Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
SALVE bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Tidak ada yang abadi di bawah kolong langit, semuanya akan berlalu. Namun Sabda Tuhan takkan berlalu.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 21: 29 – 33, yakni kedatangan Anak Manusia, perumpamaan tentang pohon ara. Bahwa hidup di dunia ini serba cepat dan penuh perubahan. Apa yang hari ini kita anggap kuat dan stabil, besok bisa saja runtuh. Apa yang kita andalkan saat ini, suatu saat bisa meninggalkan kita. Dalam keadaan seperti ini, di manakah kita dapat menemukan fondasi yang tak tergoyahkan? Yesus, dalam pengajaran-Nya tentang akhir zaman, memberikan kita sebuah kebenaran yang menghibur dan menguatkan. Dia mengontraskan dua realitas yang sangat berbeda. Pertama realitas yang fana dan sementara. Yesus berkata, “Langit dan bumi akan berlalu…” Bayangkan, segala sesuatu yang kita lihat sebagai permanen—gunung yang kokoh, samudera yang luas, bahkan langit di atas kita suatu hari nanti akan berakhir. Apalagi hal-hal dalam hidup kita: kekayaan bisa habis, kesehatan bisa menurun, hubungan bisa retak, dan popularitas bisa pudar. Semuanya bersifat sementara. Semuanya akan berlalu
Namun, ada realitas kedua yang kekal dan tak tergoyahkan. Yesus melanjutkan, “…tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” Inilah fondasi iman kita! Firman Tuhan, janji-janji-Nya, dan kebenaran-Nya adalah satu-satunya yang mutlak kekal. Itu tidak berubah oleh waktu, tidak lekang oleh keadaan, dan tidak dapat digagalkan oleh apa pun juga. Lalu, apa implikasi bagi hidup kita sehari-hari?
Pertama Jangan Bangun Rumah di atas Pasir. Jika kita mendasarkan hidup, kebahagiaan, dan jati diri kita pada hal-hal yang fana (karir, harta, jabatan, penampilan), kita akan hidup dalam kecemasan karena suatu hari itu semua akan “berlalu”. Hidup kita akan mudah goncang. Kedua Bangunlah Hidup di atas Batu Karang yang Kekal. Fondasi hidup kita haruslah Firman Tuhan yang tidak berubah. Ketika badai masalah datang, janji Tuhanlah yang akan menopang kita. Ketika kita bingung, kebenaran-Nyalah yang menjadi pemandu. Ketika dunia berkata “kamu gagal”, Firman-Nya yang berkata “kasih-Ku bagimu kekal” (Yeremia 31:3) yang harus kita pegang. Dan perumpamaan pohon ara mengajak kita untuk bijak. Kita diajak untuk “melihat tunas” dan memahami bahwa segala peristiwa dunia, sekalipun yang menakutkan, adalah pengingat bahwa kita sedang berjalan menuju penggenapan janji-Nya yang kekal, yakni Kerajaan Allah. Akhirnya, mari kita berefleksi Di manakah saat ini saya meletakkan kepercayaan dan pengharapan saya? Apakah pada hal-hal yang suatu hari “akan berlalu”, fana, atau pada Firman Tuhan yang “tetap untuk selama-lamanya”, kekal?
Doa Singkat
Tuhan Yesus, ajarilah kami untuk tidak melekat pada hal-hal yang fana, tetapi berakar pada Firman-Mu yang kekal. Biarlah hidup kami selalu dituntun oleh Sabda-Mu yang memberi terang sepanjang masa. Amin.




