Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
Terinspirasi dari Injil Lukas 16: 9 – 15, yakni perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur dan setia dalam perkara yang kecil, Nasihat. Setiap manusia siapapun dia pasti ingin menjadi kaya secara materi. Tetapi, harus diingat jangan lupa juga untuk mengejar kekayaan surgawi. Setidaknya kita harus seimbangkan antara mengejar kekayaan duniawi dan kekayaan surgawi.
SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengajarkan tentang “mamon yang tidak jujur”, sebuah metafora yang menggambarkan kekayaan duniawi yang bersifat sementara, mudah hilang, dan sering kali terikat pada sistem dunia yang penuh ketidakadilan. Mamon bukanlah sesuatu yang harus dikejar dengan membabi buta, melainkan harus diperlakukan dengan bijaksana sebagai sarana, bukan tujuan.
Yesus tidak melarang kita memiliki harta kekayaan, tetapi Ia memperingatkan agar kita tidak mempercayainya sebagai sumber keselamatan. Sebab, seperti yang tertulis dalam 1 Timotius 6:10, “akar segala kejahatan ialah cinta uang.” Uang itu sendiri netral, tetapi ketika HATI kita terpikat olehnya, kita bisa kehilangan arah rohani.
Kekayaan tidak bisa menyelamatkan jiwa kita. Dan yang perlu dipahami bahwa kekayaan itu, tidak hanya berupa materi, tetapi jabatan, gelar, posisi, status, kecantikan, ketampanan, waktu, kesehatan adalah juga bentuk kekayaan yang sifatnya sementara. Untuk itu, tidak perlu kita mengagung-agungkan nya, melainkan yang kita agung-agungkan adalah Tuhan. Namun, untuk hal yang sifatnya sementara jika digunakan dengan bijak untuk kesejahteraan diri, keluarga, dan sesama, maka mamon bisa menjadi alat yang menuntun kita kepada nilai-nilai kekal. Yesus berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6:33). Maka, mari kita setia beriman kepada Tuhan, bukan kepada mamon. Gunakanlah segala yang kita miliki sebagai persembahan hidup yang memuliakan-Nya. Sebab hanya Tuhan yang mampu menyelamatkan jiwa kita dan memberikan harta yang tidak akan pernah binasa.
*Pertanyaan Refleksi:*
1. Apakah selama ini aku lebih mengandalkan harta duniawi daripada mempercayai Tuhan sebagai sumber hidupku?
2. Bagaimana aku bisa menggunakan mamon (uang, harta) secara bijak untuk kebaikan diri, keluarga, dan sesama?
3. Sudahkah aku sungguh mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya dalam setiap keputusan finansialku?
Selamat berefleksi…& Selamat berakhir pekan.




