Tidak Makan Puji

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk

 

 

SEMANGAT PAGI, Sudahkah anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan? Dan apakah anda sudah memberikan senyum, sapa, salam kepada orang dekat anda dan mereka yang dijumpai di hari ini, dengan ramah, sopan dan santun? Jangan lupa untuk selalu bahagia. Dan semoga harimu indah dan menyenangkan.

Renungan hari ini, terinspirasi dari Injil Markus 12: 13 – 17, yakni tentang Membayar pajak kepada Kaisar. Orang-orang Farisi dan Herodian, berkonspirasi ingin menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Namun, sebelumnya mereka memuji Yesus setinggi langit, dengan berkata: seorang yang jujur, tidak takut kepada siapapun, tidak mencari muka, jujur mengajarkan jalan Allah. Tetapi sebagai Allah, Yesus tahu kedok atau pun kemunafikan dibalik pujian mereka. Oleh karena itu, Yesus berkata kepada mereka: ” mengapa kalian mencobai Aku?”. Sebab, mereka bertanya kepada Yesus: ” bolehkah kita membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?”. Yang menarik adalah Yesus tidak tergesa-gesa memberikan jawaban atas pertanyaan mereka. Dia justeru memberikan edukasi kepada mereka, dengan suatu permintaan dan pertanyaan juga. Yesus meminta mereka untuk menunjukkan suatu dinar kepada Yesus untuk dilihat -Nya. Dinar adalah mata uang koin yang terbuat dari emas.

Setelah Yesus melihat sekeping dinar itu, lalu Dia bertanya: ” gambar dan tulisan siapakah ini?”. Mereka menjawab: ” gambar dan tulisan Kaisar”. Maka, Yesus berkata kepada mereka: ” berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar, dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”. Jawaban Yesus sangat-sangat bijaksana, Dia tidak makan puji, walau Dia dipuji setinggi langit. Bagi Yesus kebenaran tetaplah kebenaran. Dia tidak memutar balikkan fakta. Yang benar tetap benar, yang salah tetap salah. Oleh karena itu, dengan tegas dan jujur, Dia mengatakan: ” berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar dan kepada Allah apa yang menjadi hak Allah”. Dengan mengatakan demikian, Yesus mengajarkan kepada orang-orang Farisi dan Herodian, termasuk kita tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara. Bahwa hendaklah kita menjadi warga negara yang baik, warga negara yang taat pajak, warga negara yang tahu tentang hak dan kewajiban, warga negara yang tahu mana yang benar dan mana yang salah, dan juga menjadi warga negara yang jujur dan jangan menjadi warga negara yang makan puji. Semua orang senang dipuji, namun jangan sampai menjadikannya sombong.

Akhirnya, makan puji jangan menjadikan kita buta terhadap kebenaran, sehingga yang benar menjadi salah. Atau juga menjadikan seseorang yang tegas, kuat menjadi lembek, lemah. Maka, mari kita belajar dari Sang Guru sejati kita, yakni Yesus yang tidak makan puji, walau disanjung atau dipuji setinggi langit. Semoga demikian.