Jangan Bersumpah Palsu

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

 

DAMAI BAGIMU, para saudaraku ytk. Adakah para saudaraku dalam keadaan damai, sehat dan bahagia? Saya berharap demikian.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 5: 33 – 37, yakni Yesus dan hukum Taurat. Bacaan Injil hari ini merupakan kelanjutan dari perikop Injil hari kemarin. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajak para pendengarnya untuk melampaui pemahaman harfiah tentang hukum. Bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita sering tergoda untuk memperkuat perkataan kita dengan SUMPAH, terutama saat ingin meyakinkan orang lain. Namun, Yesus mengingatkan bahwa integritas seorang pengikut-Nya tidak perlu dibungkus dengan SUMPAH atau JANJI yang muluk. Ketika kita terbiasa berkata JUJUR dan menepati perkataan, orang lain akan mengenal kita sebagai pribadi yang dapat dipercaya. SUMPAH palsu atau berlebihan justru menunjukkan keraguan akan kebenaran diri sendiri dan membuka celah bagi tipu daya. Yesus mengajarkan: *Jika ya, katakanlah ya; jika tidak, katakanlah tidak.* Kalimat sederhana ini adalah fondasi hidup yang tulus. Integritas adalah kesaksian iman kita, bahwa kita menghidupi kebenaran Firman Tuhan dalam perkataan dan perbuatan. Jadi, ingatlah bahwa Yesus memanggil kita kepada suatu integritas yang mendalam: supaya perkataan kita cukup dipercaya tanpa perlu ditambahkan sumpah-sumpah besar. Sebab, banyak kali di dunia yang dipenuhi dengan janji-janji kosong dan kata-kata hampa, kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang perkataannya murni, jujur, sederhana, dan benar. Ucapan yang kita ucapkan haruslah lahir dari hati yang tulus menjadi kesaksian akan terang Kristus yang hidup di dalam kita.

*Pertanyaan Refleksi:*

Apakah perkataanku hari ini mencerminkan kejujuran dan kesederhanaan seperti yang Yesus ajarkan? Atau aku masih bersandar pada *sumpah* untuk dianggap kredibel?

*Selamat berefleksi… dan selamat berakhir pekan.