Lain Di Bibir, Lain Di Hati

Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk - Ka SMPK Frateran Ndao - Ende

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk – Ka SMPK Frateran Ndao – Ende.

 

SEMANGAT PAGI, Sudahkah anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur? Jangan lupa untuk memberikan senyum, sapa, salam, sopan dan santun kepada sesama. Dan semoga hari mu indah dan menyenangkan. Jangan lupa untuk selalu bahagia! Pada hari ini kita memasuki hari Minggu biasa XXXI.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 23: 1 – 12, yakni tentang Yesus Mengecam Ahli Ahli Taurat, Dan Orang Orang Farisi. Pertanyaannya adalah mengapa Yesus mengecam ahli ahli Taurat dan orang orang Farisi? Umumnya ahli ahli Taurat dan orang orang Farisi adalah para pemimpin atau pemuka agama. Sebagai seorang pemimpin atau pemuka agama, mereka harus mengajarkan ajaran yang baik dan benar kepada umatnya, serta sudah seharusnya mereka memberikan contoh hidup yang baik kepada umatnya. Bahwa apa yang mereka ajarkan, itulah pula yang mereka hidupi. Atau antara kata dan perbuatan harus sejalan, apalagi sebagai seorang pemimpin. Jangan sampai lain di bibir lain di hati. Antara perkataan dan perbuatannya tidak sejalan. Jika demikian, maka itulah namanya kemunafikan. Dan itulah yang dikecam oleh Yesus kepada ahli ahli Taurat dan orang orang Farisi, lantaran mereka munafik.

Yesus berkata: ” sebab itu, turuti lah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya”. Itulah karakteristik ahli ahli Taurat dan orang orang Farisi, yang sarat kemunafikan, yakni semua yang mereka kerjakan hanya dimaksud dilihat orang.

Bagaimana dengan kita? Adakah virus kemunafikan itu menjangkiti kita, yang mana banyak kali diantara kita antara kata dan perbuatan tidak sejalan. Lain di bibir, lain di hati. Banyak diantara kita, para orang tua, para pendidik dan tenaga kependidikan, suka mengajarkan, tetapi tidak diikuti dengan teladan dan kebiasaan hidup yang baik. Ada ungkapan latin: ” verba docent, exempla trahunt: kata kata mengajar, tindakan yang memberi teladan. Sebagai seorang pemimpin, sebagai orang tua, sebagai seorang pendidik, hendaknya mengajar dengan cara memberi teladan hidup. Kalau tidak kita akan dicap sebagai orang NATO (No Action, Talk Only atau No Action, Teach Only).

Maka, mulai saat ini kita harus selaraskan antara kata dan perbuatan kita, sembari apa yang diucapkan dibibir berasal dari hati. Jangan sampai lain di bibir, lain di hati. Akhirnya, mari kita buka atau tanggalkan topeng kemunafikan. Semoga demikian.

Selamat Berhari Minggu!!