Opini  

Konflik Papua Untuk Kepentingan Politik Jakarta Dan Ekonomi Kapitalisme Hingga Menambah Deret Pelanggaran Ham

Oleh : Lukas Lile Masan

 

Wahyu Sunyoto, Senior Vice President for Exploration Division MIND ID kepada Wilda Asmarini, dari CNBC Indonesia pada Jumat, 10 september 2021 mengatakan bahwa terdapat gunung emas baru. Gunung emas ini bernama Blok Wabu, bekas lahan tambang PT Freeport Indonesia yang telah dikembalikan kepada pemerintah. Gunung emas ini bisa menjadi salah satu sumber “harta karun” tersendiri bagi Indonesia. Pasalnya, jumlah sumber daya emas yang ada di blok ini tak main-main, yakni mencapai 8,1 juta ons. Bila dikalikan dengan harga emas sekitar US$ 1.900 per troy ons, maka potensi nilai sumber daya emas di blok ini mencapai sekitar US$ 15,4 miliar atau sekitar Rp 221,7 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.400 per US$.

Selain gunung emas di Blok Wabu Papua juga menyimpan ‘harta karun’ dalam hal ini sumber daya alam bukan yakni potensi minyak dan gas bumi (migas) yang jumlahnya fantastis. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan membeberkan bahwa pemerintah Indonesia menemukan potensi ‘harta karun’ berupa minyak bumi dengan jumlah potensi cadangan mencapai 27 miliar barel. Adapun potensi cadangan raksasa itu berlokasi di Wilayah Warim, Papua. Geliat emosi mengeksploitasi Migas Raksasa di Warim terbentur dengan masalah lingkungan hidup karena Wilayah tersebut berada di Taman Nasional Lorentz. Namun Pemerintah tak menyerah dengan tantangan ini. pemerintah mengakalinya dengan cara lain sehingga potensi Migas Warim dapat dieksplotasi. Tutuka Ariadji, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, mengungkapkan, bahwa lantaran potensi migas di Area Warim ini cukup besar dan diperkirakan melebihi Blok Masela di Maluku maka pastinya giat Eksplorasi terus dilakukan hingga menemukan titik terang dan solusi terbaik untuk tindakan eksplotasi. Karena itu Pemerintah saat ini mencoba menghitung kembali potensinya di luar taman tersebut. Pertamina sebagai BUMN yang dipercayakan Pemerintah akan menggunakan langkah approach di luar taman, untuk menemukan besaran target. Jika memungkinkan maka pemerintah akan menggunakan langkah ini demi kontinuitas ekosistem Taman Nasional Lorentz.

Terhadap rencana pemerintah melakukan kegiatan Eksploitasi untuk mengeruk harta karun dari Rahim Papua, masyarakat Papua terutama Orang Asli Papua secara tegas menolak. Alasan paling mendasar dari gerakan penolakan tersebut adalah pertambangan tidak mensejahterakan Orang Asli Papua, Pertambangan akan memiskinkan dan membuat menderita orang asli Papua dan giat pertambangan pun akan membuat punah Sagu dan Sumber makanan lainya yang berasal dari alam dan lebih miris lagi orang asli Papua akan punah. Amnesty Internasional mengungkapkan bahwa giat eksploitasi Blok Wabu akan menambah deretan panjang kasus pelanggaran HAM di Papua.terhitung sejak intan jaya menjadi pusaran konflik antara TNI-POLRI dan TNPB-OPM telah mengakibatkan terjadinya eksodus besar-besan masyarakat intan jaya ke kabupaten dan wilayah lain yang dianggal lebih aman. Tidak hanya terjadi pengungsian tetapi juga terbunuhnya 12 warga Intan Jaya, yang menurut penelusuran Komnas HAM dan Amnesty Internasional hal itu dilakukan oleh aparat keamanan.

Terhadap fenomena ini Gubernur kala itu, Lukas Enembe meminta agar pemerintah pusat menghentikan kegiatan eksploitasi blok Wabu, namun Jakarta tak menggubris. Beliau juga mempersoalkan pengerahan pasukan yang terus bertambah di wilayah intan Jaya – sekitaran gunung emas-Blok wabu, namun sekali lagi jakarta enggan meladeni. Konflik terus terjadi antara TNI-Polri yang menjalankan perintah Jakarta dan TNPB-OPM yang berusaha dan berjuang mempertahankan ulayat warisan leluhurnya. Bahwa sesungguhnya konflik di tanah Papua terutama di wilayah pegunungan yang hingga kini tak kunjung berakhir berkaitan erat dengan masalah Blok Wabu – Gunung Emas di Intan Jaya. Hariz Azhar dari Kontras mengungkapkan bahwa emas dengan mudah di dapat, hanya dengan mencangkul saja, masyarakat sudah menemukan bebatuan yang memiliki kandungan emas yang tinggi.

Masyarakat lokal memiliki kecemasan atas resiko dari pertambangan emas blok Wabu. Pengalaman di Pertambangan emas Etsberg dan Grasberg yang mana limbahnya telah membawa dampak kehancuran ekologi diselatan papua dan tetap miskinnya masyarakat pemilik ulayat menjadi alasan bagi mereka untuk menolak. Mereka tak menginginkan yakni eksostem darat dan laut di wilayah utara Papua mengalami nasib yang sama seperti yang terjadi di Mimika.

Gerakan penolakan masyarakat lokal pemilik ulayat wilayah tambang tak membuat Jakarta Mundur. Negara memberi ruang bagi ANTAM untuk melakukan eksplorasi. Kehadiran ANTAM di blok Wabu akan menggandeng juga banyak perusahaan pun pula untuk keamanan pastinya ANTAM akan menghadirkan TNI-POLRI. Dan hal ini memang sudah menjadi sesuatu yang lazim terjadi di wilayah pertambangan tak terkecuali Papua. Ngototnya Jakarta untuk melakukan eksplotasi tambang emas dan Migas di Papua karena para pihak yang ada dibalik semuanya itu ;punya kepentingan di Papua. Pendeta Yosua dalam Paradoks Papua mengatakan bahwa banyak Oknum di Jakarta baik yang masih aktif dijabatan publik maupun yang sudah non aktif memiliki perusahaan yang punya koneksi langsung dengan giat pertambangan. Bukan menjadi rahasia lagi bahwa mereka banyak menggunakan Orang Asli Papua sebagai tamengnya. Goal mereka adalah untuk meraih pundi sebanyak-banyaknya dari eksploitasi tambang di Papua. banyak pejabat di Jakarta yang kelihatan miskin dan hidup sederhana namun memiliki saham bahkan perusahaan di Papua. Ini sebuah fakta yang tak bisa dipungkiri. Bahwa Konflik di Papua untuk menjerumuskan pihak TNI-Polri ke dalam jerat pelanggaran HAM ternyata dibalik itu ada kepentingan politik jakarta dan kepentingan ekonomi para kapitalis.