Opini  

Dialog AntarAgama Sebagai Alternatif Konflik AntarAgama di Indonesia.

Yosef Valdo Leso

Oleh: Yosef Valdo Leso
Siswa: SMAK Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo Kelas: XII IPS B

Negara Indonesia adalah salah satu negara majemuk yang terdiri dari beragam agama. Kemajemukan yang ditandai dengan keanekaragam agama itu yang rentan terjadi konflik antaragama. Sehingga hal ini yang menuntut masyarakat untuk mengembangkan sikap perdamaian dan persaudaraan dalam menghargai hak-hak asasi manusia demi terciptanya kerukunan umat beragama.

Keragaman atau kemajemukan ini yang mesti disyukuri karena merupakan suatu anugrah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa atas kehidupan kita, serta karena hal ini merupakan indikasi dasar yang membuat masyarakat Indonesia kaya akan pengetahuan sosial dan pengetahuan akan keragaman.

Ada enam agama besar yang di anut oleh Warga Negara Indonesia Yaitu Agama Kristen Katolik, Kristen Protestan, Islam, Hindu, Konghucu, dan Budha. Agama-agama itu merupakan potensi dan kekayaan yang utama bagi pembinaan mental dan spiritual bangsa.

Sebab setiap agama dalam ajrannya mewajibkan umatnya untuk mencintai sesama dan hidup berdampingan baik intra maupun antarumat beragama. Pandangan atau cita-cita manusia tentang sebuah masyarakat atau negara sangat korelasi dengan konsep jati diri manusia itu sendiri, dan ini menuntut bagaimana rasionalitas sebagai manusia, serta ditentukan oleh filosofi atau kepercayaan agama yang dianutnya, untuk menjaga koeksistensi manusia dalam lingkup hidup umat beragama.

Negara Indonesia adalah negara yang berfondasi pada hukum sebagai alat pengatur negara dan alat untuk membatasi kebebasan warga negara dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hidup bernegara semua tatanan hidup masyarakat telah diatur dalam UUD termasuk kebebasan dalam memeluk agama. Kebebasan dalam memeluk agama merupakan hak mutlak yang dimiliki oleh setiap individu dan sudah tercantum dalam UUD 1945 (Pasal 28 E UUD 1945) yang menyatakan setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya masing-masing, dan ditegaskan lagi dalam pasal 29 ayat 2 bahwa negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama yang di anut. UU ini adalah fondasi yang menuntun masyarakat, supaya hidup beragama sesuai dengan keyakinan masing-masing dan sesuai dengan kehendak negara. Konsep dari UU di atas mampu memberikan banyak pemahaman terhadap masyarakat, bahwa negara tidak memaksa untuk memeluk agama tertentu, tetapi negara ingin menuntun warga negara melalui UU supaya menghormati orang lain dalam hidup bernegara dan hidup beragama, dengan tujuan untuk meminimalisir konflik yang bernuansa agama.

Konsep hidup rukun dalam negara yang pluralitas seperti Indonesia merupakan suatu konsep yang menjadi harapan besar dari semua warga. Kerukunan merupakan kunci utama dalam menjaga keutuhan bangsa. Dalam sejarahnya, Bangsa Indonesia merupakan negara yang dibebaskan dari penjajahan yang berabad-abad lamanya. Proses untuk merajut kemerdekaan merupakan usaha yang sengit dari warga Negara Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Maraoke. Dalam merajut kemerdekaan mesti membutuhkan kerja sama dengan mengedepankan prinsip “berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing.” Prinsip ini merupakan garda terdepan yang menjadi nahkoda untuk berlayar ke samudra yang luas dalam mencapai kemerdekaan. Tekat dan niat dari masyarakat pada jaman pra-kemerdekaan sangat kuat dan kokoh, kerja sama, tanpa memandang latar belakang untuk merajut kemerdekaan adalah kunci bagi mereka dalam melawan para penjajah. Hingga pada tahun 1945 para pejuang kemerdekaan mampu meraih kemerdekaan.

Kemerdekaan ada di tangan warga Negara Indonesia itu karena keringat berdarah untuk mencapainya.

Namun demikian di balik bingkai keragaman ini ternyata masih ada praktik-praktik yang sangat ironis dan sering terjadi di negara ini dan menjadi bahan tontonan publik. Praktik-praktik seperti konflik antarumat beragama modelnya bervariasi dan merupakan realitas yang marak diperbincangkan dalam lingkup hidup umat beragama di Indonesia.

Konflik merupakan ketidakpahaman atau ketidaksepakatan antara kelompok atau gagasan-gagasan yang berlawanan. Ia juga bisa berarti perang, atau upaya berada dalam pihak yang bersebrangan, atau dengan kata lain, ketidaksetujuan antara beberapa pihak. Secara etimologis konflik berasal dari bahasa Latin “con” yang berarti bersama dan “figere” yang berarti benturan atau tabrakan. Pada umunya konflik sosial mengandung suatu rangkaian fenomena pertentangan dan pertikaian baik antar pribadi maupun konflik antarkelompok dengan kelompok, agama dengan agama, hingga pada konflik yang lebih ekstrim yaitu konflik antara negara dengan negara yang berdampak besar dalam kehidupan bangsa dan negara. Konflik antaragama merupakan sebuah konflik yang berpotensi tinggi dalam memecahkan persatuan dan kesatuan bangsa.
Contoh konflik yang bernuansa agama yaitu; ujaran kebencian yang mengarah pada agama, masalah mayoritas dan minoritas, menonjolnya fanatisme agama, keterlibatan agama dalam ranah demokrasi, serta masalah-masalah lainnya yang bernuasa agama. Konflik seperti inilah yang mendatangkan sikap-sikap saling benci terhadap satu sama lain, dan adanya sikap dendam yang akan mengarah pada disintegrasi suku lebih khususnya dan negara lebih luasnya serta hadirnya sekat-sekat yang membatasi pola interakasi umat beragama.

Bahkan bisa dikatakan bahwa eksistensi negara pada saat ini sudah mulai goncang karena kebanyakan orang jaman sekarang menggunakan agama sebagai topeng untuk membuat konflik yang mengarah pada agama tertentu dan hal ini tentunya bisa mendatangkan konflik yang besar dan mengarah pada perpecahan bangsa.

Ketika ditinjau dari akar masalahnya, bahwa yang menjadi agen atau orang utama dan pertama yang menghadirkan konflik antaragama di negara ini merupakan masyarakat Indonseia sendiri. Perbedaan ideologi, perbedaan perspektif merupakan akar utama dan pertama hadirnya konflik antaragama.

Hakekat agama yang memiliki sakralitas dan mengandung banyak nilai moral itu sudah digeserkan, karena orang hanya mengedepankan ego pribadi. Yang ketika di lihat dari konsep dilontarkan oleh Hans Kung, agama merupakan bukan sekedar menyangkut hal-hal teoritis dan spiritual, namun juga berhubungan dengan sikap dan cara hidup berdasarkan norma dan agama berperan juga sebagai sumber norma kehidupan sosial bermasyarakat.

Terlihat dari perkembangan pemaknaan agama bukan hanya sampai kepada pemahaman yang magis atau supernatural, namun juga jalan yang digunakan pengikutnya untuk berhubungan dengan yang supernatural tersebut, juga norma dalam hubungan dengan sesamanya.

Namun demikian konsep ini sudah digeserkan karena orang selalu melihat itu hanya sebagai teori yang tidak memiliki makna.

Ketika dibandingkan dengan masyarakat pada jaman pra-kemerdekaan, bahwa mereka bersatu dan bekerja sama untuk melawan para penjajah dari negara luar, namun pada masa sekarang kerja sama untuk melawan para penjajah itu sudah tidak ada karena penjajah pada masa sekarang lebih ekstrim daripada masa dulu, yang di mana penjajah pada masa sekarang merupakan warga negara sendiri.

Mengkaji mengenai perdamaian agama dalam ranah negara yang majemuk ini, merupakan salah satu jalan yang tepat supaya perdamaian antarumat beragama dapat diwujudkan. Megutip pernyataan dari Hans Kung, bahwa dalam upaya mempertahankan keragaman, Hans Kung menyumbangkan konsep dialog sebagai media untuk mempertahankan keragaman dengan konsep dialognya yaitu “Tak ada perdamaian antar bangsa, tanpa perdamaian antar umat beragama, tidak ada perdamaian antar umat beragama, tanpa dialog antar umat beragama.” Pernyataan dari Hans Kung ini mau menegaskan bahwa penting untuk mencari opsi solutif dalam melawan konflik antar umat beragama.

Banyak orang mengatakan di mana ada persoalan pasti ada solusi. Hal yang sama pula dengan persoalan-persoalan yang bernuansa agama, dan untuk membendung persoalan tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Hans Kung bahwa dialog merupakan satu alternatif yang dipilih untuk membendung konflik yang bernuansa agama.

Dialog antar agama merupakan proses komunikasi antara dua atau lebih pihak, yang pada prinsipnya bahwa makna dari dialog itu harus diperioritaskan dan dipertimbangkan agar maknanya memenuhi kaidah tematis dan pragmatis. Dialog bukan merupakan transaksi tawar-menawar tentang sesuatu dalam mencapai kesepakatan. Dialog juga bukan merupakan suatu hal yang konfrotasi di mana pihak yang satu mempersoalkan sesuatu pada pihak lain.

Dengan kata lain dialog bukan merupakan media untuk mencari kesalahan orang lain. Dialog juga bukan merupakan ruang untuk adu pendapat untuk mencari keunggulan dari satu pihak dan mengalahkan pihak lain. Dialog merupakan percakapan dengan maksud untuk saling mengerti, saling memahami, saling menerima, hidup damai dan kerjasama untuk mencapai kesejahtraan dalam hidup bersama. Berdasarkan arti dan tujuannya, maka relasi dialog dapat di lakukan dalam berbagai bentuk; seperti dialog kehidupan, dialog karya, dialog tematis, dan dialog formal.

Dialog merupakan suatu tindakan yang memiliki peran untuk merajut kebersamaan dan kerukunan hidup manusia. Karena itu Dalam dialog antaragama terdapat prinsip-prinsip yang mesti diketahui oleh umat beragama diantaranya yaitu:

1. Dialog antar umat beragama merupakan suatu proyek dua pihak internal pemeluk agama dan antar masyarakat penganut agama yang berbeda,

2. Peserta dialog harus datang dan mengikuti dialog dengan kejujuran dan ketulusan yang sungguh-sungguh,

3. Peserta dialog harus mendefenisikan dirinya sendiri atau pertner dialognya,

4. Dialog harus dilakukan dengan saling percaya,

5. Peserta dialog harus kritis baik pada agama yang dianut oleh partner dialognya maupun pada agama yang ia anut sendiri,

6. Peserta dialog harus mengikuti dialog tanpa asumsi-asumsi yang kukuh dan tergesa-gesa mengenai perkara yang tidak disetujui.
Di Indonesia, dialog antar umat beragama yang sifatnya resmi telah dilaksanakan sudah sejak lama, seperti salah satunya forum kerukunan umat beragama (FKUB). Tujuan dibentuknya forum ini adalah untuk menangkal persoalan-persoalan agama, baik yang ada di tingkat pusat maupun di daerah. Terbentuknya FKUB merupakan hasil keputusan bersama Mentri Dalam Negeri dan Mentri Agama yang tertuang dalam UU No. 8 dan. 9 Tahun 2006. Selain terbentuknya FKUB, telah di bentuk pula berbagai organisasi dialog keagamaan seperti Indonesia Converence On Religious and Peace (ICRP), serikat jurnalis untuk keberagaman (SEJUK), pertemuan rutin para tokoh agama dengan presiden.

Maksud dan tujuan dibentuknya forum atau kelompok ini pertama-tama untuk melawan sikap intoleransi dan melakukan rekonsilisasi. Namun lebih dari pada itu, juga untuk menjamin kedamaian dan kerukunan, hal inilah yang menjadi ekspetasi dari kita semua. Selain dialog yang dilaksanakan dalam situasi formal, adapula dialog yang informal yang memiliki orientasi yang sama yaitu untuk menciptakan kerukunan dan melawan setiap tindakan intoleren. Salah satu dialog informal yaitu dialog kehidupan yang berlangsung di dalam seluruh proses kehidupan masyarakat. Pelaksanaan dialog ini melalui dua bentuk, yaitu melalui pengalaman hidup harian dan dalam konteks penting seperti silaturrahmi.
Dialog sangat penting untuk hadir di tengah maraknya masalah antar agama. Dialog hadir sebagai mediasi atau sebagai jembatan untuk menangkal sikap intoleran lewat diskusi dalam forum-forum dialog guna melakukan rekonsilisasi. Sebab jika setiap sikap intolern dipelihara dan dibiarkan begitu saja maka dengan sendirinya hal itu akan membawa perpecahan bagi bangsa dan negara yang plurals. Tentunya disintegrasi itu tidak pernah diharapkan untuk terjadi, karena dialog antar umat beragama meruapakan fondasi nutuk menciptakan integrasi.

Macam-Macam Dialog

Berbicara tentang dialog tentunya merupakan hal yang paling urgen dan diperioritaskan, dengan alasan karena melalui dialog mampu untuk bertukar pikiran dan juga mencari opsi solutif dari suatu persoalan. Dialog memiliki berbagai macam dan di bawah ini merupakan penjelasan secara detail terkait dengan macam-macam dialog.

1. Dialog Karya

Dialog karya yaitu dialog yang mencakup kerja sama dalam proyek kemanusiaan seperti doa bersama, meditasi di hadapan Tuhan Pencipta Semesta dan Tuhan Sang Pemberi Kehidupan. Dengan tujuan untuk meneguhkan iman, yang menjadi indikasi bahwa kita adalah umat beragama.

2. Dialog Tematis

Dialog tematis yaitu dialog yang membicarakan pokok atas persetujuan dua pihak dan atas permintaan pihak lain. Pokok ini dibicarakan dalam pertemuan, baik yang terbuka maupun yang tertutup, atau diuraikan dalam tulisan. Tujuannya adalah untuk mengerti bagaimana partner dialog mengerti dan memahami imannya, dan juga bisa untuk meluruskan salah paham tentang pandangan pihak lain.

3. Dialog Informal Atau Dialog Kehidupan

Dialog kehidupan mencakup segala pergaulan, kerja sama dan intraksi sosial antar penganut-penganut agama yang lain. Dialog semacam ini timbul secara spontan sesuai dengan pola hidup masyarakat sehari-hari. Tentunya dialog ini akan terpenuhi jika hidup antar agama rukun dan damai, dengan memberikan nilai-nilai imannya tanpa memaksa. Dialog kehidupan ini sangat penting dalam kehidupan bersama. Dialog mesti menjadi pusat perhatian dalam artian dialog ini mengajarkan untuk selalu bekerja sama dalam bidang apa-pun untuk menciptakan nilai-nilai keadilan sosial, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya.

4. Dialog Formal

Dialog formal yaitu dialog yang bersifat formal yang pokoknya mengenai teologi, masalah sosial, norma-norma dan lain-lain. Menurut pandangan Islam dialog ini dibedakan menjadi dua yaitu: pertama, tahadi yaitu usaha menarik para peserta untuk sampai kepada pemehaman sendiri. Yang kedua Hiwar yaitu peretemuan antar agama yang memprhatikan tujuan umum dari setiap agama yakni menegedepankan nama Allah Yang Maha Kuasa.
Gus Dur mengatakan, bahwa dialog antar-agama diperlukan dalam rangka menjalin kerjasama antar umat beragama terutama dalam hal-hal yang menyangkut kepentingan umat manusia. Bagi Gus Dur kerjasama penting umat beragama dalam hal muamalat, yakni memperbaiki nasib bersama dalam mencapai kesejahteraan materi. Dengan menggunakan semangat ajaran masing-masing umat beragama bekerjasama untuk mengusahakan dan mengatur kesejahteraan masyarakat.
Dapat kita pahami bahwa kerjasama dan dialog antar-agama yang dimaksud Gus Dur adalah membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan muamalat, interaksi sosial, bukan masalah keimanan, keyakinan dan ibadah masing-masing agama. Jika demikian, permasalahan-permasalahan tersebut banyak dijumpai di sekitar kita. Misalnya, masalah kemiskinan, kesehatan masyarakat, hak-hak kaum buruh, kerusakan lingkungan, penyalahgunaan teknologi, penanggulangan bencana, kenakalan remaja, persamaan hak didepan hokum, kerukunan antar umat beragama, keadilan yang tidak merata, dan lain-lainnya. Semua itu membutuhkan urun rembug dan kerjasama dari umat beragama untuk menanganinya. Masing-masing bisa saling melengkapi dan bahu membahu menyelesaikan problem kemanusiaan tersebut. (Mualim: Geotimes.co.id. diakses pada 03/03/2024)***