Dari Meja Altar ke Meja Damai

Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK

 

 

DAMAI SEJAHTERA bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Apakah Anda seorang yang mudah memaafkan dan suka berdamai atau orang sulit memaafkan dan suka mendendam? Jika Anda mudah memaafkan berarti Anda adalah orang yang rendah hati, dan jika Anda sulit memaafkan itu tandanya Anda orang yang sombong.

Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 5: 20 – 26, yakni Yesus dan hukum Taurat. Para saudaraku, ada dua meja yang Tuhan letakkan dalam hidup kita, yakni Pertama meja Altar adalah tempat kita datang dengan doa, pujian, ibadah dan ekaristi. Di sini kita merasa dekat dengan Surga, seolah Tuhan tersenyum melihat persembahan kita. Namun Yesus mengingatkan kita: sebelum mempersembahkan kurban di altar ada juga yang Kedua meja Damai yang harus dibereskan. Meja sederhana tempat kita duduk bersama saudara, keluarga, rekan kerja, bahkan mereka yang pernah melukai kita. Tanpa damai di meja ini, ibadah di meja altar bisa kehilangan makna. Yesus berkata: “Jika engkau mempersembahkan persembahan di atas mezbah, lalu teringat bahwa saudaramu menyimpan sesuatu terhadapmu, tinggalkanlah persembahanmu. Pergilah berdamai dahulu, baru kembali dan persembahkanlah persembahanmu.” Apa
makna dalam hidup nyata? Pertama Meja Altar: melambangkan hubungan kita dengan Tuhan. Doa, ibadah, ekaristi, semuanya adalah wujud KASIH kita kepada-Nya. Sedangkan, Kedua Meja Damai: melambangkan hubungan kita dengan sesama. Memaafkan, meminta maaf, dan membangun kembali relasi adalah bagian dari ibadah sejati. Tanpa damai dengan sesama, doa bisa jadi sekadar ritual. Tuhan tidak mencari kurban dari tangan yang masih menggenggam amarah, dendam, kebencian, melainkan dari HATI yang sudah berdamai.

Pesan Untuk Kita:

Jangan biarkan luka yang belum diampuni menjadi duri dalam persembahanmu. Meja altar menunggu, tetapi jalan menuju meja damai tak boleh dilewatkan. Berdamailah hari ini, teleponlah orang yang perlu kamu hubungi, ketuklah pintu yang perlu kamu datangi. Maka esok, saat kamu kembali ke meja altar, Tuhan bukan hanya menerima persembahanmu, tetapi juga tersenyum melihat hatimu yang pulang membawa damai.
Sebab Kerajaan Surga bukan hanya milik mereka yang rajin berdoa, beribadat dan berekaristi, melainkan milik mereka yang juga rajin mengampuni.

Pertanyaan refleksi

1. Siapa orang yang perlu aku hampiri untuk berdamai sebelum aku kembali berlutut di meja altar?
2. Apakah ibadahku selama ini sungguh lahir dari HATI yang bebas dari amarah dan dendam, atau hanya ritual tanpa damai?
3. Bagaimana aku bisa menjadikan meja makan, ruang kerja, atau pertemuan keluarga sebagai “meja damai” yang nyata dalam kehidupan sehari-hari?

Selamat berefleksi🙏🙏

Doa Singkat

Tuhan, lembutkan hatiku untuk berdamai dengan sesama, agar setiap doa dan persembahanku di meja altar lahir dari HATI yang penuh KASIH dan pengampunan. Amin.