Pria dan Wanita, sama – sama diciptakan oleh Allah

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk – Ka SMPK Frateran Ndao – Ende.

SEMANGAT PAGI, dalam bacaan Injil hari ini dikisahkan tentang Perceraian (Mat. 19: 3 – 12).

Perceraian merupakan putusnya ikatan dalam hubungan suami istri yang berarti putusnya hukum perkawinan, sehingga keduanya tidak lagi berkedudukan sebagai suami istri dan tidak lagi menjalani kehidupan bersama dalam suatu ikatan rumah tangga. Pertanyaannya adalah mengapa terjadi perceraian? Terjadinya perceraian karena ada banyak faktor, misalnya: faktor ekonomi, ketiadaan komitmen, selingkuh atau tidak setia, perselisihan atau pertengkaran atau konflik, kecurigaan yang berlebihan, tidak ada rasa saling percaya, tidak saling terbuka.

Dari sekian faktor, sesungguhnya penyebab utama, sehingga terjadinya perceraian adalah tidak adanya sikap saling menghargai atau menghormati setiap perbedaan diantara pasangan. Sudah sangat jelas bahwa pria dan wanita diciptakan oleh Allah berbeda dengan maksud untuk saling melengkapi, saling mengisi kekurangan.

Perbedaan itu, bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling memperkaya. Oleh karena itu, sejak awal pria dan wanita yang dianugerahkan Allah untuk menjadi suami istri harus hidup bersatu dan bersekutu, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah, mereka itu bukan lagi dua melainkan satu. Artinya perbedaan itu telah dilebur menjadi satu daging dalam ikatan perkawinan.

Kata Yesus ” _karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia_”. Itu artinya pula bahwa Allah tidak menghendaki adanya perceraian, apalagi perkawinan katolik itu diikrarkan di depan altar Tuhan untuk sehidup semati dan hanya maut yang memisahkan. Oleh karena itu, perkawinan katolik adalah monogami, artinya satu pasangan untuk seumur hidup. Dan manakala terjadi perceraian itu artinya keduanya telah mengingkari sumpah atau janjinya di depan altar Tuhan.

Dengan demikian, keduanya telah berbuat dosa*. Maka, *mari jangan bertegar hati, melainkan saling menghargai dan menghormati pasangan, sembari perkuat komitmen, dan pertebal rasa saling percaya, serta berusaha untuk saling terbuka satu dengan yang lain*.

Semoga demikian 🙏🙏