Mengapa laba Agustus 2023 bank NTT lebih kecil dari tahun sebelumnya

Oleh : Eddy Ngganggus

I.  Tergerus oleh karena besarnya jumlah pembentukan Cadangan yakni CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai).

Inilah sebab pertama mengapa laba bank NTT di Januari hingga Agustus 2023 perolehannya lebih kecil dari periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Pendapatan bank berkurang karena digerus oleh biaya pembentukan cadangan atau CKPN (Cadangan Kerugian Penurunan Nilai) bahkan jumlah CKPN terus meningkat setiap bulan. Silahkan simak tabel 1 berikut ini.

Di bulan Januari 2023 saat rasio NPL (Non Performing Loan) atau rasio kredit bermasalah sebesar 2,85%, saat itu bank membentuk cadangan (CKPN) sejumlah Rp 179 Miliar 800 juta rupiah. Seiringnya waktu memasuki bulan Pebruari hinggan bulan Agustsu rasio kredit bermasalah terus meningkat hingga mencapai 3,91% di bulan Agustus 2023. Akibatnya bank harus membentuk cadangan lebih besar lagi hingga mencapai Rp 272 miliar 702 juta rupiah. Menjadi prinsip dasar akuntansi bank, antara CKPN dengan kredit bermasalah yang diindikator oleh rasio NPL berkorelasi positip. Artinya ; semakin tinggi rasio NPL berarti semakin banyak pula kredit bermasalah, maka akibatnya semakin besar pula Cadangan atau CKPN yang wajib di bentuk oleh bank NTT. Kredit bermasalah (yakni yang tidak tertagih kembali) ini menjadi sumber dua tekanan sekaligus bagi bank, yakni ; pertama ; bank wajib membentuk biaya cadangan, yang kedua ; bank menjadi kehilangan pendapatan dari bunga kredit. Dua tekanan ini berpengaruh besar mengurangi pendapatan bank yang ujungnya pasti menggerus laba bank.

II.  Dominasi deposito pada Komposisi Dana Pihak Ketiga (DPK)

DPK yang dimaksudkan adalah Tabungan, Deposito dan Giro. Dari tiga jenis DPK tersebut, Deposito adalah jenis simpanan yang oleh bank menjadi sumber biaya dananya (cost of fund) paling besar, sehingga Deposito sering juga dijuluki sebagai “dana mahal”. Pada tahun 2023 komposisi Deposito bank NTT lebih besar dari tabungan maupun giro. Seperti tampak pada tabel 2 berikut ini.

Dibulan Januari perbandingan antara Deposito terhadap total DPK sebesar 51,21 % menjadi 48,22 % pada bulan Agustus 2023. Berbeda dengan komposisi DPK di tahun 2020 yang komposisi dananya di dominasi oleh dana murah yakni Giro dan tabungan, seperti tampak pada tabel 3 berikut ini.

Tampak sejak bulan Agustus 2020 komposisi DPK di dominasi oleh Giro yang merupakan dana paling murah. Sedangkan Komposisi Deposito terhadap total DPK hanya sebesar 33,45%.

Apa maknanya ? Saat ini bank NTT semakin sulit menghimpun dana murah, tidak seperti tahun sebelumnya apalagi bila di banding dengan tahun 2020.

Perbandingan penghimpunan DPK bank periode Agustus selama tahun 2020 hingga 2023 tampak pada grafik di bawah ini.

Tampak bawah sejak Agustus 2022 bank semakin sulit menghimpun dana murah seperti tabungan dan giro, sehingga komposisinya lebih di dominasi oleh dana mahal yakni Deposito. Konskuensinya adalah beban cost of fund atau biaya dana akan menjadi lebih besar, dan ini tentunya menjadi beban berat bagi bank untuk mengimbangi perolehan pendapatan dari bunga pinjaman yang juga semakin berat oleh karena banyaknya kredit bermasalah.

Solusi yang bisa di ambil untuk memperbesar perolahan laba bak NTT saat ini adalah, pertama; kurangi pembebanan biaya CKPN dengan cara melakukan penagihan kredit bermasalah secara massif untuk mengurangi kredit bermasalah sekaligus agar bank memperoleh tambahan pendapatan bunga kredit, berikut mencegah jangan sampai terjadi lagi kredit bermasalah. Berikut lebih gencar lagi menghimpun giro dan tabungan lalu terus berusaha mengalihkan deposito ke dana murah hingga pada komposisi CASA (Current Account Saving Account)* yang ideal seperti pada tahun 2020.

____________________

*) CASA (Current Account Saving Account)

merupakan dana murah yang diperoleh

perbankan dari tabungan dan giro.

Tabungan dan giro disebut dana murah

karena perbankan tidak perlu mengeluarkan

 banyak biaya untuk mendapatkan kedua

 jenis dana pihak ketiga tersebut, tidak

seperti deposito yang merupakan dana mahal.