Hari Ini Dalam Sejarah: Tragedi Trisakti 12 Mei 1998, Begini Kronologinya

  • Bagikan
tragedi trisakti 12 mei 1998
Tragedi Trisakti 12 Mei 1998

EXPONTT.COM – Awal 1998 Ekonomi Indonesia goyah akibat krisis finansial atau kala itu lebih dikenal dengan krisis moneter 1997-1998.

Sebagai respon, mahasiswa mahasiswa melakukan aksi demonstrasi besar-besaran ke gedung DPR/MPR termasuk juga para mahasiswa Universistas Trisakti.

Demonstrasi itu menuntut Soeharto untuk turun dari jabatannya sebagai presiden saat itu.

Pada pukul 10.45, aksi mimbar bebas dimulai dengan diawali acara penurunan bendera setengah tiang yang diiringi lagu Indonesia Raya yang dikumandangkan bersama oleh peserta, kemudian dilanjutkan mengheningkan cipta sejenak sebagai tanda keprihatinan terhadap kondisi bangsa dan rakyat Indonesia saat itu.

Aksi orasi serta mimbar bebas dilaksanakan dengan para pembicara baik dari dosen, karyawan maupun mahasiswa. Aksi/acara tersebut terus berjalan dengan baik dan lancar.

Baca juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Meninggalnya Bob Marley dan Konspirasi Dibaliknya

Pada pukul 12.00, massa mulai memanas yang dipicu oleh kehadiran beberapa anggota aparat keamanan tepat di atas lokasi mimbar bebas (jalan layang) dan menuntut untuk turun (long march) ke jalan dengan tujuan menyampaikan aspirasinya ke anggota MPR/DPR. Kemudian massa menuju ke pintu gerbang arah Jl. Jend. S. Parman.

Pada mulanya aksi damai itu berjalan dengan lancar dari kampus Trisakti menuju Gedung Nusantara pada pukul 12.30.

Pada pukul 12.50, long march mahasiswa terhadang tepat di depan pintu masuk kantor Wali Kota Jakarta Barat oleh barikade aparat dari kepolisian dengan tameng dan pentungan yang terdiri dua lapis barisan.

Beberapa mahasiswa mencoba bernegosiasi dengan pihak Polri.

Baca juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Tragedi Hindenburg, Meledaknya Pesawat Balon Terbesar Kebanggaan Nazi

Pukul 13.20, tim negosiasi kembali dan menjelask an hasil negosiasi di mana long march tidak diperbolehkan dengan alasan kemungkinan terjadinya kemacetan lalu lintas dan dapat menimbulkan kerusakan.

Para mahasiswa merasa kecewa karena menurut mereka aksi tersebut merupakan aksi damai.

Massa terus mendesak untuk maju. Pada saat yang hampir bersamaan dipihak aparat keamanan datang tambahan aparat Pengendalian Massa (Dalmas) sejumlah 4 truk.

Baca juga: Hari Kebebasan Pers Sedunia: “Informasi sebagai Barang Publik”

  • Bagikan