Cegah Kanker Payudara : Saatnya Perempuan Tidak Hanya Takut, Tapi Tahu

Oleh : Lipat Aman

 

 

SETIAP bulan Oktober, dunia berubah menjadi merah muda, pita-pita kecil menghiasi media sosial, kantor hingga pusat perbelanjaan. Bulan Kesadaran Kanker Payudara selalu mengingatkan kita pentingnya deteksi dini, namun, setelah bulan itu berlalu kesadaran seringkali ikut mundur.
Padahal kanker payudara tidak mengenal musim kampanye. Ia bisa menyerang kapan saja, siapa saja tanpa pandang usia atau latar belakang.
Menurut World Helath Organization (WHO, 2023), lebih dari 2,3 Juta perempuan di dunia didiagnosa kanker payudara setiap tahun, dan menjadi jenis kanker paling umum. Di Indonesia, Kementeria Kesehatan RI (2022) mencatat bahwa kanker payudara menjadi penyebab kematian tertinggi akibat kanker pada perempuan. Angka ini memang mencemaskan, tetapi dibaliknya tersimpan kabar baik yakni hingga 40 persen kasus kanker payudara sebenarnya bisa di cegah. Itu artinya, kita tidak sepenuhnya tidk berdaya menghadapi penyakit tersebut.

Dari Rasa Takut Menuju Pengetahuan
Banyak perempuan di Indonesia masih menghadapi kanker payudara dengan rasa takut yakni takut hasil pemeriksaan, takut biaya pengobatan, bahkan takut menghadapi pandangan sosial. Ketakutan itu memang wajar, namun masalah muncul ketika rasah takut mengalahkan pengetahuan. Padahal , American Cancer Society (2022) mencatat tingkat harapan hidup penderita kanker payudara mencapai hampir 99 persen bisa terdeteksi sejak stadium awal. Namun sayangnya, banyak pasien datang ke Puskesmas ataupun Rumah Sakit ketika penyakit sudah berkembang dikarenakan tidak tahu cara melakukan pemeriksaan atau menunda karena rasa takut. Padahal langkah sederhana seperti SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) setiap bulan dan SADANIS (Pemeriksaan Tenaga kesehatan) setiap tahun terbukti efektif dapat mendeteksi lebih dini kanker payudara tersebut. Namun survei kecil yang dilakukan oleh berbagai organisasi menunjukan bahwa masih banyak perempuan yang belum memahami cara melakukan pemeriksaan payudara dengan baik dan benar.
Rasa takut seharusnya tidak menghentikan kita untuk tahu, justru pengetahuanlah yang bisa menenangkan katakutan itu.

Gaya Hidup Yang Menyelamatkan
Kanker payudara memang tidak sepenuhnya dicegah, tetapi risikonya bisa ditekan dengan gaya hidup sehat. Hasil penelitian dari Harvard T. H. Chan School Of Public Helath (2018), menyebutkan bahwa konsumsi satu gelas alkhol per hari dapat meningatkan risiko kanker payudara hingga 10 persen. Sementara National Cancer Institute (2020) mencatat bahwa perempuan yang rutin berolahraga memilki risiko 20-30 persen lebih rendah di bandingkan dengan yang tidak aktif/olahraga. Selain itu, menjaga berat badan ideal juga menjadi penting. Lemak tubuh berlebihan dapat meningkatkan kadar estrogen, hormon yang diketahui mempercepat sel kanker payudara.
Hasil studi dalam jurnal The Lancet (2021), menemukan bahwa setiap 12 bulan masa menyusui menurunkan risiko kanker payudara hingga 4,3 persen. Menyusui bukan hanya memberi nutrisi terbaik kepada bayi, tetapi juga melindungi ibu secara alami.

Pengetahuan Adalah Perlindungan
Kanker payudara bukan hanya persoalan atau urusan medis, melainkan isu sosial dan edukatif. Masih banyak perempuan yang tidak tahu cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri, serta tidak yakin atau tidak tahu kapan harus memeriksakan diri ke tenaga kesehatan.
Di beberapa daerah, pemeriksaan payudara dianggap tabu atau memalukan. Ada juga yang menunda pengobatan karena takut dianggap “pembawa sial” atau karena merasa “lebih baik tidak tahu”. Padahal ketidaktahuan justru mempercepat risiko. Dari sinilah petingnya peran pemerintah, tenaga kesehatan, media dan komunitas. Edukasi publik harus menjadi gerakan bersama dari sekolah, tempat kerja, hingga kelompok-kelompok ibu ibu di lingkungan. Kita perlu merubah narasi yakni dari ketakutan menjadi pengetahuan, dan dari stigma menjadi dukungan.

Dari Kesadaran Menjadi Kebiasaan
Kanker payudara memang menakutkan tetapi itu bukan vonis mati, kita tidak bisa mengendalikan sepenuhnya, akan tetapi kita bisa mengendalikan cara kita meresponnya dengan pengetahuan bukan sekedar ketakutan. Kesadaran terhadap kanker payudara tidak boleh berhenti di “Bulan Kesadaran Kanker Payudara” saja, ia harus menjadi kebiasan/gaya hidup sehar-hari. Mulailah dari diri sendiri, periksa payudara setiap bulan, jalani pola makan sehat, rajin olahraga, dan saling mengingatkan sesama perempuan untuk peduli terhadap diri/tubuhnya sendiri.
Kita seringkali lupa bahwa pencegahan tidak membutuhkan biaya besar, hanya komitmen kecil yang dilakukan secara terus menerus. Karena mencegah bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi tentang menghargai kehidupan, dan itu di mulai dari satu langkah kecil yakni Peduli.
Sudah saatnya perempuan Indonesia tidak hanya takut, tapi juga tahu, agar hidup sehat bukan lagi pilihan, melainkan kesadarn.