Mengasihi Musuh dan Berdoa Untuknya

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk

 

 

 

SEMANGAT PAGI, Sudahkah anda mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan? Dan apakah anda sudah memberikan senyum, sapa dan salam kepada orang didekat anda dan mereka yang dijumpai di hari ini dengan ramah, sopan dan santun? Jangan lupa untuk selalu bahagia. Dan semoga harimu indah dan menyenangkan.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 5: 43 – 48, yakni tentang Yesus dan Hukum Taurat. Bacaan Injil hari ini merupakan bagian akhir dari perikop Injil hari kemarin. Pada bagian akhir dari perikop Injil Matius 5: 17 – 48 ini, Yesus mengajarkan kepada para murid dan pengikut-Nya, untuk menghayati ajaran hukum Kasih. Ini tidak hanya sekedar ajaran hukum Kasih, tetapi sekaligus perintah baru, yakni perintah untuk mengasihi sesama manusia siapapun dia, termasuk yang beda suku, agama dan budaya dengan kita, bahkan termasuk para musuh atau orang yang berbuat jahat atau orang yang melukai hati dan perasaan kita. Tidak hanya mengasihinya, melainkan kita juga harus berdoa untuknya. Dan sebagai murid dan pengikut Yesus, ini tidak tawar menawar alias suatu keharusan, sebab Yesus sendiri yang telah memberikan contoh dan teladan, ketika di salib, Ia mengasihi para musuh-Nya dan berdoa bagi mereka: ” Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Lukas 23: 34).

Kelihatannya memang sulit, tetapi sebagai murid Yesus ini menjadi tuntutan yang harus dilakukan untuk mengasihi dan mengampuni, serta berdoa bagi musuh, atau mereka yang berbuat jahat atau mereka yang melukai hati dan perasaan kita. Dan untuk bisa melakukan itu, memang harus ada kerendahan hati, tanpa kerendahan hati kita tidak bisa mengasihi, dan mengampuni serta berdoa bagi mereka yang tidak menyukai kita itu. Dan jika Yesus adalah Guru dan Tuhan bisa melakukan itu, harusnya kita sebagai murid dan pengikut-Nya juga bisa melakukan itu. Sebab dengan demikian, kita sungguh-sungguh menjadi murid dan pengikut-Nya, serta menjadi anak-anak Bapa di Surga.

Jadi, sebagai murid dan pengikut Yesus, kita harus berani tampil beda yang positif, karena dengan demikian kita harus sempurna sebagaimana Bapa di Surga sempurna adanya. Semoga demikian.