Oleh: Markus Boki Koten
Mahasiswa Semester 1 Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero
Keadilan sebagai intensi yang baik sebuah perjuangan akan kebenaran bagi orang lain, menjadi sorotan kontemporer. Lemahnya pemahaman tentang keadilan menjadi pemicu ketimpangan-ketimpangan dalam suatu sistem pemerintahan. Negara yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan aktual tentang ketimpangan ialah negara tercinta Indonesia. Keadilan kini menjadi kepentingan pribadi yang muncul dari para kelas atas sebagai propaganda demi kesenangan pribadi. Masyarakat diperdaya dengan janji-janji manis seiring berkibarnya bendera partai dan poster caleg di sepanjang jalan. Toh pada akhirnya asing di atas kursi jabatan.
Problem ini harus di lihat sebagai intimidasi terhadap pemerintahan negara kita tercinta. Secara sepihak dapat disimpulkan bahwa tindakan penguasa ini merupakan keserakahan ketika mendapat kesempatan istimewa. Persepsi tersebut perlu untuk melakukan riset lebih lanjut, melihat bahwa sebagian pemimpin secara akuntabel menjalankan kepercayaan. Tendensi negatif ini harus segera ditindak lanjuti demi kesejahteraan bersama.
Oleh karena itu perlu bagi kita untuk melihat edukasi keluarga sebagai sekolah pertama. Keluarga sebagai tempat persemaian benih-benih pemimpin yang akan terjun ke tengah dunia. Selain itu, yang terpenting adalah melihat hubungan keluarga dan keadilan sebagai tanggapan atas teriakan keadilan kontemporer.
Ilustrasi dan Tanggapan
Ada dua orang, katakan saja Si-A dan Si-B sedang berburu di hutan yang luas. Kerja keras mereka membawa hasil tiga ekor babi hutan. Ketika hari hampir gelap mereka pun segera pulang membawa hasil buruan mereka. Sesampainya di rumah, katakan saja rumah Si-A mereka kesulitan dalam membagi hasil buruan mereka. Segala cara telah dilakukan tetapi belum sampai pada titik keadilan. Menyadari bahwa mereka tidak berpendidikan, mereka memanggil salah seorang di kampung yang berpendidikan, katakan saja Si-C. Setelah mendengar keluhan mereka Si-C tersenyum. Akhirnya Si-C angkat bicara, “Jadi begini, babi ada tiga ekor, kau (Si-A) mendapat satu ekor dan kau (Si-B) mendapat satu ekor”. “Lalu yang satu ini untuk siapa?”, tanya mereka. “Babi satu ekor ini untuk saya”, jawab Si-C. Kedua pemburu itu tersenyum sambil mengangguk-angguk dan berkata, “ini baru adil”.
Narasi singkat di atas merupakan deskripsi pemerintahan saat ini. Masyarakat terlena oleh kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh para penguasa serakah. Masyarakat dalam keterbatasan pengetahuan ataukah ketangkasan pemimpin dalam memanipulasi membuka ruang bagi kesenjangan dalam sistem pemerintahan. Kerja keras mekanistik dalam memperjuangkan kesejahteraan kolektif digarap oleh oknum-oknum tertentu yang berkedok keadilan. Peristiwa ini memicu maraknya kesenjangan sosial seperti munculnya kriminalitas, tingkat kemiskinan bertambah, angka pengangguran meningkat, dan lain-lain.
Namun di lain pihak, para petinggi negara ini sibuk menimbun kekayaan dan berpenampilan hedonis di sela-sela jeritan kelaparan masyarakat pinggiran. Ketimpangan ini kemudian di tanggapi lewat demonstrasi. Aksi demonstrasi brutal baru-baru ini, mendestruktif fasilitas negara. Hala ini terjadi karena aspirasi masyarakat tidak direspons oleh pihak yang bertanggungjawab. Mereka tidak mampu mempertanggungjawabkan persoalan masyarakat lalu bersembunyi di balik aparat keamanan. Polisi sebagai aparat keamanan yang disoroti pedemo tunduk pada perintah penguasa. Hal ini memicu konflik baru antara polisi dan masyarakat (pedemo).
Keluarga Sebagai Edukasi Awal
Dunia pendidikan membutuhkan teori, konsep, dan praktik dalam ruang pembelajaran. Keluarga sebagai jaminan anak hidup dan berkembang di dunia ini. Keluarga menciptakan ruang edukasi awal lewat teori dan konsep yang mengatur dan menjadi dasar hidup harmonis. Dari keluarga juga sorang anak mendapatkan ruang edukasi informal dan boleh mengimplementasikan dalam keseharian. Substansi dari edukasi dalam keluarga menekankan pada pembentukan karakter anak. Sehingga edukasi dalam keluarga menjadi dasar dan keharusan yang esensial. Namun tidak menutup kemungkinan keluarga memberi pengaruh buruk dalam perkembangan seorang anak.
Socrates Menggambarkan bahwa manusia bukanlah makhluk yang cukup pada dirinya. Manusia membutuhkan orang lain dan kerja sama untuk dapat hidup. Relasi bebas ini dapat memberikan pengaruh buruk. Pengaruh buruk ini bisa datang dari dalam dan dari luar keluarga itu sendiri yakni lingkungan masyarakat. Sebagai penyedia ruang edukasi informal, keluarga bisa saja menjebak seorang anak dalam pengaruh negatif. Misalnya kesibukan orang tua menelantarkan anak ataukah kekerasan dalam rumah tangga menyebabkan psikologis anak terganggu. Bahkan yang lebih parahnya orang tua menerapkan sistem pendidikan otoriter. Pengaplikasian sistem ini bertujuan untuk mencapai hasil yang memuaskan orang tua. Namun penekanan yang berlebihan berdampak buruk bagi anak dalam kaitannya dengan tingkah lakunya. Maka tidak mengherankan munculnya pemimpin yang otoriter dan berlaku semena-mena.
Ketika keluarga salah meletakan dasar dalam diri anak maka dunia akan terus meneriak keadilan. Kebiasaan- kebiasaan yang keliru ini yang kemudian melahirkan pemimpin yang pandai menyeleweng. Karena dari hal kecil dan sederhana ini mendidik seseorang untuk melakukan kesalahan yang lebih besar dan merugikan banyak orang. Maka dari itu peran keluarga dalam proses pendidikan informal diharapkan dapat menerapkan sistem yang benar. Sehingga kepribadian anak yang sudah terbentuk secara baik dapat berguna bagi banyak orang dan tentunya mampu memperjuangkan keadilan dalam kehidupan nyata.
Daftar Pustaka
Garvey, James. 20 Karya Filsafat Terbesar. Yogyakarta: Kanisius, 2010.
Witono, Odemus Bei. Inspirasi Pendidikan Masa Kini. Jakarta: Kompas, 2024.








