Opini  

Krudung dalam Pernikahan Katolik: Mengoreksi Kesalapahaman Tentang Simbol Keperawanan

Ilustrasi pernikahan Gereja Katolik

Oleh: Ignasius Loyola Wae, Mahasiswa IFTK Ledalero

Pendahuluan

Pernikahan dalam gereja katolik merupakan hal yang sangat sakral karena seorang laki laki dan perempuan disatukan dalam ikatan yang suci dan akan menerima sakramen pernikahan. Pernikahan gereja katolik yang dalam pembahasan ini adalah pemakaian krudung memiliki pemahaman yang mendalam bagi masyarakat setempat secara khusus bagi masyarakat NTT pada umumnya. Pemahaman yang sebenarnya dalam gereja katolik mengalami pergeseran pemahaman dari yang sebenarnya, ada beberapa perspektif mengenai pemakaian krudung tersebut sebagai simbol keperawanan. Pandangan ini meskipun secara umum keliru dan memerlukan penjelasan yang lebih lanjut, akan tetapi Pada kesempatan ini saya akan membahas mengapa krudung dalam pernikahan gereja katolik tidak harus di pandang sebagai simbol keperawanan, melainkan mempunyai makna dan simbol spiritual yang lebih luas.

Isi/Argumen

Pemakaian krudung pada mempelai wanita dalam pernikahan katolik sebenarnya telah ada sejak zaman dulu di Roma dan di populerkan lagi di Inggris pada tahun 1800. Pada saat itu masyarakat percaya bahwa krudung merupakan simbol kesucian, kemurnian, dan kesederhanaan dari mempelai wanita serta yang paling penting adalah berkat Tuhan dan perlindungan dari roh jahat yang konon pada saat itu, roh jahat sangat tertarik pada perempuan.

Maka, dengan adanya krudung perempuan dilindungi dari roh jahat. Mengenai pemahaman tentang pamakaian krudung, merupakan sebuah ritus tambahan yang sama halnya dengan pengenaan cincin pernikahan, namun yang perlu di tekankan adalah keterbukaan antara kedua mempelai yaitu mempelai laki laki dan mempelai perempuan demi menjaga keharmonisan dalam hubungan.

Pemahaman tentang krudung sebagai simbol keperawanan mempunyai dampak sosial, dimana pemahaman ini merupakan tindakan diskriminasi yang merugikan perempuan serta terjadi ketimpangan sosial yang partiarkat karena seorang laki laki tidak mempunyai tanda yang menandakan bahwa Ia masi perjaka dan hanya menyoroti keperawanan perempun saja. Seiring berjalanya waktu pemahan tersebut menjadi suatu budayah.

Pemahaman tersebut dapat saya katakan kliru karena mempunyai simbol dan makna yang sebenarnya dalam pernikahan gereja Katolik yakni: krudung menyimbolkan kesucian dan kemurnian yang bermakna niat yang tulus dalam memasuki pernikahan dan komitmen hidup yang murni untuk saling mencintai dalam kasih Tuhan, dan kesederhanaan yang bermakna bahwa Ia adalah hamba Tuhan dan menyerahkan pernikahannya kepada sang pemersatu ilahi, serta mempunyai pemaknaan yang lain berupa tindakan menutupi kepala dipandang sebagai bentuk kerendahan dan hormat di hadapan Allah.

Kesimpulan

Secara keseluruan Pemahaman mengenai pemakaian krudung dalam pernikahan gereja Katolik tetap mempunyai simbol yang sangat mendalam dan kaya akan pemaknaannya. Namun, pemaknaanya sering mengalami pergeseran oleh pemikiran pemikirandan mungkin dalam pemaknaannya akan mengalami perubahan dari masa ke masa. Namun yang terpenting adalah pasangan dapat mengerti simbol dan pemaknaannya seturut pemahaman gereja serta bagaimana mereka ingin merayakan sakramen pernikahan mereka di hadapan Tuhan.