Opini  

Mengendus Aroma Tak Sedap Di Proyek Air Minum Mimika

Pengantar 
Air sejatinya menjadi salah satu kebutuhan utama umat manusia termasuk masyarakat Kota Timika Propinsi Papua tengah. Masyarakat tidak membutuhkan sekedar air melainkan air bersih untuk mengisi ruang-ruang dahaga hidup mereka dan aneka keperluan lainnya seperti Mandi, Cuci dan masak. Atas pentingnya kebutuhan tersebut maka negara menegaskan kewajibannya untuk menyiapkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tertuang dalam Undang-Undang-undang nomor 23 tahun 2014 yang mengatakan bahwa,“Pemenuhan air bersih bagi masyarakat merupakan salah satu tanggungjawab pemerintah Daerah”. Pemerintah Daerah bertanggungjawab mengalirkan air bersih dari sumber mata air ke locus wilayah pemukiman Penduduk agar kebutuhan masyarakat akan air bersih tercukupi. Atas dasar amanat undang-undang itulah maka Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas PUPR mencanangkan Program Penyaluran air bersih dari GWT Kuala Kencana ke rumah warga Kota timika. Kegiatan ini menurut rekaman Media dan pernyataan Wabup Johanes Retob dimulai sejak tahun 2012. Namun upaya juang mengalirkan air kuala Kencana ke rumah warga hingga saat ini belum membuahkan hasil. Dari perjalanan untuk investigasi dan temuan fakta dilapangan, proyek air minum yang dikendalikan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang – PUPR – sesungguhnya memang bermasalah. 
Rekam Jejak Investigasi Proyek Air Minum. 
Giat Program Air Bersih Mimika diawali dengan penandatangan MoU antara PT. Freeport Indonesia dengan Pemerintah Kabupaten Mimika pada tahun 2012. Dalam penandatanganan MoU disepakati bahwa Pihak PT Freeport menyiapkan Sumber Air di GWT Kuala Kencana, dan untuk pendistribusian ke rumah warga kota Timika menjadi tanggungjawab Pemerintah Kabupaten Mimika. Sejak kesepakatan itu, kedua pihak yakni PT Feeport dan Pemkab iMimika mulai bekerja. PT Freeport konsisten menyiapkan sumber air di GWT Kuala. Sementara itu, pihak Pemkab Mimika mulai melakukan kegiatan pemasangan pipa induk dari kuala ke kota timika melewati kelurahan Karang Senang, ke Timika Jaya teus ke Timika Indah, Koperapoka, Inauga, Komorojaya dan Wonosari. Dana awal yang digunakan untuk kegiatan ini sebesar Rp. 23 miliar lebih. Giat ini terus dilakukan ditahun tahun selanjutnya sesuai dengan kucuran dana dari Pemda berdasarkan kesepakatan dengan badab legislatif. Pemasangan pipa induk itu disertai juga pembangunan GWT dan beberapa item lain seperti Pemasangan pipa jaringan. Namun anehnya, air tidak dialirkan dengan alasan belum ada anggaran untuk proses pengaliran air karena butuh harus gunakan mesin penyedot dan pendorong. Dalam perjalanan waktu banyak material pipa yang terpasang rusak karena beberapa faktor: lapuk karena termakan waktu atau karena proyek jalan. Bahkan ada jaringan pipa induk yang hingga saat ini terkubur ditengah jalan utama SP2 Koprapoka. 
Dua tiga tahun terakhir ini mulai dilakukan pemasangan jaringan dan Sambungan Rumah dengan beberapa aksesoris lainnya seperti meteran. Namun karena air tidak mengalir sehingga mubasir, rusak dan hilang. Hal ini dapat dijumpai di koprapoka, dan Inauga. Ditemukan ada pipa SR disambung tahun lalu dan tidak disambung dengan meteran.
Sejak dari dulu giat pipanisasi air berjalan, namun hingga hari ini tak satu pun rumah di kota ini menikmati air bersih dari Kuala sebagai buah sedap proyek pemerintah daerah. Maka tidaklah mengherankan jika masyarakat mengeluh dan bertanya tentang air. Proyek air bersih yang ditangani Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mimika senilai Rp 111.253.430.097 hingga kini masih menjadi perbincangan hangat masyarakat Mimika. Berbagai kalangan menilai dana Rp. 111 miliar lebih yang dikelolah PUPR untuk proyek tersebut selama 10 tahun tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Ini dibuktikan dengan belum dialirnya air bersih kepada 50 ribu SR (sambungan rumah) dengan GWT di Kuala Kencana.
Melihat secara Obyekstif
Keluhan masyarakat yang saban didengar ketika perjalanan Investigasi ini kami lakukan diungkapkan dalam bentuk pertanyaan: Kapan air dari kuala kencana mengalir ke rumah-rumah. Sudah sepuluh tahun proyek air minum berjalan. Setiap tahun, sejak tahun 2012 sampai sekarang yang dilakukan adalah gali tanah, tanam pipa induk dan pipa jaringan, lalu pasang Pipa SR, tapi air tak pernah keluar. Masyarakat yang Kristis mempertanyakan besaran dana yang telah dihabiskan dalam proyek ini. Dana yang dihabiskan untuk proyek ini mencapai Rp 111.253.430.097. dengan item kegiatan meliputi kegiatan fisiknya mencapai Rp106.336.540,137 dan jasa konsultan Rp 4.316.889.900. Bagaimana mungkin dana sebesar itu tidak buahkan hasil. Tak satu rumahpun di Mimika menikmati aliran air bersih kuala kencana? 
Memang Proyek air minum bukan seperti orang bermain sulap. Namun kekuatan anggaran sebesar Rp 111.253.430.097 boleh menyulap air yang jauh di kuala kencana bisa masuk rumah warga Timika. Namun jauh panggang dari api. Yang diharapkan tak jadi kenyataan. Tidak ada satupun kelurahan di kota Timika yang warganya sudah menikmati aliran air bersih. Faktanya dari Kelurahan Karang Senang Distrik Kuala Kencana sampai Kelurahan Kadun Jaya Kecamatan Wania tak ada satupun warga menikmati air bersih. Apa sebaba? Karena dalam pipa Induk Maupun Pipa jaringan tak ada air yang mengalir. Fakta yang lazim ditemukan, meteran yang dipasang tahun lalu banyak yang sudah rusak dan hilang. Hal ini nampak jelas diberapa lokasi di Kelurahan Inauga. Bahkan ada yang dipasang pipa SR dan Meteran sedangkan pipa jaringan belum terpasang. 
Argumen Seorang Kadis PUPR
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang, Robert Dominggus Mayaut sering berdalih bahwa anggaran untuk merampungkan Program air bersih belum mencukupi sehingga air dari kuala kencana belum bisa dialirkan. Bahkan dalam sebuah kesempatan beliau menjelaskan berdasarkan kebutuhan anggaran pada tahun 2014 dilakukan review design terhadap Engineering Estimate (EE) menjadi Rp374,237,600.000,00 atau dibulatkan menjadi Rp375 miliar. Besaran dana ini untuk memasang 50 ribu Sambungan Rumah (SR). Pada tahun 2017 lalu, Robert mengadakan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi C DPRD Mimika, namun kebijakan anggarannya belum memihak kepada kebutuhan air bersih. Setelah 10 tahun berjalan kembali diriview pada tahun 2022 sesuaikan dengan harga barang yang menanjak naik, sehingga terjadi pembengkakan dana menjadi Rp 511 miliar. 
Berdasarkan uraian argumentasi Kadis PUPR ditafsirkan bahwa air baru bisa mengalir ke rumah warga kota Timika, mengandaikan semua rumah warga yang berjumlah kurang lebih 50.000 rumah sudah terpasang Pipa SR. Dan untuk mewujudkan impian dan harapan ini, pihak dinas masih membutuhkan dana sebesar Rp. 388.000.000.000. 
Sistem sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali habiskan dana Rp. 511 miliar, pastinya air dari kuala kencana masuk ke rumah warga menjadi mustahil dan tidak masuk akal. Fakta membuktikan bahwa semua fasilitas proyek mulai dari pipa induk, Pipa jaringan dan Pipa SR yang sudah dikerjakan sejak tahun 2012 sampai tahun ini, semuanya mubasir alias tidak berfungsi. Mubasir dan rusaknya fasilitas pipa dan meteran air karena sesungguhnya fasilitas tersebut tidak difungsikan. Air tak mengalir selama bertahun-tahun maka wajar jika pipa dan meteran rusak. Rusak sebelum digunakan sama dengan membuang garam ke dalam laut. Sia-sia. Tak ada guna. Sudah tahu tak ada guna, tapi proyek ini tetap berjalan sampai hari ini. diyakini pula bahwa proyek tahun ini juga akan mengalami nasib yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Mubasir dan tak ada guna.
Dalih besarnya biaya Operasional dan meningkatnya harga material menjadi dasar terus bertambahnya anggaran atau anggaran membengkak. Anggaran membengkak namun air tak kunjung mengalir dan keluar dimulut kran yang telah terpasang dirumah warga. Sepuluh tahun bukan waktu yang singkat dan Rp. 173 Miliar bukan jumlah yang kecil. Namun pikiran para pemangku kepentingan di proyek air minum sepertinya tak menyasar pada rindu dan harapan warga Mimika mengkonsumsi air bersih dari kuala kencana. Warga sudah merasa lelah untuk menanti dan berharap. Sepuluh tahun menjadi waktu yang cukup untuk merajut rindu dalam masa penantian datangnya air bersih. Mulut tak mau dibungkam untuk bicara. Bicara tentang proyek minum Mimika yang sudah habiskan dana ratusan miliar, tak ada hasil. Disini tercium aroma tak sedap. Aroma tak sedap harusnya diendus. “Lihat! Lawan! Lapor! Bukan disini tapi pada tempatnya. Bukan sekarang tapi pada waktunya. Sebab aku tidak tahu apa yang kalian pikirkan, tapi akut tahu apa yang tidak kalian pikirkan. Syalom!!!