Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda telah mengawali hari baru ini dengan doa dan ucapan syukur kepada Tuhan Sang sumber hidup? Ingat, Dia selalu mencari Anda dan saya, yang telah menerima banyak berkat dan anugerah hidup serta hari yang baru. Pada hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Yosafat, Uskup dan Martir.
Dan renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 17: 11 – 19, yakni kesepuluh orang kusta. Dalam bacaan Injil hari ini, dikisahkan sepuluh orang kusta berseru kepada Yesus, memohon belas kasihan. Dan belas kasihan itu diberikan: mereka semua disembuhkan. Namun, hanya satu orang, yakni seorang Samaria yang kembali, sambil memuliakan Allah, lalu tersungkur di depan kaki dan mengucap syukur kepada-Nya. Maka Yesus bertanya, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu?” Pertanyaan Yesus bukan karena Ia tidak tahu. Ia tahu mereka semua telah sembuh. Tetapi Ia juga tahu siapa yang memilih untuk kembali dan bersyukur.
Bagaimana dengan kita?
Bukankah kita pun telah menerima begitu banyak berkat dan anugerah dari Tuhan, entah itu nafas hidup, kesehatan, kesembuhan, pekerjaan, keluarga yang harmonis, pendidikan yang baik, bahkan kecukupan sandang, papan dan pangan? Namun, apakah kita kembali kepada-Nya dengan HATI yang bersyukur? Ataukah kita sibuk menikmati berkat dan anugerah, tetapi lupa kepada Sang Pemberi? Yesus masih bertanya hari ini: “Di manakah sembilan orang yang lainnya?”
Pertanyaan itu menggema bukan untuk menghakimi, tetapi untuk mengundang kita kembali. Untuk mengingat bahwa SYUKUR bukan sekadar kata, melainkan sikap HATI yang mengenali KASIH Tuhan dan memilih untuk datang kepada-Nya. Ingatlah, Tuhan tahu dan melihat kita, bahkan dari tempat yang tersembunyi. Ia menanti kita untuk bersyukur kepada-Nya.
Pertanyaan Refleksi:
1. Apakah saya termasuk orang yang kembali kepada Tuhan untuk mengucap syukur atas KASIH dan pemulihan-Nya, atau justru sering lupa setelah menerima berkat?
2. Dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana saya menunjukkan rasa terima KASIH kepada Tuhan dan sesama atas kebaikan yang saya terima?
3. Apa yang menghalangi saya untuk kembali kepada Tuhan dengan HATI yang penuh syukur, seperti orang Samaria itu?
Selamat berefleksi




