Oleh: Hedwig Cecen Dewatan
Imortalitas adalah sebuah konsep yang dibangun manusia dari berbagai aspek kehidupan dalam rangka penyempurnaan hidup dewasa ini. Imortalitas humanisme telah tumbuh dari waktu ke waktu mengikuti kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia selalu mendesak dari berbagai hal, menumbuhkan pendekatan ilmiah yang teruji, untuk mencapai kesempurnaan. Namun, apakah untuk mencapai kesempurnaan itu, manusia mempertimbangkan hukum moral? Bagaimana pandangan Gereja Katolik mengenai imortalitas? Apakah imortalitas dan moral dapat berjalan beriringan?
Kesenjangan-kesenjangan pemahaman tentang kemanusiaan, menimbulkan berbagai masalah tentang Hak-Hak Asasi Manusia. Di satu sisi, penyempurnaan menuju manusia dewa, telah melakukan berbagai riset ilmiah yang mengancam kesejahteraan manusia. Di lain pihak, kemanusiaan adalah keutamaan yang memiliki martabat serta nilai yang luhur. Namun, kedua paham ini, telah melakukan perjalanan panjang humanisme, saling bahu membahu menuju keimortalan. Singkatnya, imortalitas dan moral telah mengisi kekosongan satu sama lain pada hal kemanusiaan yang masih rapuh.
Gereja dalam ajarannya, menyatakan imortalitas ada pada kehidupan setelah kematian. Kehidupan setelah kematian itu telah tertulis pada Kitab Suci yang dijanjikan Tuhan. Mereka percaya bahwa, ketika umat manusia memiliki dan menjalani hidup sesuai ajaran Yesus, maka manusia akan mendapat hidup yang kekal. Menurut mereka manusia hidup di dunia, telah memiliki martabat yang utuh dan tidak bisa ditukar. Sehingga mereka dalam hal tertentu mengenai manusia imortal, kurang sepakat karena martabat manusia malah dipertaruhkan. Dogma-dogma telah dinyatakan oleh Gereja sebagai dukungan kemanusiaan. Dalam paham Gereja, manusia adalah ciptaan yang teramat istimewa dari ciptaan lainnya. Jadi, sebagai ciptaan yang istimewa, manusia memiliki martabat.
Manusia adalah mahkluk yang memiliki martabat dan makna dari kehidupan ini. Berbagai kendala kemanusiaan selalu menjadi masalah yang harus diatasi sesegera mungkin. Sehingga, berbagai aspek kehidupan, seperti moral, selalu mengkhawatirkan pertumbuhan yang berdampak pada kemanusiaan itu sendiri. Namun, kehidupan manusia harus terus berkembang dalam sebuah kemakmuran bersama, sehingga dalam konsep-konsep tertentu moral dan paham imortal, memiliki tujuan yang sama, yaitu menuju kemakmuran jagat.
Perbuatan sesama manusia yang menghilangkan atau menghancurkan martabat sesamanya adalah sebuah kesalahan. Termasuk penelitian yang berhubungan dengan manusia, yang menjadikan manusia sebagai objek uji coba, sangat bertentangan dengan martabat manusia itu sendiri. Namun imortalisme, telah manghadapi masalah ini dengan paham bahwa, manusia ” super ” adalah tujuan sejati dan sebuah makna yang tidak dapat ditawar. Melalui perkembangan zaman dan tuntutan moral yang semakin maju ilmuan telah melakukan riset dengan pertimbangan kemanusiaan.







