EXPONTT.COM, KUPANG – Kepala SD Negeri Oehendak Kota Kupang, Petrus Tukan bersama jajaran menyampaikan permintaan maaf kepada murid kelas III berinisial YA dan keluarga usai menuduh sang murid melakukan pencurian HP milik satpam sekolah.
“Saya datang untuk meminta maaf. Ini menjadi pelajaran bagi kami,” ujar Petrus Tukan dihadapan keluarga, Rabu, 11 Februari 2026, mengutip Suarantt.id.
Permintaan maaf itu disampaikan Kepala SD Oehendak usai dirinya dipanggil dan diperiksa oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang.
Namun, permintaan maaf tersebut terkesan terpaksa karena sebelum dipanggil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, orangtua sudah terlebih dahulu meminta sekolah untuk memulihkan nama baik anaknya dan mengumumkan secara terbuka disekolah, namun pihak sekolah menolak dan meminta orangtua murid tidak mengatur sekolah.
Sebelumnya diberitakan, Gaudensia ibu dari murid, mengaku mendapatkan perlakuan tidak pantas saat kejadian tersebut mencuat di sekolah.
“Saya hanya minta satu, umumkan bahwa anak saya tidak mencuri. Jangan korbankan anak kecil demi nama sekolah. Guru-guru tertawa. Kepala sekolah bilang saya tidak boleh atur sekolah,” kata Gaudensia, ibu dari YA.
Diketahui, YA (9) saat ini masih enggan bersekolah karena trauma usai dirinya dituduh mencuri HP milik satpam yang belakangan diketahui HP tersebut dicuri oleh siswa SMP Negeri 13 Kupang.
Padahal saat ini diketahui sekolah yang berlokasi di Kelurahan Maulafa itu tengah mengadakan ujian. YA juga trauma karena sempat dipukul orangtuanya pasca diberitahu pihak sekolah karena mencuri HP.
Meski saat ini, pihak keluarga menerima permohonan maaf dan meminta YA kembali bersekolah, Gaudensia mengaku masih membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi psikologis keluarga.
Gaudensia mengaku dalam beberapa hari terakhir dirinya tidak berakitfitas seperti biasa karena psikologisnya terganggu akibat kejadian tersebut.
“Saya butuh waktu tiga bulan untuk pemulihan, Sejak kejadian itu saya terus memikirkan. Selama ini saya ajarkan anak-anak untuk tidak mencuri. Walaupun kami orang miskin, kami punya harga diri,” ujar Gaudensia yang sehari-hari bekerja sebagai penjual sayur.(*)








