Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Kita semua, Anda dan saya sering kali mencari wajah Tuhan. Dalam keseharian, kita mungkin hanya melihat Dia sebagai Guru, Nabi, atau Sahabat. Namun di atas gunung itu, terjadi sesuatu yang spektakuler, yakni terjadinya transfigurasi wajah Yesus “tersembunyi” di balik rupa manusia biasa (inkarnasi). Petrus, Yakobus, dan Yohanes sudah lama bersama-Nya, namun belum pernah melihat-Nya seperti ini, apalagi kita. Pada hari ini kita memasuki hari Minggu Prapaskah II.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Matius 17: 1 – 9, yakni Yesus dimuliakan di atas gunung. Para saudaraku yang terkasih, di puncak Gunung Tabor, Yesus menyingkapkan kemuliaan-Nya. Wajah-Nya bercahaya seperti matahari, pakaian-Nya berkilau putih, dan Musa serta Elia hadir sebagai saksi bahwa Dialah Mesias yang dinantikan. Lalu suara Bapa bergema: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Petrus ingin mendirikan kemah, seolah ingin tinggal selamanya di puncak pengalaman rohani itu. Namun Yesus mengajak mereka turun. Sebab kemuliaan sejati bukan di Tabor, melainkan di Kalvari. Bukan di puncak gunung yang indah, tetapi di salib yang kelabu. Pengalaman rohani bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk kembali ke dunia nyata tempat orang sakit menanti kesembuhan, orang berdosa menanti pengampunan, dan dunia menanti KASIH yang memulihkan.
Makna bagi Kita
Transfigurasi terjadi saat Yesus berdoa. Doa membuka tabir kemuliaan. Demikian juga kita: wajah kita akan memancarkan DAMAI dan KASIH bila kita setia berjumpa dengan Bapa. Namun doa bukan pelarian dari hidup, melainkan kekuatan untuk kembali ke lembah kehidupan. Terang yang kita terima harus menjadi terang bagi sesama. Yesus menolak “kemah nyaman” Petrus. Ia mengajak turun. Artinya, iman sejati tidak berhenti pada pengalaman rohani yang indah, tetapi diwujudkan dalam pelayanan nyata. Doa harus menjelma menjadi KASIH, TERANG harus menjelma menjadi TINDAKAN atau AKSI nyata.
Pesan Untuk Kita
Para saudaraku, barangkali Anda pernah merasakan momen indah bersama Tuhan saat retret, rekoleksi, lectio Divina, ibadah, ekaristi, atau saat teduh pribadi. Itu anugerah, syukuri. Tetapi jangan berhenti di sana. Tuhan memanggil kita untuk turun, membawa TERANG atau CAHAYA Tuhan itu, ke dunia yang gelap. Kemuliaan sejati bukan ketika kita berdiam di puncak gunung, melainkan ketika kita menjadi terang bagi orang lain di lembah kehidupan. Bangunlah, jangan takut. Turunlah bersama Yesus. Dan percayalah, ketika kita setia melayani, kelak kita akan dimuliakan bersama Dia dalam rumah Bapa yang kekal.
Amin.
Pertanyaan refleksi
1. Apakah doa saya selama ini hanya menjadi pelarian dari kenyataan, atau sungguh menjadi kekuatan untuk kembali ke lembah kehidupan dan melayani sesama?
2. Dalam hal apa saya masih cenderung ingin “mendirikan kemah” di zona nyaman rohani, dan bagaimana Yesus mengajak saya untuk turun dan mewujudkan kasih-Nya secara nyata?
3. Terang apa yang sudah saya terima dari Tuhan, dan bagaimana saya dapat membagikannya agar orang lain merasakan damai serta kasih-Nya melalui hidup saya?
Selamat berefleksi…& Selamat berhari Minggu
Doa Singkat
Tuhan Yesus, Terima kasih atas terang kemuliaan-Mu yang meneguhkan iman kami. Ajarilah kami untuk tidak hanya mencari kenyamanan di puncak pengalaman rohani, tetapi berani turun ke lembah kehidupan, membawa KASIH dan terang-Mu bagi sesama. Jadikan doa kami sumber kekuatan untuk melayani, dan hidup kami cermin dari wajah-Mu yang penuh damai. Amin.





