330.000 Anak di Perancis Jadi Korban Pelecehan di Gereja Katolik

  • Bagikan
Gereja Katedral Saint-Jean Lyon, Perancis
Gereja Katedral Saint-Jean Lyon, Perancis

EXPONTT.COM – Menurut sebuah laporan yang dirilis di Perancis pada 5 Oktober 2021, ada sekitar 330.000 anak-anak yang diperkirakan menjadi korban pelecehan seksual selama 70 tahun terakhir di gereja-gereja Katolik di Perancis.

Ketua Komisi yang mengeluarkan laporan itu, Jean-Marc Sauve, mengungkapkan, perkiraan tersebut dibuat berdasarkan penelitian ilmiah.

Menurutnya, pelecehan-pelecehan dimaksud, termasuk pelang yang dilakukan oleh para pastor, pengurus gereja, dan mereka yang terlibat dalam kegiatan gereja.

Dalam laporan itu mengatakan sekitar tiga ribu pelaku pelecehan seksual terhadap anak, dua pertiga dari mereka adalah pastor, bekerja di gereja-gereja Katolik selama periode itu.

Baca juga: Tahun Ini, Jalan Trans Utara Sikka-Flotim Akan Dikerjakan

Sudah 2,5 tahun komisi ini bekerja, mendengarkan pengakuan para korban dan saksi serta mempelajari arsip gereja, polisi, pengadilan dan pers yang sudah ada sejak tahun 1950-an.

Sebuah hotline yang dibuka pada awal penyelidikan menerima 6.500 panggilan telepon dari sejumlah orang yang diduga korban dan orang-orang yang mengatakan bahwa mereka mengetahui korban.

Jean-Marc Sauve dalam penerbitan laporan oleh komisi independen tentang pelecehan seksual oleh pejabat gereja (CIASE) di Paris, Selasa, 5 Oktober 2021 / voaindonesia.com

Sauve mengatakan 22 dugaan kejahatan yang masih bisa diproses pengadilan telah diteruskan ke kejaksaan. Lebih dari 40 kasus yang terlalu tua untuk diadili tetapi melibatkan para pelaku yang diduga masih hidup telah dilaporkan ke para pejabat gereja.

Baca juga:Cemburu dengan Tukang Ojek, Seorang Pria di Kupang aniaya Calon Istrinya

Komisi itu mengeluarkan 45 rekomendasi tentang bagaimana mencegah terjadinya pelecehan semacam itu. Termasuk melatih para pastor dan pengurus gereja lainnya, merevisi Hukum Kanonik (hukum yang digunakan Vatikan untuk mengatur gereja) dan mendorong kebijakan untuk mengakui dan memberi kompensasi kepada para korban, kata Sauve.

tagar.id

  • Bagikan