♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk
DAMAI SEJAHTERA bagimu para saudaraku ytk. Adakah para saudaraku dalam keadaan damai, sehat dan bahagia? Agar para saudaraku hidup dalam damai, sehat dan bahagia, maka harus membuka hati dan pikiran kepada Tuhan.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Yohanes 6: 44 – 51, yakni roti hidup. Bacaan Injil hari ini merupakan kelanjutan dari perikop Injil hari kemarin. Pada
hari ini, Yesus menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Nya tanpa ditarik oleh Bapak. Hidup yang kekal bukanlah sesuatu yang dapat diperoleh dengan usaha manusia semata, tetapi merupakan anugerah dari Allah bagi mereka yang percaya kepada Kristus. Yesus menyebut diri-Nya sebagai Roti Hidup yang turun dari surga. Ia membandingkan diri-Nya dengan manna yang diberikan kepada nenek moyang Israel di padang gurun, makanan yang hanya memberi kehidupan sementara. Sebaliknya, siapa pun yang makan dari roti yang Yesus berikan, yaitu menerima-Nya dengan iman, akan hidup selama-lamanya. Oleh karena itu, bacaan Injil hari ini, mengajak kita untuk merenungkan: Apakah kita benar-benar percaya kepada Yesus sebagai sumber kehidupan kekal? Apakah kita membuka hati dan pikiran untuk menerima pengajaran-Nya dan hidup dalam persekutuan dengan-Nya? Ingatlah, bahwa hidup kekal bukan sekadar janji masa depan, tetapi juga pengalaman nyata bagi mereka yang hidup dalam iman kepada Kristus. Maka dari itu, Yesus menjelaskan dua syarat utama untuk memperoleh hidup yang kekal: Pertama Ditarik oleh Kasih Karunia Bapa :
manusia tidak bisa datang kepada Yesus dengan kekuatannya sendiri, melainkan inisiatif dimulai dari Bapak yang menarik hati kita kepada-Nya, melalui karya Roh Kudus. Ini menunjukkan bahwa keselamatan adalah anugerah, dan bukan hasil usaha kita (Efesus 2:8–9). Kedua Percaya dan Menerima Yesus sebagai Roti Hidup: Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Roti Hidup. Jadi, syarat kedua adalah iman: percaya bahwa Dialah yang turun dari surga untuk memberi hidup kekal melalui pengorbanan-Nya. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, mengacu pada penyertaan penuh dalam Kristus, baik melalui firman maupun perjamuan kudus.
Renungkan:
Hidup kekal bukanlah hanya upah dari perbuatan baik, melainkan juga hubungan pribadi dengan Yesus, Sang Sumber Hidup. Maka, pertanyaannya, adalah apakah kita sudah merespons undangan Bapak dengan percaya dan bersandar pada-Nya setiap hari?
Marilah kita semakin mendekat diri kepada-Nya, menerima-Nya sebagai Roti Hidup, dan membiarkan firman-Nya mengubah hidup kita. Akhirnya, semoga renungan ini membawa berkat dan semakin memperdalam iman kita. Mudah-mudahan.






