Oleh : Aloysius Sipa (Tingkat 1 Prodi Filsafat IFTK Ledalero)
Budaya merupakan warisan para leluhur yang patut dijaga dan dipelihara oleh setiap individu. Keberadaan budaya tidak terjadi begitu saja tetapi juga melalui pengalaman dan kebiasaan yang terjadi di suatu tempat. Perubahan zaman juga sangat membawa dampak yang cukup signifikan bagi kehidupan, terlebih khusus dalam bidang budaya. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi budaya menjadi titik refleksi dari norma- norma, tradisi dan identitas dari masyarakat juga terlibat dari perubahan itu.
Dalam tradisi orang Manggarai, songke mempunyai peran penting dalam pelbagai ritus dan kehidupan mereka. Songke merupakan kain tenun yang selalu digunakan oleh orang-orang Manggarai dalam aneka situasi baik sebagai pakaian keseharian maupun dalam ritus-ritus sakral. Songke menjadi tanda martabat orang Manggarai yang amat dijunjung tinggi. Ketika mereka mengenakan songke, dibalik itu ada simbol kewibawaan yang ikut dikenakan. Bagi kaum Perempuan Manggarai, songke begitu penting karena ini menjadi symbol jati diri mereka. Tanpa songke sesungguhnya mereka merasa diri tak ada identitas. Dalam seluruh aktivitas harian yang dilakukan, mereka selalu mengenakan songke sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur dan alam semesta.
Mirisnya, pada zaman ini songke mengalami pergeseran dalam arti nilai maupun bentuk. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam songke mulai pudar di mata masyarakat. Perkembangan dunia yang begitu pesat pelan-pelan melunturkan makna filosofis songke terutama di kalangan perempuan Manggarai. Perempuan Manggarai yang seharusnya Deng Songke (mengenakan songke), kini dirasuki dengan adanya kebiasaan baru yang dibawa dari budaya asing, yakni mengenakan celana umpan (CU). Celana umpan adalah celana yang dikenakan oleh banyak kalangan perempuan dengan berbentuk minimalis. Sejatinya, ini adalah fenomena yang sedang marak terjadi saat ini. Tren celana umpan kini membumi di semua kalangan perempuan baik muda maupun tua sekalipun. Fenomena ini juga memicu terjadinya tindakan kriminal dan seksualitas yang tinggi dalam Masyarakat.
Kehadiran fenomena “celana umpan” ini membawa pengaruh dalam kultur dan tradisi masyarakat termasuk kaum perempuan Manggarai. Orang mulai mengabaikan tradisi Deng Songke yang sarat makna menuju tren modern ‘celana umpan’. Tentunya hal ini, adalah buah dari kemajuan teknologi dan informasi yang melonjak tinggi di seantero pelosok bumi. Nilai-nilai etis yang terkandung dalam ’Deng Songke’ dirongrong oleh munculnya kebiasaan dunia barat yang lebih terbuka, misalnya celana umpan. Orang lebih tertarik dan terpikat dengan ‘hal-hal yang terbuka’ celana umpan dari pada mengenakan songke. Hal ini menjadi perhatian serius untuk generasi Gen-Z agar tidak mudah terbuai dengan rayuan dunia yang kekinian. Oleh karena itu, generasi Gen-Z Manggarai mesti disadarkan Kembali untuk tidak meninggalkan tradisi deng songke yang telah diwariskan turun temurun oleh para leluhur. “Mari Kembali, Kita Bangkit Bersama Tradisi”.








