Kupang Cerdas, Warga Berkualitas
EXPONTT.COM, KUPANG – Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan meningkatkan edukasi terkait pergaulan bebas di tengah arus perkembangan teknologi digital saat ini.
Diketahui Kota Kupang kini dihadapkan dengan fakta pahit, dimana tak sedikit pelajar dan mahasiswa terlibat seks bebas bahkan terpapar HIV/AIDS.
Data terbaru Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kupang mencatat, terdapat 254 kasus HIV/AIDS di kalangan pelajar dan mahasiswa, angka yang bahkan melampaui kasus di kalangan pekerja seks (WPSL) yang berjumlah 203 kasus.
Merespon kondisi ini, Pemerintah Kota Kupang meningkatkan edukasi kepada pelajar, khususnya di tingkat SMP dan SD, agar memahami dampak pergaulan bebas dan risikonya. Hal ini juga untuk mewujudkan warga Kota Kupang yang cerdas dan berkualitas.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Okto Nitboho, menilai bahwa meningkatnya kasus di kalangan pelajar menjadi peringatan serius bagi semua pihak, termasuk dunia pendidikan.
“Walaupun hanya nol koma sekian persen naiknya, tapi ini bukan hal sepele. Ini menjadi perhatian semua stakeholder yang ada,” tegasnya dalam kegiatan edukasi pencegahan HIV/AIDS yang berlangsung di Hotel T-More Kupang pada Selasa, 4 November 2025.
Menurut Okto, perkembangan teknologi menjadi faktor dominan yang mempengaruhi perilaku siswa. Akses internet yang luas tanpa pengawasan, membuka peluang bagi remaja untuk terpapar konten negatif dan gaya hidup berisiko.
“Peran kami di Dinas Pendidikan adalah meningkatkan edukasi kepada pelajar, khususnya di tingkat SMP dan SD, agar memahami dampak pergaulan bebas. Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pihak terkait untuk melakukan langkah preventif,” tegasnya.
Ia menambahkan, pendidikan agama di sekolah perlu diperkuat sebagai filter moral agar siswa mampu membedakan hal yang baik dan buruk. Namun, waktu siswa di sekolah yang hanya sekitar delapan jam membuat peran orang tua menjadi sangat penting dalam mengawasi aktivitas anak di luar jam belajar.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kota Kupang, Neda Ridla Lalay, turut menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena yang kini terjadi di Kota Kupang.
Menurutnya, diperlukan peran seluruh masyarakat untuk memerangi kondisi ini. “Sebagai seorang ibu, saya sangat terpukul dengan kenyataan ini. Fungsi keluarga, agama, dan pendidikan karakter harus benar-benar dijalankan,” ungkapnya.
Neda mengakui, orang tua sering kali merasa tabu untuk berbicara soal seksualitas dan alat reproduksi dengan anak-anak mereka. Padahal, keterbukaan justru penting agar anak tidak mencari tahu dari sumber yang salah.
“Orang tua harus jadi sahabat anak. Jangan biarkan mereka belajar dari teman atau media sosial yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Edukasi tentang alat reproduksi bukan hal tabu lagi,” tegasnya.
Neda juga mengaku prihatin karena kasus HIV/AIDS kini ditemukan pada anak-anak tingkat SMP.
“Kalau anak SMA atau mahasiswa mungkin kita tidak terlalu kaget, tapi ini anak SMP. Kita tidak pernah membayangkan hal itu bisa terjadi,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa DPRD Kota Kupang akan mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk pendidikan dan kesehatan, untuk memperkuat program edukasi pencegahan HIV/AIDS di kalangan pelajar.
(Gorby Rumung / ADV)








