Syarat Mengikuti Yesus

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk – Ka SMPK Frateran Ndao – Ende

SEMANGAT PAGI, dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan tentang Pemberitahuan Pertama Tentang Penderitaan Yesus dan Syarat syarat Mengikut Dia (Mat. 16: 24 – 28).

Menjadi murid dan pengikut Yesus, tidaklah mudah. Mengapa demikian? Karena jalan yang dilalui adalah jalan salib, dan bukan jalan pintas, bukan juga jalan tikus, apalagi jalan tol. Namun, jika setia pada jalan salib, atau jalan penderitaan, maka akan memperoleh kemuliaan dan keselamatan. Sebab, tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan. Atau tidak ada keselamatan tanpa salib. Oleh karena itu, Yesus bersabda kepada para murid Nya ” setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikuti Aku”.

Inilah syarat menjadi murid Yesus, yakni pertama menyangkal diri: artinya menyampingkan identitas duniawi dan fokus pada identitas sebagai murid dan pengikut Yesus. Atau bisa juga berarti tidak mengikuti keinginan daging (diri sendiri). Itu artinya pula kita menyalibkan kedagingan kita, keegoisan dan keinginan diri demi mengutamakan Allah, menempatkan Allah lebih utama dalam diri sendiri atau tidak menjadikan diri kita sebagai pusat atau yang terpenting. Dan juga tidak bertindak sekehendak hati, tetapi siap melakukan sesuatu atau bahkan berkorban demi orang lain..

kedua memikul salib: artinya rela menerima tanggung jawab dan konsekuensi mengikut Yesus. Atau rela memikul perjuangan dan kesulitan hidup bahkan derita sebagaimana Yesus yang memikul salib Nya menuju puncak kalvari, tanpa mengeluh dan meronta. Inilah jalan Tuhan, yakni jalan salib yang harus diikuti dan ditapaki oleh para murid dan pengikut Nya, termasuk kita.

Dan cara hidup serta jalan seperti inilah yang harus kita ikuti dengan setia seperti Yesus juga setia dan taat kepada kehendak Bapa Nya Maka, pertanyaan adalah sebagai murid dan pengikut Yesus, apakah kita sudah menyangkal diri terhadap keinginan kedagingan kita dan berani berkata TIDAK terhadap keinginan kedagingan tersebut? Atau apakah kita bisa melepaskan keegoan kita, demi orang banyak? Atau apakah kita tetap setia sebagai murid dan pengikut Yesus, walau banyak menanggung penderitaan dan kesulitan dalam hidup? Atau adakah kita tetap setia walau kita diejek, dicemooh, dikafirkan karena kita adalah murid dan pengikut Yesus? Ingatlah barangsiapa yang setia sampai akhir akan selamat (bdk. Mat. 24: 13)

Semoga demikian 🙏🙏