Viktor Bungtilu Laiskodat Urat Takutnya Tidak Ada

  • Bagikan

Oleh : Wens John Rumung

 

SAYA sudah mengenal dekat Viktor Bungtilu Laiskodat Gubernur NTT saat ini. Sudah membaca banyak tentang Viktor Bungtilu Laiskodat yang akrab disapa VBL dari berbagai literatur. Namanya sudah sangat dikenal sebagai preman di Jakarta beberapa tahun silam. Pertama, VBL seorang pemberani, yang siap menerobos badai yang menghantam, kedua tidak suka melihat manusia yang tidak jujur, tidak suka terhadap manusia penjahat, penghalang pembangunan atau berbuat jahat kepada siapa saja. VBL akan paling depan membelanya. Sifat dasar seorang VBL pemurah dan suka membantu orang susah.

Sudah terlalu banyak orang yang dibantu VBL. Tak terhitung berapa ratus anak sekolah SD, SMP maupun SLTA yang dibantunya. Yang saya baca dari sebuah tulisan lebih dari 300 anak. Yang perguruan tinggi pun tak terhitung, yang sampai selesai mengambil gelar doctor tak terhitung pula. Perbuatan bajik ini, mencerminkan pada dirinya yang sejak kecil hidup susah di kampungnya Semau Kabupaten Kupang.

VBL adalah tokoh internasional, Ia pembebas sandera di Philina dan sukses. VBL punya ambisi sangat keras, yaitu memajukan orang yang susah. Dia tidak suka lihat orang susah. Dia tidak suka lihat sampah berserakan dan Ia terpaksa dengan tangannya sendiri membersihkannya di salah satu pinggir jalan di Jalan Thamrin Kota Kupang dua tahun silam.

Kalau VBL saat ini sedang disorot karena memaki orang saat kunjungan ke Sumba beberapa waktu lalu, itu karena membantah idenya yang cemerlang dan ingin memajukan orang Sumba dari kemiskinan dan ingin memajukan generasi muda agar hidupnya bagus di masa depan dengan beternak sapi. VBL marah bukan karena benci, dalam dirinya tertanam hati yang lembut, hati penuh kasih, suka menolong.

Aspek pertama, VBL ambisi agar padang di Sumba sana tidak terlantar, tidak mubazir, tetapi VBL menginginkan pada berubah menjadi padang sapi. VBL tidak perduli orang mau omong apa. VBL menerima dicaci maki, tetapi tujuan mulianya harus tercapai. Idenya sangat cemerlang. Hanya implementasi, terjemehannya kebawah yang lemah. Pejabat dibawahnya lamban menterjemahkannya, lamban dan lamban. Akibat sifat birokrasi, sifat nyaman dan tidak mau menerima tantangan didepan.

Ini yang saya lihat. Boleh dikata, ini menurut saya stafnya bodoh, malas dan tidak pintar. Ya korbannya adalah pemimpin tertinggi yang menjadi sasaran. Saya mengalami perjalanan saya sebagai jurnalis sejak zaman Ben Mboi. Ben Mboi sangat cemerlang ide-idenya untuk membangun NTT, terkenal Nusa Makmur dan Nusa Hijau. Ben Mboi muak melihat staf dibawah yang lamban. Saya mengalami ketika berkunjung ke pasar di Kota Ruteng, sang camat di tempeleng, ketika di Insana TTU camat dan kepala desa di tempeleng, di Boboki Selatan Camat juga kena tempeleng akibat program menanam rumput untuk ternak sapi gagal. Dan diberbagai tempat.

Ketika Herman Musakabe jadi Gubernur dan berkunjung di Maurole, camatnya ditegur karena berpidato panjang lebar. Dan gubernur NTT yang paling galak adalah Piet A. Tallo yang sumpel rakyat TTS dengan tanah hitam. Gubernur yang datar-datar saja adalah Hendrikus Fernadez, Frans Lebu Raya yang tanpa gerakan dan setuhan atau gertak camat dan kepala desa. Semoga VBL tidak gentar tidak takut atas ancaman karena semua yang dilakukan VBL untuk kepentingan banyak orang terutama rakyat NTT. Ini tulisan kecil di Minggu 5 Desember 2021 sebelum saya mengkuti misa pertama di Gereja Santu Fransiskus dari Asisi BTN Kolhua. Selamat berhari Minggu. Tuhan berkati kita semua rakyat NTT. ♦

  • Bagikan