Memandang Dia Yang Telah Mereka Tikam

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk

 

 

SEMANGAT PAGI, Sudahkah anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan? Dan apakah anda sudah memberikan senyum, sapa, salam kepada orang di dekat anda dan mereka yang dijumpai di hari ini dengan ramah, sopan dan santun? Jangan lupa untuk selalu bahagia. Dan semoga harimu indah dan menyenangkan. Pada hari ini gereja katolik sejagat merayakan hari Raya Hati Yesus Yang Maha Kudus.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 19: 31 – 37, yakni tentang Lambung Yesus Ditikam. Saat lambung Yesus ditikam oleh seorang prajurit dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air. Darah Kristus inilah yang menjadi dasar bagi Perjanjian Baru. Dan pada malam sebelum Yesus akan disalibkan, Dia mengedarkan cawan berisikan anggur kepada para rasul dan berkata, “cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu” (Luk 22:20).

Oleh karena itu, penuangan anggur pada cawan menjadi simbol bagi darah Kristus yang akan ditumpahkan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Darah Kristus tidak hanya menebus orang yang percaya kepada-Nya, dari belenggu dosa, tetapi juga untuk “menyucikan hati nuraninya dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya dia dapat beribadah kepada Allah yang hidup”(Ibrani 9:14). Ini berarti kita tidak hanya dibebaskan dari ketergantungan atas upaya dan usaha kita yang tidak bernilai dan berarti untuk menyenangkan hati Allah.

Karena darah Kristus telah menebus kita, maka kita sekarang menjadi ciptaan baru di dalam Kristus (2 Kor 5:17). Karena darah-Nya, kita dibebaskan dari belenggu dosa, sehingga kita bisa melayani Allah yang hidup; untuk memuliakan-Nya selama-lamanya. Dan semoga darah dan air yang mengalir keluar dari lambung Yesus, akan membasuh hati dan pikiran, tangan, kaki dan mulut kita, yang terkadang kotor, jorok. Sebab, terkadang juga kita tanpa kita sadari, kita juga ikut menikam lambung Yesus dengan “tombak”, melalui: cara hidup, cara bersikap, cara berperilaku, cara bertutur kata dan cara perbuatan kita, yang tidak mencerminkan sebagai seorang murid Yesus.

Dan baiklah kita memandang Yesus yang telah kita tikam di salib, sembari menyesali dan bertobat, seraya berdoa memohon: Yesus yang lemah lembut, rendah hati dan murah hati, jadikan hati-ku, seperti hati-Mu. Amin.