Jangan Menjadi Batu Sandungan

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk – Ka SMPK Frateran Ndao – Ende.

 

SEMANGAT PAGI, Sudahkah anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur? jangan lupa untuk memberikan senyum, sapa, sopan dan santun kepada sesama. Dan semoga harimu indah dan menyenangkan! Pada hari ini, gereja katolik sejagat memperingati Santo Maksimilianus Maria Kolbe, Imam dan Martir.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 17: 22 -27, yakni Pemberitahuan Kedua Tentang Penderitaan Yesus dan Yesus Membayar Bea Untuk Bait Allah. Dalam Injil hari ini, Yesus memberitahukan bagaimana Ia akan menderita sengsara dan wafat. Ia rela menderita sengsara dan wafat demi untuk menyelamatkan kita manusia dari dosa. Dia adalah batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang Kudus, di dalam Tuhan (Efesus 2: 19 – 21).

Kita adalah bangunan bangunan itu dengan Yesus Kristus sebagai dasarNya atau batu penjuru Nya. Dengan demikian, kita pun harus bisa menjadi batu penjuru, batu yang berharga, batu yang bernilai dan batu bermakna bagi sesama, melalui perbuatan baik atau tindakan kita yang santun. Jangan pernah kita menjadi batu sandungan bagi sesama. Batu sandungan berarti menghambat atau merintangi orang lain untuk bertumbuh dan berkembang dalam mental, dan psikis dan spiritual. Atau juga batu sandungan berarti menjerumuskan orang lain kedalam dosa.

Maka, mari semoga kita dalam hidup ini, harus selalu bisa menjadi batu penjuru yang berlandaskan pada Yesus Kristus dan bukan menjadi batu sandungan bagi sesama.

Semoga demikian!!