Mukjizat Sebagai Sebuah Kesaksian

Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk - Ka SMPK Frateran Ndao - Ende

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk

 

SEMANGAT PAGI, Sudahkah anda mengawali hari baru ini, dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan? Jangan lupa untuk memberikan senyum, sapa, salam, sopan dan santun kepada sesama. Dan semoga hari mu indah dan menyenangkan. Jangan lupa untuk selalu bahagia!

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 5: 31 – 47, yakni tentang Kesaksian Yesus Tentang DiriNya. Orang orang Yahudi tidak mau menerima dan percaya dengan kesaksian Yesus, bahwa Dia adalah Anak Allah. Juga Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian tentang siapa jati diri Yesus, namun tetap orang orang Yahudi tidak merubah pendirian mereka. Hati mereka telah mengeras, seperti batu. Namun, Yesus mengatakan kepada orang orang Yahudi, bahwa jika mereka tidak mau percaya dengan kesaksian Nya, atau kesaksian Yohanes Pembaptis, maka setidaknya mereka percaya dengan pekerjaan atau mukjizat yang dilakukan oleh Yesus. Sebab, pekerjaan atau mukjizat itu, mau mengungkapkan sisi ke Allah an Yesus. Bahwa mukjizat yang dikerjakan oleh Yesus, tidak mungkin bisa dikerjakan atau dilakukan oleh manusia biasa. Bahwa hanya Allah sajalah yang bisa melakukan pekerjaan atau mukjizat yang sangat luar biasa itu. Dengan demikian, secara tidak langsung Allah Bapa Nya memberikan kesaksian bahwa Yesus, adalah Anak Allah atau Putera tunggal Bapa.

Bagaimana dengan kita? Yesus memberikan contoh kepada kita para murid Nya, bahwa pekerjaan, profesi, tugas yang dipercayakan kepada kita harus dapat memberikan kesaksian bahwa kita adalah para murid Yesus. Ketika kita mengerjakan pekerjaan, profesi, tugas, dengan sungguh sungguh, dengan baik dan benar, dengan jujur, dengan semangat inovasi dan kreatif, dengan penuh tanggung jawab, maka itu bisa memberikan kesaksian tentang jati diri dan kualitas diri kita sebagai murid Yesus. Dengan demikian, orang orang akan berkata bahwa kita adalah murid murid Yesus dan juga Anak Anak Allah. Semoga demikian.