Mengampuni Sesama Tanpa Syarat

Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk - Ka SMPK Frateran Ndao - Ende

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk

 

SEMANGAT PAGI, Sudahkah anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur? Jangan lupa untuk memberikan senyum, sapa, salam, sopan dan santun kepada sesama. Dan semoga hari mu indah dan menyenangkan. Jangan lupa untuk selalu bahagia!

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 18: 21 – 35, yakni Perumpamaan Tentang Pengampunan. Pengampunan atau mengampuni atau memaafkan adalah kata yang mudah diucapkan, namun betapa sulit untuk dilakukan. Pertanyaannya adalah mengapa orang atau kita sangat sulit untuk memberikan pengampunan atau memaafkan sesama yang bersalah kepada kita, atau kita sendiri sulit untuk meminta maaf kepada sesama yang barangkali oleh sikap kita, tutur kata kita, hati dan perasaannya terluka atau tersakiti.

Biasanya orang sulit untuk memberikan pengampunan atau memberikan maaf, atau kita enggan meminta maaf karena: gengsi, atau harga diri menjadi rendah, malu, sombong, merasa diri paling benar, tidak level, dan berbagai alasan lain. Dengan kata lain, bahwa kunci untuk bisa memberikan pengampunan atau memaafkan sesama yang bersalah kepada kita atau meminta maaf kepada sesama yang kita lukai hati dan perasaannya adalah kerendahan hati.

Yesus bersabda:” belajarlah padaKu, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati”. Dan dari salib Yesus mengampuni para serdadu atau algojo yang mencambuk Nya, Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat (Lukas 23: 34). Kita pun adalah bagian dari para serdadu atau algojo yang ikut mencambuk Yesus dengan dosa dosa kita. Dan Yesus telah mengampuni kita. Maka, kita pun harus bisa mengampuni atau memaafkan sesama dan atau kita harus bisa meminta maaf kepada sesama, jika kita berbuat kesalahan, sebagaimana Tuhan telah memberikan contoh atau teladan mengampuni atau memaafkan kepada kita, walaupun dosa dan kesalahan kita berat. Dan sebagaimana Tuhan mengampuni kita tanpa batas dan tanpa syarat, maka kita pun harus bisa mengampuni atau memaafkan tanpa batas dan tanpa syarat kepada sesama.

Petrus bertanya kepada Yesus, berapa kali harus mengampuni, jika saudaranya berbuat dosa kepadanya? Sampai tujuh kali? Yesus menjawab: ” bukan! Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. Itu artinya tanpa batas, dan juga tanpa syarat. Sebab, banyak kali kita manusia memiliki syarat tersendiri. Padahal Tuhan mengampuni kita tanpa syarat.

Akhirnya, sekali lagi, agar kita bisa mengampuni atau memaafkan sesama, dan atau kita meminta maaf kepada sesama, kata kuncinya adalah kerendahan hati. Jika kita rendah hati, maka Tuhan akan meninggikan harkat dan martabat kita. Semoga demikian.