EXPONTT.COM, KUPANG – Ratusan orang terdiri dari warga Pulau Kera dan sejumlah aktivis yang menamai diri Aliansi Advokasi Masyarakat Pulau Kera menggelar aksi damai untuk menolak relokasi.
Aksi digelar di depan Kantor Gubernur NTT, Kamis, 15 Mei 2025. Dalam aksinya, aliansi meminta untuk menghentikan perampasan tanah di Pulau Kera. Mereka juga juga menyebut relokasi bukan solusi.
Sementara itu, Bupati Kupang, Yosef Lede kembali mengeluarkan pernyataan terkait rencana relokasi warga Pulau Kera, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang.
Yosef Lede menyebut, menetap di Pulau Kera sama dengan melawan alam. “Disana itu tidak ada air, tidak ada fasilitas kesehatan, tidak ada sekolah. Layak tidak tinggal disitu?,” ungkapnya saat diwawancarai usai RUPS Bank NTT, Kamis, 15 Mei 2025 subuh.
Dirinya mengatakan, dengan relokasi kehidupan warga Pulau Kera akan lebih baik.
“Catat, saya mau bikin yang baik. Kita mau sediakan tempat yang layak dengan fasilitas rumah, sekolah, fasilitas kesehatan, tempat ibadah dan air. Dikasih rumah dikasi tanah yang bersertifikat, saya tidak ada kepentingan lain, kepentingan saya kemanusiaan,” ujarnya
Yos Lede menyebut, saat dirinya dilantik menjadi bupati, kehidupan warga Kabupaten Kupang saat ini juga menjadi tanggung jawabnya.
“Disaat warga hidup dengan tidak layak, saya punya tanggung jawab untuk buat yang lebih baik. Karena saya wakil Allah di dunia, pemerintah adalah wakil Allah di dunia, jadi saya harus tanggung jawab,” tegasnya.
Yos Lede memaparkan, setelah meninjau sejumlah lokasi, dirinya ingin merelokasi warga Pulau Kera ke tanah milik Pemerintah Kabupaten Kupang sekitar Sulamu yang sudah ada fasilitas sekolah dan kesehatan.
“Jadi anak-anak bisa sekolah yang baik, ada warga yang sakit bisa segera diurus,” ungkap Mantan Ketua DPRD Kabupaten Kupang ini.
Saat ditanyai soal anggaran Yos Lede dengan tegas menjawab “Itu tanggung jawab saya,” pungkasnya.♦gor








