Oleh: Yulius Lune
Dewasa ini, alam tempat manusia merealisasikan eksistensinya berada dalam kondisi yang mencemaskan. Bagaimana tidak, hutan yang dulu terlihat hijau dan merupakan paru-paru bumi kini ketersediaannya semakin berkurang karena dirambah secara liar dan besar-besaran oleh karena keserakahan manusia. Kenyataan ini melahirkan krisis ekologi yang semakin parah. Descartes merumuskan jati diri manusia sebagai “sang penguasa dan penguasa alam semesta” pola pendekatan manusia modern itu terhadap alam dan sesamanya mengartikan Hasrat yang begitu kuat untuk menjadi lord and owner (Jhon Simon, 2022).
Kehidupan manusia yang dihadapkan dengan kemajuan teknologi yang begitu canggih dan modern menjadikannya sebagai titik fokus perhatian. Manusia adalah subjek yang membangun dirinya sendiri dan segala sesuatu di luar dirinya hanyalah sebuah afirmasi diri. Pola pandang Masyarakat modern ini menyebabkan hancurnya keharmonisan kosmos. Masyarakat modern melihat bahwa alam sebagai sesuatu yang ada demi kepentingan manusia. Manusia diselimuti oleh sifat egoisme dan eksploitasi alam secara besar-besaran hanya untuk kekuasaan, kebesaran dan kepentingan peribadi. Hal ini menjadikan manusia tentang kesadaran akan eksologi tidak mendapat perhatian.
Di sisi lain, jika ditelusuri lebih dalam bahwa krisis ekologi yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan oleh kemiskinan disatu pihak tetapi memberikan keuntungan bagi pihak lain. Menurut Rektor dan Dosen HAM di IFTK ledalero Dr. Otto Gusti Madung dalam penjelasan yang dipaparkan ia menyatakan demikian: wilayah khususnya di bagian yang terdapat pertambangan Geotermal seperti di Manggarai dan Mataloko semua itu terjadi dikarenakan daerah tersebut sudah dimanipulasi oleh orang-orang pintar. Mereka menyogok masyarakat kecil dengan memberikan uang dan meyakinkan bahwa penambangan geotermal tidak akan membawa dampak negatif bagi kelangsungan hidup masyarakat setempat. Kurangnya pemahaman serta rendahnya pendapatan dari masyarakat, membuat mereka menyepakati hal tersebut.
Selain faktor kemiskinan, kemajuan sains dan teknologi dewasa ini terus bergulir sejalan dengan mengalirnya sang waktu. Kesombongan manusia akan kedasyatan teknologi telah membuat manusia mejadi kurang peka terhadap segala macam ancaman malapetaka yang sudah ada di depannya. Kehadiran mesin-mesin industry bermutu tinggi telah membuat manusia menjadi rakus dalam mengolah isi alam ini. Segala macam hasil teknologi yang serba instan telah menutup mata manusia, sehingga dirinya tidak lagi menggeruk kekayaan yang ada demi pemenuhan keinginan yang besifat sementara. Lalu pertanyaannya bagi kita: bagaimana cara mencegah persoalan ekologi yang terus terjadi ini?(Ledalero, 2002).
Dalam ensiklik Laudato si oleh paus Fransiskus, menegaskan bahwa krisis ekologi yang ada dalam diri manusia menyebabkan bumi menjadi sakit. Pemanasan global, polusi, kehilangan keanekaragaman hayati, dan ketidakadilan terutama menimpa mereka yang miskin. Seruan ini tentu mempunyai suatu makna yang besar di mana kita semua diajak untuk mengubah cara pandang bahwa alam bukan hanya sekedar barang yang bisa saja dengan seenaknya dirusak melainkan lebih dari itu, kita diajak untuk terus merawat semua ciptaan Allah yang pada hakikatnya memiliki nilai yang intrinsik. Seruan paus ini mau menjelaskan bahwa kerusakan yang telah diperbuat terhadap alam itu sebagai suatu kesalahan (dosa ekologis) dan oleh karena itu, manusia haruslah merubah segala bentuk kejahatan tersebut dengan melakukan perubahan nyata pada lingkungan misalkan dengan melakukan reboisasi pada lahan yang kering dan tandus(Guido Situmorang, 2020).
Perlu di telusuri lagi dalam Kejadian 2:15 berbunyi “Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya di taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Manusia diberi mandat “memerintah” ciptaan, tapi bukan semata dominasi tetapi lebih mengarah pada tanggung jawab merawat dan menggunakan alam dengan bijak. Jadi Allah mencipatakan bumi ini bukan semata-mata diperuntukan bagi manusia saja tetapi bagi semua makhluk yang hidup di dalamnya. Kita tahu bahwa bumi kita sekarang sedang menjerit kesakitan dikarenakan sifat dan ambisi dari manusia untuk berkuasa. Bisa kita saksikan sendiri bagaimana parahnya kota Mataloko yang dulu terlihat asri kini hancur akibat kerakusan dari bebarapa oknum yang tidak bertanggung jawab. Lebih hancurnya lagi Ketika menyaksikan pulau Raja Ampat yang merupakan destinasi dan tempat pariwisata yang terkenal ke mancanegara kini telah hancur akibat ulah manusia.
Oleh karena itu, sesungguhnya alam tempat manusia berpijak ini “merindukan” kebebasan dari kerusakan dan penderitaan yang sedang dialami, serta keinginan untuk pulih dari segala keterpurukan itu. Seorang bijak mengatakan “satu Tindakan nyata lebih berarti dari pada beribu kata-kata kotbah. Oleh karena itu, seluruh masyarakat Indonesia tanpa terkecuali harus bisa menyembuhkan kembali bumi kita ini. Tidak perlu harus dengan Tindakan besar tetapi cukup dengan Tindakan kecil saja. Misalnya dengan tidak membuang sampah disembarang tempat, tidak membabat hutan secara liar, mencintai makhluk yang hidup di alam bebas dan tidak berburu secara liar, serta menanam kembali pohon di tempat yang telah rusak (reboisasi). Lebih dari itu, manusia dituntut untuk meninggalkan kebiasaan lama yang sering menyebabkan bumi ini nangis.
Konsep manusia sebagai “tuan dan pemilik alam” yang dikemukakan oleh René Descartes mencerminkan suatu paradigma yang menempatkan manusia di atas hirarki ciptaan, dengan kuasa untuk menguasai, memanipulasi dan mengeksploitasi alam semula jadi melalui akal dan sains. Pandangan ini telah memberi dorongan besar kepada perkembangan sains moden dan revolusi industri, namun pada masa yang sama menyumbang kepada kerosakan alam sekitar, eksploitasi sumber semula jadi yang berlebihan, dan krisis ekologi global. Dalam konteks masa kini, konsep “lord and owner” perlu dinilai semua pihak bukan untuk menolak kemajuan, tetapi untuk menyeimbangkan antara kuasa manusia dan tanggungjawab terhadap kelestarian alam. Manusia bukan semata-mata penguasa, tetapi penjaga dan pemegang amanah terhadap ciptaan yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Oleh karena itu, mesti ada kesadaran dalam diri masing-masing orang untuk secara sadar dan mau merawat bumi pertiwi ini.







