Putra NTT Raih Penghargaan Riset Disertasi Terbaik

NTT

EXPONTT.COM – Putra Nusa Tenggara Timur (NTT) Maksimilianus Jemali, Mahasiswa Program Studi S3 Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS) Universitas Gadjah Mada (UGM), meraih penghargaan penulis proposal disertasi terbaik. Penghargaan itu ia raih dari kompetisi nasional penulisan tesis dan disertasi Nusantara Institute.

Riset disertasi Maksimilianus masuk daftar 10 pemenang proposal disertasi terbaik dalam kompetisi bertajuk Nusantara Writing Grant. Maksimilianus menyisihkan sekitar 130-an proposal dari kampus-kampus di Indonesia dan mancanegara yang diumumkan 26 Agustus 2021.

Pria kelahiran Tuke, Ruteng Manggarai, Flores, 39 tahun lalu. tidak menyangka risetnya yang berjudul Hambor sebagai Narasi Kecil dalam Mengelola Konflik dan Situasi Damai di Flores, Manggarai, NTT mendapatkan penghargaan terbaik.

Baca juga: Polda NTT Tolak Laporan Aliansi Cipayung Kota Kupang Soal Kerumunan di Pulau Semau

Dalam risetnya, ia mengangkat tradisi yang ada dalam kebudayaan masyarakat di Kabupaten Manggarai untuk menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi dalam kampung, baik tingkat perorangan, keluarga maupun konflik antar suku di Manggarai.

“Hambor dalam bahasa Manggarai berarti damai atau harmoni. Tradisi ini sudah ada sejak dulu dan diwariskan secara turun-temurun. Dalam Bahasa Manggarai-nya disebut mbate dise ame, serong dise empo, pede dise ende,” kata Maksimilianus, Rabu 1 September 2021.

Putra daerah asli Manggarai itu mengatakan, Hambor jadi semacam simpul perdamaian yang menciptakan integrasi keharmonisan. Orang Manggarai melihat semesta ini seperti jaring laba-laba raksasa, setiap jaring harus menjaga harmoni dengan jaring lain.

Baca juga: Jalankan Prostitusi Online, 2 Wanita Diamankan Aparat Polda NTT Saat Terima Tamu

Kalau satu jaring putus atau diabaikan oleh jaring yang lain, maka akan terjadi disharmoni maupun disintegrasi. Pemahaman ini menjadikan Hambor sebagai tradisi yang memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam keseharian masyarakat Manggarai.

“Karena diyakini sebagai entitas, tradisi yang mengharmoniskan manusia dengan semesta,” ujar Maksimilianus

Maksimilianus ingin mengenalkan tradisi lokal sebagai resolusi konflik dari kearifan lokal untuk diadopsi nasional atau internasional. Dirinya ingin Hambor menginspirasi bagi generasi muda mengeksplorasi budaya masing-masing sebagai kekayaan Indonesia.

“Kalau bukan kita, siapa lagi,” kata Lian.

Baca juga: PON Papua 2021: Undian Grup Cabor Sepakbola, NTT Masuk Grup A Bersama Tuan Rumah

Baginya, tradisi Hambor tidak hanya dipakai dalam konteks resolusi konflik yang terjadi dalam sesama masyarakat Manggarai, tapi dalam tataran lebih luas. Sebab, saat ini di Manggarai banyak orang datang dari daerah dan latar belakang budaya berbeda.

Tentu akan ada modifikasi dan revitalisasi. Tapi, Hambor jadi simpul perbedaan dalam keberagaman. Karenanya, Hambor memiliki kontribusi krusial untuk mengembangkan perdamaian di tingkat lokal, misalnya perdamaian antarumat beragama di Manggarai.

Dalam konteks hukum positif, penelitian memberikan penyadaran tidak setiap masalah harus diselesaikan secara hukum positif. Sebab, ada tradisi resolusi konflik yang lebih menekankan persaudaraan dan kekeluargaan, namun tetap memperhatikan keadilan.

republika.co.id