Peneliti Minta Kelompok Rentan di Indonesia Timur Dilibatkan Dalam Pencegahan Perubahan Iklim

Peneliti perubahan iklim, Dr. Welmince Djulete / foto: tangkapan layar kegiatan Workshop Kolaborasi

EXPONTT.COM – Tiga peneliti dampak perubahan iklim Dr Yulisna Mutia Sari, Dr Welmince Djulete dan Dr Miya Irawati, menemukan dampak nyata perubahan iklim di tiga wilayah Indonesia Timur.

Ketiga wilayah tersebut, adalah Makassar, Kupang dan Lombok. Menurut ketiga peneliti, perubahan iklim telah merubah pola hidup masyarakat kelompok rentan hingga mengganggu keluarga dengan kondisi ekonomi rentan.

Hal tersebut, ketiga peneliti ungkapkan dalam kegiatan Workshop Kolaborasi Monas University, Lembaga Koneksi dan Society Of Indonesia Environmental Journalists (SIEJ) Sulsel, bersama para Jurnalis, Kamis, 8 Agustus 2024, yang diselenggarakan secara daring.

Baca juga:  Fransisco Bessi Tanggapi Santai Tudingan Penggelapan Uang Taekwondo NTT, “Ada Kejutan Besar Dalam Waktu Dekat”

Untuk itu, ketiga peneliti mengeluarkan rekomendasi untuk pencegahan perubahan iklim yang dapat berdampak hingga ke berbagai unsur kehidupan dan kelompok rentan, seperti perempuan, lansia dan difabel.

Menurut Dr Welmince Djulete, yang paling penting dalam pencegahan perubahan iklim adalah perencanaan yang inklusif, implementasi yang inklusif dan evalusi yang inklusif dalam aksi pencegahan perubahan iklim.

Baca juga:  Pelabuhan Maropokot Mbay Direvitalisasi dengan Anggaran Rp 91,3 Miliar

“Jadi semua harus inklusif, melibatkan kelompok rentan dari awal perencanaan, implementasi dan evaluasi,” ujar peneliti asal Kupang ini.

Menurutnya, tanpa menampung suara kelompok rentan, setiap strategi untuk pencegahan perubahan iklim tidak inklusif untuk kelompok rentan.

Lebih lanjut, kelompok peneliti Monash University Indonesia merekomendasikan adanya data disabilitas yang terintegrasi, sehingga saat terjadi bencana setiap difabel mendapatkan prioritas evakuasi hingga akses untuk mendapat informasi terkait kebencanaan.

Baca juga:  BULOG NTT Jamin Ketersediaan Stok “Minyak Kita”

Kemudian untuk para petani yang paling merasakan perubahan iklim lanjut Welmince, juga harus diberikan akses informasi dari BMKG terkait perubahan iklim terbaru.

“Sehingga mereka bisa selalu menyesuaikan dalam melakukan kegiatan pertanian, seperti waktu tanam yang tepat, supaya petani tidak mengalami kerugian total seperti yang sudah dialami saat ini,” pungkasnya.♦gor