Oleh: Fr. M. Yohanes Berchmans, BHK
DAMAI SEJAHTERA, bagimu para saudaraku ytk. dalam Kristus Tuhan. Hukum tabur tuai menyadarkan dan mengingatkan kita, bahwa dalam hidup kita apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai atau petik. Kalau kita menanam kebaikan kepada sesama, maka kita akan menuai kebaikan dan sebaliknya, kalau kita menanam kejahatan,maka kita akan menuai kejahatan.
Renungan hari ini terinspirasi dari Injil Lukas 6: 36 – 38, yakni kasihilah musuhmi dan hal menghakimi. Para saudaraku ytk. Pernahkah kita memperhatikan seorang petani? Ia menabur benih dengan penuh harapan, lalu menanti dengan sabar hingga tiba musim panen. Demikianlah hukum tabur tuai. Namun Yesus mengajak kita melihat hukum ini lebih dalam: bukan sekadar benih jagung atau padi, melainkan benih KASIH.
Dalam Lukas 6:36-38, Yesus berkata: “Hendaklah kamu murah HATI, sama seperti Bapamu adalah murah HATI.” Bapa di Surga memberi tanpa syarat, matahari dan hujan-Nya turun bagi semua orang. Itulah teladan kemurahan HATI sejati. Yesus menegaskan: jangan menghakimi, jangan menghukum, ampunilah, dan berilah. Saat kita menabur pengampunan, HATI kita menjadi lapang untuk menerima KASIH karunia. Saat kita memberi, Tuhan menjanjikan BERKAT berlimpah, takaran yang dipadatkan, digoncang, bahkan meluber. Tetapi ukuran yang kita pakai akan kembali kepada kita. Demikianlah hukum KASIH ini bukanlah perintah terpisah, melainkan satu siklus Ilahi: kita diampuni, lalu mengampuni; lalu kita memberi; dan kita diberi, lalu menerima BERKAT.
Pesan Untuk Kita
Saudaraku, ytk. jangan takut untuk mengampuni dan memberi. Ingatlah sabda Yesus: “Dari pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik.” Hidup kita ibarat pohon yang harus dirawat: tanahnya digembur, dipupuk, dan disiangi dari rumput liar. Semua itu terjadi ketika kita menjalin relasi yang intim dengan Tuhan Sang Pemilik Kehidupan. Menabur kebaikan akan menuai kebaikan, menabur keburukan akan menuai keburukan. Tetapi lebih dari itu, hanya HATI yang sehat, yang terus dipelihara dalam KASIH Tuhan yang akan menghasilkan buah yang BAIK dan BERLIMPAH.
Selamat menabur KASIH, selamat menuai BERKAT.
Pertanyaan Refleksi
1. Benih apa yang sedang saya tabur dalam hidup sehari-hari? Apakah itu benih KASIH, PENGAMPUNAN, dan KEMURAHAN HATI, atau justru benih PENGHAKIMAN dan KEBENCIAN?
2. Ukuran apa yang saya pakai dalam memberi dan mengampuni? Apakah saya memberi dengan HATI besar seperti teladan Bapa, atau masih penuh perhitungan dan setengah HATI?
3. Bagaimana saya merawat “pohon HATI” saya, agar menghasilkan buah yang BAIK? Apakah saya sudah menggemburkan tanah, memupuk, dan menyiangi rumput liar dengan cara menjalin relasi yang intim dengan Tuhan Sang Pemilik Kehidupan?
Selamat berefleksi🙏🙏
Doa Singkat
Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu yang mengingatkan kami tentang hukum tabur tuai dalam KASIH. Ajarlah kami untuk menabur pengampunan, kemurahan HATI, dan KEBAIKAN dengan sukacita. Tolonglah kami merawat HATI kami seperti pohon yang baik: digembur, dipupuk, dan disiangi dari rumput liar melalui relasi yang intim dengan-Mu. Kiranya hidup kami menghasilkan buah yang BAIK dan BERLIMPAH, demi kemuliaan nama-Mu. Amin.





