Oleh: Krispinus Rada,S.Sos
Tokoh Muda Lambo
EXPONTT.COM, MBAY – Nama Bendungan Lambo kini begitu dikenal di seantero Nusa Tenggara Timur. Ia bukan sekedar proyek strategis nasional bernilai triliunan rupiah, tetapi juga simbol perjalanan panjang, penuh dinamika, yang menyentuh ranah sosial, budaya, bahkan spiritual masyarakat Nagekeo.
Namun, di balik megahnya proyek yang dirancang untuk menampung jutaan kubik air ini, tersimpan satu pertanyaan sederhana namun bermakna: Apa sebenarnya arti dari nama “Lambo”?
Nama yang Bertahan di Tengah Perubahan
Sejak awal, pemerintah pusat menetapkan nama Bendungan Lambo untuk proyek ini. Nama itu tetap dipertahankan hingga kini, meskipun sempat ditambahkan kata “Mbay” di depannya. Bagi masyarakat Nagekeo, “Lambo” bukan sekedar nama, melainkan identitas yang telah melekat kuat di ingatan publik, nama yang tumbuh bersama kisah dan perjuangan warga dalam menghadapi proses pembangunan yang tak selalu mudah.
Konflik lahan, perdebatan soal hak kepemilikan, hingga dinamika sosial yang berlarut-larut membuat nama Lambo seakan hidup dalam setiap percakapan warga. Di warung kopi, di rumah adat, hingga di ruang kebijakan, nama ini terus disebut, menjadi saksi perjalanan panjang sebuah proyek raksasa di bumi Nagekeo.
Asal Usul Nama: Dari Gunung Keli Meze ke Kampung Adat Lambo
Tidak banyak yang tahu, kata “Lambo” ternyata berasal dari bahasa Goa, Sulawesi, yang berarti perahu. Menurut penuturan para tetua adat di Kampung Lambo, sekelompok pendatang dari Goa dahulu tiba di wilayah ini dan melihat sesuatu yang unik di puncak Gunung Keli Meze, sebuah bentuk besar menyerupai perahu.
Mereka pun menyebut tempat itu “Lambo”. Penduduk lokal menerima nama tersebut karena di puncak gunung memang terdapat perahu batu yang dikenal dengan sebutan “Kowa Rajo”.
Dua nama yakni Lambo dan Kowa Rajo , akhirnya hidup berdampingan, tanpa perdebatan. Maknanya pun sama: perahu.
Bagi masyarakat adat, perahu bukan hanya alat transportasi, melainkan simbol perjalanan hidup, kebersamaan, dan penghubung antar dunia, antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
“Orang Lambo adalah orang perahu,” tutur salah seorang tetua adat di Kampung Lambo. “Dan bendungan Lambo berarti bendungan perahu — tempat air berdiam, tempat kehidupan bermula.”
Air dan Perahu: Dua Hal yang Tak Terpisahkan
Secara simbolik, penamaan “Lambo” untuk bendungan ini terasa begitu tepat. Bendungan menampung air, sementara perahu adalah sahabat air itu sendiri. Dua unsur ini saling melengkapi, menggambarkan harmoni antara alam dan manusia.
Dari sudut pandang budaya, “Lambo” mencerminkan kearifan lokal yang masih dijaga oleh dua belas rumah adat di Kampung Lambo hingga hari ini. Di puncak Gunung Keli Meze, di mana kata itu pertama kali diucapkan, nilai-nilai leluhur tentang kesederhanaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam masih tetap hidup.
Tanah, Hak, dan Keikhlasan
Pertanyaan berikutnya, sering muncul: Apakah orang Lambo memiliki hak atas tanah yang kini menjadi lokasi bendungan?
Jawaban mereka sederhana, namun sarat makna. Bagi orang Lambo, hak bukan sekadar soal kepemilikan, melainkan tentang keikhlasan memberi untuk kehidupan bersama.
“Hak kaisar akan kembali kepada kaisar, hak Allah akan kembali kepada Allah,” begitu mereka menuturkan, mengutip pedoman iman yang menjadi pegangan hidup.
Bagi masyarakat Lambo, tanah boleh berpindah tangan, tapi nilai dan berkat yang menyertainya akan tetap menjadi milik semua. Karena air dan tanah adalah sumber kehidupan bagi seluruh umat manusia.
Makna yang Tak Lekang oleh Waktu
Kini, ketika dinding bendungan megah mulai berdiri dan aliran sungai mulai dibendung, nama Lambo bukan sekadar identitas fisik sebuah proyek. Ia telah menjelma menjadi cerita tentang asal-usul, pengorbanan, dan kebijaksanaan lokal yang diwariskan turun-temurun.
“Lambo” adalah perahu yang menampung air, sekaligus simbol yang menampung harapan, agar kehidupan di bumi Nagekeo terus mengalir, membawa kesejahteraan bagi semua.**








