Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda Mampu melihat kuasa Tuhan dibalik berbagai peristiwa atau mukjizat dalam hidup?
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Markus 8: 14 – 21, yakni tentang ragi orang Farisi dan ragi Herodes. Dalam bacaan Injil hari ini, sebuah perahu di Danau Galilea melaju tenang, tetapi HATI para murid gelisah. Yesus baru saja berkata, “Berjaga-jagalah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.” Namun mereka sibuk memikirkan roti yang tidak ada. Pikiran mereka tersandera oleh kekhawatiran kecil, padahal Yesus sedang berbicara tentang hal yang jauh lebih besar.
Yesus pun mengingatkan mereka: bukankah mereka sendiri telah melihat lima roti memberi makan lima ribu orang, dan tujuh roti mencukupi empat ribu orang? Bukankah mereka mengumpulkan bakul-bakul sisa? Mukjizat itu bukan sekadar soal roti, melainkan tanda pemeliharaan Allah yang tak pernah gagal. Namun HATI yang degil membuat mereka gagal melihat pesan di balik mukjizat. Kita pun sering begitu. Sibuk dengan “roti” yang tidak ada, kekhawatiran akan masa depan, ketakutan akan kekurangan, hingga lupa pada jejak-jejak mukjizat yang sudah Tuhan nyatakan dalam hidup kita. Padahal, setiap jalan keluar tak terduga, setiap doa yang dijawab, setiap kekuatan yang muncul di saat kita hampir menyerah, semuanya adalah mukjizat. Yesus tidak menyerah pada murid-murid-Nya, dan Ia pun tidak menyerah pada kita. Ia sabar menumbuhkan iman kita, mengingatkan bahwa mukjizat bukan sekadar peristiwa spektakuler, melainkan tanda KASIH dan pemeliharaan-Nya. Iman sejati tidak bergantung pada mukjizat baru setiap hari, melainkan pada ingatan akan karya Allah yang sudah nyata. Dan lebih dari itu, kita dipanggil bukan hanya melihat mukjizat, tetapi menjadi mukjizat bagi sesama, melalui KASIH, pengampunan, dan keteguhan IMAN yang memancarkan kehadiran Kristus.
Pesan renungan Untuk Kita
Mukjizat terbesar bukanlah roti yang berlipat ganda, melainkan HATI yang percaya penuh kepada Tuhan. Ketika iman itu nyata dalam tindakan KASIH, kita sendiri menjadi tanda kehadiran-Nya di dunia.
Jangan hanya mencari mukjizat, jadilah mukjizat itu sendiri. Ingat, jangan tanyakan pada Yesus, tanda apa yang akan Dia berikan padamu. Tetapi tanyakan pada dirimu sendiri, tanda apa yang akan kamu berikan kepada Yesus sebagai murid-Nya. Akhirnya, jadilah ALTER Yesus, Yesus bagi sesama.
Pertanyaan refleksi
1. Apakah aku lebih sering sibuk dengan “roti yang tidak ada” (kekhawatiran kecil) daripada mengingat kuasa Tuhan yang sudah nyata dalam hidupku?
2. Mukjizat apa yang pernah Tuhan lakukan dalam perjalanan hidupku, dan apakah aku mampu melihat pesan rohani di baliknya?
3. Bagaimana aku dapat menjadi “mukjizat” bagi orang lain—mewujudkan kasih Kristus melalui sikap, perkataan, dan tindakan sehari-hari?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, ampunilah kami yang sering sibuk dengan kekhawatiran kecil, hingga lupa pada kuasa dan kasih-Mu yang sudah nyata. Ajarilah kami untuk melihat pesan di balik setiap mukjizat, dan menumbuhkan iman yang teguh meski keadaan tampak sulit. Jadikan kami bukan hanya penerima mukjizat, tetapi juga saluran KASIH-Mu, agar hidup kami menjadi tanda kehadiran-Mu bagi sesama. Amin.





