Rumah Tangga Yang Terpecah-Pecah Pasti Runtuh

Fr. M. Yohanes Berchmans, Bhk - Ka SMPK

♦Renungan oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

 

 

SALVE bagimu para saudaraku ytk.dalam Kristus Tuhan. Adakah tubuh rohani kita menjadi istana cinta Tuhan? Jika tubuh yang adalah rumah rohani kita tidak bisa menjadi istana cinta Tuhan, maka siap-siap runtuh atau tercerai beraikan. Yang mencerai beraikan adalah iblis atau setan. Oleh karena itu, peliharalah Roh Kudus dan bukan roh jahat.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 11: 15 – 26, yakni Yesus dan Beelzebul serta kembalinya roh jahat. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa “setiap kerajaan yang terpecah-pecah akan binasa, dan rumah tangga yang terpecah-pecah pasti runtuh.” Sabda ini bukan hanya tentang komunitas atau rumah lahiriah, tetapi juga tentang tubuh rohani kita sebagai bait Roh Kudus.
Rasul Paulus, menulis bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus (1 Korintus 6:19). Maka, rumah tangga yang runtuh adalah gambaran jiwa yang kehilangan kesatuan dengan Tuhan. Demikian lah perceraian dalam rumah tangga, karena Tuhan yang adalah Sang sumber cinta tidak ada lagi di hati pasangan suami istri. Atau ketika Roh Kudus tidak berdiam dalam pasangan suami istri diri, sehingga jiwa menjadi gersang, atau mengalami padang gurun atau desolasi, dan hal ini terbuka bagi kuasa roh jahat. Akibatnya, orang cepat marah, emosional, mudah curiga, sulit memaafkan. Itulah jiwa yang terpecah-pecah, yang digoncangkan oleh roh jahat, yang tidak mampu berdiri teguh, dan akhirnya runtuh dalam kehampaan dan penderitaan.Yesus bersabda, “Barangsiapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku; dan barangsiapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” Ini adalah panggilan untuk senantiasa bersatu dengan Tuhan, membiarkan Roh Kudus mempersatukan setiap bagian jiwa kita yang retak, agar kita tidak menjadi rumah yang kosong dan mudah dimasuki oleh roh-roh jahat.

Pertanyaan refleksi:

1. Apakah aku sungguh menyadari bahwa tubuh rohaniku adalah bait Roh Kudus? Bagaimana aku menjaga kesatuan jiwa agar tidak menjadi rumah yang kosong dan terpecah?
2. Di saat aku merasa gersang atau jauh dari Tuhan, ke mana aku mencari penghiburan dan kekuatan? Apakah aku membuka ruang bagi Roh Kudus atau justru membiarkan roh jahat mengambil tempat?
3. Sudahkah aku sungguh berkumpul dan bersatu bersama Tuhan dalam hidup sehari-hari? Apa langkah konkret yang bisa aku ambil hari ini untuk memperkuat persekutuan dengan-Nya?

Selamat berefleksi.