hilang atau dihapus.

Baca juga: Ketua Sinode GMIT Pdt Samuel Pandie Siap Laksanakan HKUP

Tim kuasa hukum almarhum Roy Bolle menyebut, meskipun voice note tersebut tak dapat dihadirkan, keterangan para saksi dan tersangka lainnya telah menyebut pernah mengetahui adanya voice note tersebut.

“Para tersangka mengakui ada voice note itu. Ini menimbulkan pertanyaan apakah tidak ada voice note jadi tidak bisa P21? Sementara ada keterangan saksi bahwa Teny Konay (Marten Konay) terlibat,” tandas John.

Pihaknya akan terus berkoordinasi lagi dengan kejari dan kepolisian, dan akan kembali menggelar aksi hingga mendapatkan keadilan bagi korban.

Baca juga: Normal Hingga Awas, Ini Penjelasan 4 Macam Status Gunung Berapi

“Pasti kami akan gelar aksi yang lebih besar lagi sampai tuntutan kami terjawab dan terakomodir,” pungkasnya.

Kasi Intel Kejari Kota Kupang, Rindaya Sitompul, mengatakan, belum lengkapnya (P21) berkas perkara Marten Konay dikarenakan belum lengkapnya petunjuk dari penyidik Polres Kupang Kota yang belum dipenuhi.

Namun koordinasi antara jaksa peneliti dan penyidik masih terus dilakukan.

“Terkait isi materil maupun formil terhadap berkas perkara nanti ditanyakan dengan penyidik, sudah kita tuangkan dalam berita acara koordinasi,” jelasnya usai beraudiens dengan massa Aliansi Peduli Kemanusiaan dan penasehat hukum keluarga Roy Bolle.♦gor

Baca juga: 22 KPU Kabupaten/Kota di NTT Terima 5 Jenis Surat Suara, Segini Jumlahnya