Discernment Sebagai buah Sikap Hati Yang Tulus

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk

 

SEMANGAT PAGI, Sudahkah anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur? Jangan lupa untuk memberikan senyum, sapa, salam, sopan dan santun kepada sesama. Dan semoga hari mu indah dan menyenangkan. Jangan lupa untuk selalu bahagia!

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 1: 18 – 24, yakni tentang Kelahiran Yesus Kristus. Kelahiran Yesus Kristus, bukanlah hasil hubungan suami isteri, antara Yusuf dan Maria, yang memang sudah bertunangan. Dan sungguh kuasa Allah berbicara lain, sebab Maria ternyata sedang mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Bagi Yusuf tunangan Maria, itu merupakan aib. Dan oleh karena dia seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama Maria tunangannya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam diam. Dan saat Yusuf mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi. Malaikat itu menjelaskan kepada Yusuf, bahwa anak yang di dalam kandungan Maria adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki laki, dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dia lah yang akan menyelamatkan umat Nya dari dosa mereka. Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan Malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. Yang luar biasanya dari sikap Yusuf adalah ketulusan hatinya dan tidak mau mencemarkan Maria tunangannya; dia tidak tergesa-gesa, tidak emosional, tetapi dia mempertimbangkannya. Inilah proses discernment, sembari membuka hatinya, sehingga Tuhan melalui malaikat Nya bersabda kepada Yusuf dalam mimpi. Dan buah dari discernment nya adalah dia paham bahwa ternyata anak laki laki dalam rahim Maria tunangannya adalah Anak Allah, dari Roh Kudus. Kita bisa belajar banyak dari sikap Yusuf, yang melakukan discernment saat mengalami apa yang kita sebut sebagai aib. Andai itu adalah kita, pasti hal itu sudah heboh, sudah viral, sudah gosip. Bahkan ketimbang kita cari jalan keluar, malah kesempatan untuk kita bisa menjatuhkan atau menyingkirkannya. Kuncinya adalah pada ketulusan hati. Kalau kita tidak tulus dengan sesama, maka begitu ada masalah, itu adalah santapan yang lezat dari hasil gorengan, ditambah bumbu, dilengkapi dengan ngerumpi. Tetapi, ingatlah hidup kita tidak akan pernah aman dan nyaman, jika kita tidak tulus dan ingin mencemarkan nama sesama, dengan motif mau menjatuhkan, menyingkirkan dan menyudutkan. Semoga sikap Yusuf, menjadi inspirasi bagi kita.

Mudah mudahan!!