EXPONTT.COM, KUPANG – Dalam rangka meningkatkan kompetensi dan profesionalime guru dan tenaga kependidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Seminari Santo Rafael (SMASSTRA) Kupang, menggelar In House Training (IHT).
Kegiatan yang diikuti oleh 23 tenaga pendidik tersebut digelar mulai Senin, 17 Juli 2023 hingga Rabu, 19 Juli 2023 mendatang.
Dalam kegiatan tersebut tenaga pendidik dan tenaga kependidikan diberikan sejumlah materi dari para pemateri berasal dari internal SMASTRA, guru pengerak dan Yayasan Swasti Sari Keuskupan Agung Kupang.
Baca juga: LPPDM Ruteng Gelar Demo Ke Bank NTT Hari Ini, Senin 17 Juli 2023 Akibatkan Amburadulnya Manajemen
Para peserta mendapatkan sejumlah materi, mulai dari perencanaan strategi SMASSTRA hingga merencanakan pendidikan yang menunjang visi misi formandi calon imam di era digital.
Dalam acara pembukaan IHT, Kepala SMA Seminari Santo Rafael Kupang, Rm. Fengky Kopong, Pr, mengatakan di zaman virtual dan digital saat ini pola pendampingan terhadap peserta didik atau formandi (bahasa latin bagi seminaris) harus mengikuti perkembangan zaman dan harus meninggalkan pola-pola konservatif dan kaku dengan aturan yang mengikat.
“Pendampingan dan pembinaan harus membuka ruang bagi formandi untuk mengekspresikan dirinya, bukan berarti kebebasan secara mutlak berjalan sesuai keinginannya,” jelasnya.
Baca juga: Frans Aba Gubernur 2024, ”Membangun Orang-Orang Yang Menderita Karena Korban Korupsi”
Terkait hal tersebut, Rm. Frengki berharap kehadiran formator atau guru, bisa menjadi penyeimbang dan memberi sisi kemanusiawian bagi perkembangan hidup dan panggilan formandi.
Dirinya mengakui perkembangan zaman memberi ekses positif dalam konteks komunikasi dan pelbagai usaha untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama.
Namun, lanjut Rm Frengky, dalam konteks pedagogik (metode belajar), dibutuhkan suatu pendampingan yang tepat dan terarah bagi anak-anak para formandi dalam keluarga dan bagi lembaga pendidikan dan pembinaan.
Baca juga: Perundungan Dilingkungan Sekolah, Membunuh Masa Depan Anak
Terkait hal itu, dirinya berharap seorang formator atau guru memiliki kecerdasan untuk menimbang dan memutuskan apa yang terbaik dan pantas untuk diperoleh formandi lewat cara-cara pembelajaran yang tepat.
“Dengan pendampingan yang tepat mutu formandi dapat diakui sebagai manusia yang tanggap zaman dan juga memiliki iman yang teguh,” jelasnya.
Dirinya juga berharap Formator guru hendaknya memiliki kesiapan yang memadai untuk pembedaan roh dan menghormati dokumen gereja tentang panggilan imam. “Juga memiliki motivasi persiapan psikologis yang memungkinkan dia melihat motivasi sejati calon imam,” ungkapnya.








